Sabtu, 26 Juni 2010

PUISI NOFA MAYA SARI

1.
BUNDA

Kasih sayang mu mengalahkan dalamnya samudra
Cinta kasihmu mengalahkan tingginya langit diangkasa
Perjuanganmu sungguh tiada tara
Yang tak busa mengalahkan semuanya
Aku…
Anakmu yang tak bisa berbuat apa-apa
Intuk membalas semuanya
Kini..
Dihari tuamu aku berjanji
Akan selalu menemani
Dan tak sedetipun kulalui
Tanpa engkau disisi
Biarkan kuganti keikhlasanmu
Dengan kasih sayang ku
Meski aku tahu
Tak akan bisa melebihi yang kau berikan pada ku
Selama in
Bunda
Aku akan Selalu menyayangimu…



2.
PERTANYAAN HATIKU

Janjimu semanis madu
Ucapanmu setinggi langit biru
Tapi apakah itu hanya janji palsu?
Membuatku bertanya selalu

Tuhan…
Apakah masa indah itu akan tiba?
Atau hanya fatamorgana
Apakah salah aku menantinya?
Apakah salah aku menunggunya?
Tuhan aku sangat menyayanginya
Semoga dia merasakan hal yang sama



3.
HATI YANG TERSAKITI

Ku berharap kau ada disisi
Ku ingin kau ada dihati
Tapi apa yang terjadi???
Semuanya hanya anganku semata

Janjimu dulu tinggal janji
Kau tak pernah anggap ku ada
Kau tak pernah pedulikan aku
Aku hanya patung bagi mu

Kini ku sadari
Bila kau memang bukan untuku
Anggap saja aku tak pernah ada

Tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu
Karena aku yang memilihmu



4.
MUSUHKU, CINTAKU

Keangkuhan itu
Kini berubah menjadi perhatian
Kebencian itu
Kini berubah menjadi kasih sayang

Tatapanmu membuatku sadar
Ucapanmu membuatku tahu
Bila kebencian itu
Kini berubah cinta

Tapi hati ku bimbang
Untuk membalasnya
Karena bayangan cinta mu dulu
Membayangi hidupmu

Kini aku tahu
Kau tetap menjadi musuhku
yang tak mungkin
Menjadi cintaku



5.
SAHABATKU, LUKAKU

Sahabat…
Dulu,
Semua jurang yang terjal kita lalui
Semua kerikil yang menghadang kita lewati
Bahkan,
Ilalang pun bosan melihat kebeersamaan dan keceriaan kita

Tapi kini, kau tusukan duri tajam
Di qolbu ku
Kau renggut semua kebahagiaan ku
Yang telah ku rajit sekian lama

Kini kurelakan kebahagiaan itu
Kau amanil dari hati ku
Biarlah tangsiku tak ada seorangpun tahu
Termasuk dirimu

CERPEN NOFA MAYA SARI

1.
CINTANYA CINTA

Teriknya sang surya memancarkan panasnya menembus cakrawala, angin pun seakan enggan memberikan kesejukannya dan hanya sesekali saja meniupkan nafasnya kesemua orang. Butiran-butiran airpun menyelimuti tubuhku yang sesekali kusekat dengan sapu tangan merah mudaku. Kakiku seakan berat melangkah masuk ke sekolah, karena siang ini tak seperti biasanya kegiatan belajar dimulai siang hari. Hal itu dikarenakan pagi hari nya guru-guru mengadakan rapat besar didiknas jadi kegiatan sekolah di ganti siang hari.
“Ta, kamu kenapa sih baru datang langsung manyun aja. Jelek tahu?” ucap Imel sahabatku.
“Siang ini ada dua hal yang buat aku kesel. Pertama aku males banget belajar siang-siang gini rasanya enggak semangat banget dan yang kedua gara-gara cowok nyebelin itu”.
“Kalau males, sama aja Ta… Aku dan teman-teman lain juga males banget ke sekolah siang-siang gini. Orang harusnya jam segini kita udah pulang, ini malah baru masuk. Tapi mau gimana lagi??? Kalau masalah kamu yang kedua, pasti gara-gara Yudha kan??”
“ Iya bener banget Mel, tadi aku ketemu Yudha dan dia bilang sama ku kalau mulai besok dia bakal anter jemput aku sekolah dan “gak .pake nolak”.””
“Bagus dong Ta, hitung-hitung ada ojek gratis”.
“Bagus apanya, lihat aja pasti aku gak akan bisa kemana-mana karena sifat dia yang sok ngatur. Pacar juga bukan”.
“Kalian berdua tuh ya, kenapa sih gak jadian aja. Malu-malu terus”.
“Amit-amit pacaran sama orang nyebelin kayak dia,. Udah dech males ngomongin dia. Mending aku keruang osis sekarang”. Berlari meninggalkan Imel…

Aku dan Yudha memang cukup dekat, sampai-sampai orang mikir kalau kami pacaran. Sebenarnya kami tak pernah akur, karena pasti ada aja yang diributin. Tapi aku senang karena aku bisa dekat dengan Yudha. Dibalik sifat nyebelinnya banyak banget sisi baik dan perhatiannya padaku. Sampai akhirnya aku merasakan perasaan yang tak aku mengerti .Aku selalu senang di dekatnya dan dia selalu memberi perhatian yang membuatku bahagia, meskipun tak seperti lelaki yang lain. Dan dari kata-katanya yang ketus tapi tersimpan perhatian yang dia berikan. Apa aku jatuh cinta padanya???
Hari ni aku berharap Yudha kasih aku semangat, karena hari ini adalah hari terpenting bagi ku. Hari ini ada lomba karya ilmiah tingkat Jakarta yang akan aku ikuti. Aku tak tahu kenapa aku sangat berharap dukungan darinya. Tapi kulihat disekelilingku tak kudapati sosok orang yang menyebalkan itu.
“Cinta,, hari ini semua tugas OSIS biar aku yang ngerjain dan kamu gak usah pikirin semua. Serahkan semuanya padaku”.
“Tenang aja Mel, aku percaya semua tugas pasti bisa kamu kerjakan dengan baik. Mangkanya aku yakin pilih kamu wakil ketua OSIS.”
“Makacih Ta, kamu harus semangat ya dan kita semua do’ain semoga kamu menang.. S.E..M..A..N..G..A..T..”ya udah aku ke toilet dulu yach??” berjalan meninggalkan Aku.
Aku benar-benarmengaharpakan Yudha yang beri aku semangat. Tapi sampai aku berangkat untuk tanding, dia tak memperlihatkan batang hidungnya. “Ya sudahlah dia memang tak memang tak memikirkan aku.. Tapi membayangkan mukanya saja aku sudah cukup senag koq” Ucap ku dalam hati.
Aku tak menyangka kemenangan yang selama 2 Tahun berturut-turut aku menangi harus jatuh ketangan orang lain, Tapi aku cukup senang, karena aku masih bisa mewakili sekolah ku untuk lomba tingkat nasional. Hal itu dikarenakan karena skor ku berbeda tipis dengan lawan ku yang menag. Selain itu aku tak menyangka ternyata orang yang nyebelin itu masih perhatian pada ku. Dia mengirimkan secarik kertas dalam tasku.

Cinta,,aku yakin kamu bisa menang.
Sebut saja namaku pasti kamu bisa semangat..

Yudha..

Walau sedikit narsis, tapi aku sabgat senag kalau dia sudah perhatian padaku.
“Cinta….. pulang bareng aku aja yuk, soalnya aku pulang sendirian nih”.
“Eh pipit, gak usah dech entar ngeropotin lagi”.
“yach enggaklah Ta, yuk naik”.
Begitu banyak yang kau dapatkan saat lomba ini, selain ilmu tapi aku juga menemukan teman baru, dialah “pipit”. Pipit yang memenangkan lomba itu yang telah dia rebut dari tanganku, tapi aku tak kebertan karena dia orang yang sangat pintar dan dia memang pantas mendapatkannya. Aku dan pipit cerita banyak tentang sekolah kamimasing-masing dan salah satunya dia mengenal Yuda. Aku tak menyangka Yudha cukup terkenal dan bukan hanya di sekolah ku saja, tetapi dia juga terkenal di luar. Mungkin karena jabatannya menjadi kapten basket di sekolahku.
Setelah pertemuan itu, aku dan pipit semakin akrab kami jalan , makan dan pergi jalan-jalan bersama. Sampai akhirnya aku memperkenalkan Pipit dngan sahabat-sahabatku. Dan kebetulan Imel dan Ririn sedang bermain tempat Sarah, sebenarnya sarah dan Imel musuh bebuyutan Imel karena Sarah menyukai Tomi pacar Imel. Tapi karena tugas OSIS terpaksa bersama. Dan tak ketinggalan aku juga memperkenalkan Yudha pada Pipit.
Tapi aku tak menyangka ternyata kedekatan ku dan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak meyangka ternyata pertemanan ku dengan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak sengaja mendengar obrolan Sarah dan Pipit.
“Ngapain Pit kamu balik lagi kehidup kami?”
“Kok kamu bilang gitu sih Sar?”
“Bukannya kamu senang di Jerman? Terus ngapain kamu nalik ke Indonesia?”
“Sar, aku kan kangen sama kalian, kit kan masih temanan?”
“iya dulu nkita memang temanan tapi sebelum kamu nyaklitin hati teman ku yaitu “Yudha” kenapa kamu putusin dia dan lebih milih pergi ke Jerman atau kamu sengaja deketin Cinta untuk deket sama akau dan Yudha lagi?”
“Aku tahu Sar aku salah, aku minta maaf. Tapi aku tak ada niat buat manfaatin Cinta. Karena aku memang masih sayang banget sama Yudha”.
Nafasku seakan berhenti sejenak mendengar perkataan pipit, seakan berat bibirku untuk berkata-kata. Karena aku benar-benar tak menyangka kalu Pipitlah cinta pertama Yudha. Pantas saja tadi malam Yudha mesti gaya dan mendadak pergi meninggalkan nkamitanpa pesan. Ternyata Yudha bertemu dengan cinta pertamanya. “Ya tuhan ku mohon semoga Pipit hanya massa lalu Yudha, jangan sampai Yudha kembali lagi pada pipit karena ku tak sanggup menerima kenyataan ini semua”. Pintaku dalam hati.
Siang ini ada pertandingan basket di sekolah dan menjadi lawannya dari sekolah Pipit. Sudah pasti Yudha akan bertemu dengan Pipit.
“DUBRAKKKK…….”terdengar suara orang jatuh dan semua terkejut karena orang yang terjatuh itu tak lain kapten chealiders dari sekolah tunas bangsa. Iya dialah Pipit….Pipit terjatuh saat ngedance. Dan membuat ku terpaku bukan karena jatuhnya Pipit, tapi orang yang menggendong Pipit yang membuat hatiku sangat sakit. Yudha dengan sigapnya menggendong Pipit dan otomatis semua mata tertuju pada mereka. Tapi aku tak menyangka ternyata Yudha menoleh pada ku saat Pipit masih ada di peluknnya. Apa maksud Yudha menoleh ke arah ku, aku benar-benar tak mengerti. Tapi langkahnya tetap saja melaju mengantarkan Pipit ke ruang kesehatan. Karena rasa keingintahuan ku yang sangat besar, kaki ku melangkah ke ruang kesehatan yang sudah jelas ada Pipit dan Yudha di dalamnya.
Kaki ku seakan enggan berlari meninggalkan mereka, tapi hatiku sangat-sangat sakit saat kulihat kejadian ini. Yudha dengan sangat mesranya memeluk Pipit. Langit seakan runtuh dan kukira hari ini akan segera kiamat dan mengakhiri semesta ini. Aku benar-benar tak tahan lagi melihat kejadian ini. Dengan sekuat tenaga kakiku berlari meninggalkan tempat ini. Dan tak terasa bitiran-butiran air telah memenuhi pipiku. Tapi seakan ada lampu merah di hadapanku yang membuat kakiku mengerem cepat dan membuat langkah kakiku berhenti.
“Yudha..”Ucapku dalam hati, aku tak sempat lagi menghapus air mataku yangb telah memenuhi pipiku. Dan sudah pasti aku tak sanggup untuk memandangnya tajam.
“Cinta, kamu melihat aku dan pipit?” Aku tak bisa menjawab apa-apa dan aku hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan Yudha.
“Cinta percayalah itu tak seperti yang kau bayangkan” Kenapa Yudha menjelaskan semua ini, apa pentingnya aku baginya sehingga mengharuskan nya menjelaskan pada ku.
“Maaf tadi aku tak sengaja melihat kalian berdua”
“Ta, aku memang mencintai dan menyayangi Pipit. Tapi itu dulu Ta”.
“Yud, itu gak ada masalah kok sama aku” Aku terpaksa membohongi perasaan ku demi kebahagiaan mereka.
“Ta, pipit memang cinta pertamaku tapi kamu cinta terakhirku”
“Tapi…..”
Tadi aku bicara sesungguhnya dengan npipit tentan perasaan ku sama kamu, Ta aku tahu aku gak pernah baik sama kamu, aku selalu ketus di dpanmu. Tapi begitulah aku Ta. Aku tak punya keberanian untuk jujur pada mu dan mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya. (memegang kedua tanganku)
“Aku….aku…aku…” Terbata-bata
“Ta, aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi seseorang yang berarti dalam hidupku?’ Aku tak tahu harus berkata apa, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalau aku juga mencintainya.
“Tapi….”
“Ta, aku gak akan paksa perasaan kamu”
“Aku….aku…juga sayang dan cinta banget sama kamu Yud”
“Serius Ta, kamu ngak bihong kan?”
“Aku serius”
Sejak kejadian itu, aku dan Yudha resmi npacaran dan sudah pasti aku sangat bahagia dan senang.
“Cinta, aku ntahu selama kemarin aku pergi ke Jerman pasti Yudha menemukan wanita yang terbaik untuknya dan aku sangat senang karena wanita itu sahabatku sendiri” kata-kata Pipit membuatku bertanbah yakin juka aku akan melewati hari-hariku bersana Yudha.
“Pit, maafkan aku, aku tak bermaksud merebut Yudha dari mu”
“Sudahlah Ta, Yudha massa laluku dan akamu masa depannya. Aku gak akan pernah marah padamu, bahkan aku bersyukur kalau Yudha cinta sama orang byang tepat”.
“Makakasih ya Pit”.
“Ternyata Yudha Cinta nya CINTA ya???”



2.
PERJUANGAN DI UJUNG PENA

Di bawah teduhnya pepohonan dan semilirnya angin di sore itu., Anisa merasakan adanya kedamaian di tempat itu tempat di mana dia dihanyutkan oleh buayan-buayan dan hangatanya dekapan kedua orang yang berharga dalam hidupnya derta keceriaan bersama sahabat-sahabatnya. Kadang aku berpikir untuk apa jauh-jauh merantau ke istana orang bukankah lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang “keluh Anisa sambil memandangi langit yang tinggi setinggi cita-citanya.
Tapi demi suatu kesuksesan dan angan-anganku menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, keinginan itu kukubur dalam-dalam sedalam samudera Atlantik. Apapun akan aku lakukan bahkan berguru ke negeri Cina pun tak masalah bagi ku. Sambil tersenyum Anisa menggenggam formulir pendaftaran perguruan tinggi pilihannya.
Anisa termasuk keluarga yang berada, Ayahnya cukup terpandang di kampungnya karena keramahan dan profesinya menjadi nkepala sekolah di suatu SMA Negeri Palembang. Serta kepemimpinan Ayahnya di sekitar rumahnya. Wajar jika Anisa dan keluarganya sangat disegani di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kalau aku sudah kuliah nanti, apakah kebiasaan ku mengepang rambut dan mengendong tasw di kedua pundakku akan tetap aku lakukan seperti aku duduk di SMA dulu atau akan ku lempar sejauh-jauhnya?” keluh Anisa sambil mengerutkan dahinya.
Keinginan Anisa sudah seperti bulan yang dengan penuh memancarkan sinarnya tanpa ada awan hutan yang menutupi dan Anisa akan membuktikan keseluruh makhlik bahawa jasa seorang guru itu tak bisa di ukur dengan mistar ataupun termometer.
“Anisa, hari sudah sore, cepat pulang bukankah besok kau akan berangkat ke Jakarta?” sapa ibu yang sudah hampir ¼ abad mengisis dunia parah ini.
“Iya bu, Anisa pulang”jawab Anisa memenuhi keinginan ibunya sambil bergegas pulang dari tempatv dimana dia sering membuang kesedihannya. Besok adalah hari yang sangat berat baginya, soalnya dia akan meninggalkan keluarga, sahabat dan tempat dimana dia dibesarkan sampai dengan dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Akan cukup lama dia berada di istana orang dan lama juga dia meninggalkan istannanya kurang lebih 4 tahun.
Hari yang menentukan masa depannya pun tiba, soalnya dihari itulah da akan sejenak meninggalkan istananya dan kotanya kota yang terkenal dengan pempek kain songket dan jembatan Amperanya.
“Anisa harus bisa jaga diri ya di sana, dan jangan pernah terbuai dengan khidupan yang glamor di sana” pesan kepala rumah tangga di rumahnya.
“Iya Ayah, Anisa janji dan akan Anisa buktikan kalau Anisa akan bisa seperti Ayah yang dapat berguna bagi siapapun”.

Tanpa terasa hari pun berganti, diawal harinya di Jakarta di lalui dengan kesedihan tidak ada orang yang setia menemaninya seperti putri salju yang selalu ditemani oleh kurcaci-kurcacinya atau seperti Aladin yabng selalu ditemani dengan lampu ajaibnya. Tetapi tak terasa hari berganti waktu bergulir dan duniapun berputar. Semua rasa itu sedikit mulai hilang. Dan kehidupan di Jkarta memang sangat glamor . Mulai dari pergaulan anak metropolitan yang katanya harus gaul. Kalau kita tidak bisa mejaga diri kita pasti akan terjerumus kesumur yang paling dalam dan sulit untuk kembali ke atas apabila kita tidaj bisa berenang. Serta lingkungan yang tidak ramah, polusi dimana-mana dan yang tak kalah repotnya banjir yang dimana-mana. Semuanya karena ulanh tangan manusia yang tak sayang dengan lingkungan.
“Tetapi sudahlah, Aku harus kembali keniat pertamaku. Qku harus menjadi sarjana dan akan menyalurkan ilmu ku kepada murid-murid ku nanti, lagi pula aku cukup senang ,mempunyai teman di sini yang jauh dari hidup glamor. Bisa dibilang 11 dan 12 dariku. Niat ku disini menuntut ilmu bukan tanding fashion ataupun tanding wajah. Ingin kubuktikan pada Ayah, kalu aku isa sesabar dan setekun beliau” ujar Anisa dalam hati, sambil memandangi hasil semesterannya yang cukup baik diantara teman-temannya satu kelas.
Tanpa terasa 4 tahun pun berlalu, Anisa bangga dengan prestasi yang dia miliki di Jakarta. Di kota yang cukup asing baginya, Anisa lulusan terbaik di jurusannya dan akan mendapatkan gelar sarjana sama seperti kedua kakaknya. Bahkan Anisa tidak perlu susah payah mencari tempat menyalurkan ilmu pada siswanya soalnya dia di beri kemudahan oleh perguruan tinggi di mana tempatnya menaung selama ini. Anisa diangkat6 menjadi asistn dosen di Universitas itu. Dan seperti pepatah sambil menyelam minum air. Anisapun mendapatkan laki-laki yang sangat menyayanginya dan berniat menyuntingnya.



3.
CINTA TAK SAMPAI

Hatiku bergetar dengan kencang, kurasakan darahku mengalir dengan derasnya, entah apa yang harus kulakukan hanya menetes air mataku ketika melihatnya. Dia memeluk tubuhku dan dan disaat itu pula aku harus melepaskan dirinya untuk bersama tunangannya. Entah rasa apa yang berkecambuk di dalam hati, ingin rasanya kutahan ketika” Randi” mulai berjalan meninggalkanku.
“ Randi jangan tinggalkan aku”
“maaf Kirana” Randi terus berjalan menjauh
“Randi, jangan… aku cinta kamu..” Randi tak sedetikpun menoleh kearahku, aku hanya mempu menatap betapa jauhnya kini ia dariku.
etahub telah berlalu, namun aku masih larut dalam kesedihan, Bayang-banyanganya selalu mengahntui dalam kesendirianku. Masih ingat dalam kenangan panjang, saat pertama kali aku bertemu dengannya di acara pernikahan temanku “saskia”
Randi negitu tampan dengan lemeja putihnya, awalnya aku sama sekali tak melihat sososknya, namun setelah saskia memperkenalkan aku dan sia, Mulailah persahabatab indah diantara kami.
“Hai nama ku Randi, kamu?” begitu sapanya pada waktu itu
“Kirana”
Dia menjabat taagan ku dengan penuh kehangatan, seakan-akan melalui genggaman itu ia sampaikan isi hatinya padaku, kami habiskan waktu dengan perbincangan yang seadanya. Waktu terasa cepat sekali berlalu hingga kemi pun harus berpisah.
Aku pikir setelah perp[isahan itu akau tak akan lagi bertemu dengannya, tapi akau salah ketika kijumpai dia tetap di depan rumahku.
“kau tahu dari mana rumahku?”
“sahabatnu, saskia”
“oh…”
Tak izinkan aku masuk”
“oh ya silakan masuk”
Begitu ramah dan sopan ia berbicara padaku, kedekatan diantara kami mulai terjalin hingga hati ini mulai merasakan sesuatu yang aneh entah sejak kapan hal itu terjadi.
Hari-hariku berjalan dengan indah, aku bagai hidup dalam singgasana khayal yang memabukan setiap penghininya. Semua berjalan dengan sempurna.
Sebelum Randi mulai menjauhi hidupku, tak pernah lagi ia menemui aku. Aku terjebak dalam kebimbangan tak tahu harus beebuat apa. Hingga kutemukan ia bersama seorang wanita, dengan nudah Randi berkata padaku “aku sudah menang atas dendamli pada mu”. Aku sungguih tak mengerti maksud berkataanya, “Dendam” aku merasa tak melakukan dosa apapun kepadanya. Kata-kata membuat keadaan ku terpuruk setiap hari aku menghiasi waktuku dengan butiran kesedihan.
Awalnya aku muak mendengar namanya, namun mendengar penjelasan saskia mengertilah aku sekarang.
“Kirana denngarkan aku, ini jujur dari perkataan Randi”
“Sudahlah aku muak mendengar namanya”
“Dengar kau harus diam, Randi terpaksa melakukan ininpadamu”
“Kau dan dia dari ayah yang sama, sekalipun ibu yang berbeda, ia juga terpaksa mengalah pada nasib dan ia sangat mencintaimu kirana”
“Kau bohong”
“Tidak, aku ingatkan kamu harus lupakan dia paham?”
Aku tak berkata apa-apa hingga saskia pergi. Kini setahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Namun aku belum dapat melupakan Randi. Terbaring aku di lantai lamarku setelah ku reguk obat tidur agar aku dapat melupakannya selamanya. Dan untuk sahabatku Saskia kutinggalkan secarik pesan.

Maafkan aku Sas, aku tak mau lagi kalah dari takdir seytelah ibu dan ayahku diramapas dan kini cintakupun dirampas, aku tak mampu melip[akannya. Tapi untukmu sahabatku dengan cara pa pun kupenuhi janjiku padamu, akau akan segera melipakannua dalam tidur panjangku.



4.
SEGUMPAL KENANGAN

Diantara tingginya pohon-pohon pinus yang berdaun rucing seperti pahatan kayu yang siap mengukir semua bentuk ukiran yang beraneka ragam. Satu persatu daun-daun itu lepas dari rantingnya di bawa oleh lembutnya henbusan angin yang perlahan membawanya jatuk ke bumi. Lina, seorang gadis manis yang berlesung pipi kananya, dan didagu runcingnya terdapat tahi lalat yang bertengker di sana. Lina duduk termenung di atas akar-akar pohon pinus yang tersebar dianatara rerumputan hijau dan dikelilingi oleh daun-daun kering yang berwarba keciklatan, seakana menandakan sudah cukup lama daun-daun itu terdampar di sana.
Suasana di siang itu tidak terlalu sejuk, angin seakan enggan memberikan kesejukannya. Tetapi semuanya seakan terhapuskan dengan merdunya lantunan suara jangkrik yang seolah-olah menyihir semua orang yang mendengarnya, termasuk Lina yang seakan membawa ke masa silam. Masa dimana dia masih menjalin kasih dengan tambatan hatinya. Nayu, pria alumni fakultas kedokteran salah satu Universitas terkemuka di kota Palembang yang berhasil merebut hatinya. Bayu merupakan kakak tingkat Lina di perguruan tinggi yang sama. Mereka memadu kasih sejak SMA bak Gakih dan Ratna yang tak dapat terpisahkan dalam situasi apapun.
“Lina…tunggu..”
Jerit Bayu yang sambil berlari-lari mengejar Lina sesekali disambung suara napas Bayu yang terengah-engah, bagaikan kijang emas yang baru saja siincar oleh predatornya.
“ada apa mas Bayu?kok sepetinya EMERGENCY banget” Tanya Lina heran melihat tungakah romeo nya.
“Pulang kamu kuliah nanti kita ketemuan di tempat biasa ya, soalnya mas Bayu ada kejutan buat Lina” hujuk Bayu dengan muka yang sedikit memelas dengan tetap nerpenami;lan rapi dengan seragam mputihnya dan tak plipa stetoskop yang melingkat di lehernya.
“memangnya kejutan apa sih mas Nyu, nuat LINA PENASARAN AJA?” SAMBUNG Lina sambil mengerutkan keningnya.
“pokoknya Lina tunggu mad Bayu, ya?” jangan kemana-mana sampai mas Bayu datang menemui Lina. OK sayang!” tanpa menghiraukan orang lain di sekelilingnya, Bayu mendaratkan kecupan mesranya di kening Lina. Wajah Lina sontak berubah warna kemerajhan bak bunglon yang bisa berubak warna dimanapun tempatnya berlindung. Tanpa merasa berdosa, Bayu tersenyum dan langsung pergi menunggalkan Lina.
Detik demi detik Lina menunggu Bayu di tempat mereka berdua pertama kali bertemu dan berkomimen untuk menjalin kasih. Tapi penantian Lina berjam-jam di hutan wisata it sia-sia dan berubah pahit. Bayu pergi meninggalkan Lina intuk selamanya dan meninggalkan satu persatu kejutan yang tak sempat dia berikan kepada Lina. Hati Lina bagaikan diambil paksa oleh malaikat pencabut nyawa yang tanpa nernegosiasi dan berkompromi dulu kepada Lina, bak POL PP yang menangkap sekimpilan PSK yang sedang asyik nerjualan. Tapi kenyataan itu harus Lina telan, bila malaikat pencabut nyawa mengamnil mas Bayu dari pelikannya dan tepat di hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun.
“Lin, cari makan yuk?kaper nih” ujar Ani yang membuyarkan lamunan panjang Lina.
“kalian berdua saja, aku masih mau di sini” jawab lina lembut dengan tatapan kosong dan seolah enggan nmeninggalkan tempat duduknya seraya cinderela yang menunggu kedatangan kereta labunya.
“kau pasti ngelamunin Bayu kan?” Tanya ana yang mencoba memastikan. Sembari mengangukan kepalanya, tak sadar butiran-butiran aur jatuh dari bola mata indah Lina. Lina serasa mengingat sesuatu yang seharusnya dia lupkan.
“Lin, mengkanya kami ragu waktu kau mengajak kami ke sini. Karena pasti luka lama yang memang sulit untuk disembuhkan akan kembali menganga”. Ucap Ana pelan sambil membelai rambut halus Lina yang dibiarkan terjurai panjang, seakan menutupi kesedihannya yang bergelayut disanubari.
“udah dong sedihnya, kita pulang aja yuk?”
Kalau kita disini terus entar bisa banjir loh, entar binatang-binatang di sini mau ngungsi kemana?” ujar saudara kembar Ana yang mebcoba menghibur sahabatnya.
“iya Lin, kita pulang aja ya?aku tak sanggup nila harus melihat lau termenung dan menangis disini” bujuk Ana yang menambakan ucapan Ani.
Kini segala kebahaiaan itu luluh lantah si sapu oleh kejamnya dinia, hanya mengisahkan segumpal kenangan yang bersarang bdi hati Lina. Dan hanya di tempat itu Lina bisa merasakan dan menatap senyuman Nayu.
“Mas Nayu, sampai kapanpun Lina akan selalu sayang sama mas Bayu dan akan selalu menunggu mas Bayu di sini. Karena Lina masih menunggu kejutan yang ingin mas Bayu berikan”.
Hati Lina menagis bila harus kembali ketempat itu. Karena kenangan itu masih tetap terpetri dan terlihat jelas di mata batin Lina.



5.
TUGASMU, DERITAKU

Hari ini genap 2 bulan sudah Angga tak melayangkan kabarnya kepada ku entah apa yang ada di pikirannya, hingga selama itu dia tak ada kabar./ Begitu banyak rasa Tanya yang menggelayut si otakku. Marah, sedih dan gelisah mungkin rasa itu yang dominan bertengker di sanubariku.
“Tuhan, jika ini akhir dari hubungan kami. Kenapa kau harus pertemukan ku dengannya. Kenapa rasa sakit ini melebihi sakit yang kurasakan senelimnya?” tanyaku dalam hati. Dan tanpa sadar butiran-butiran air berjatuhan dari bola mataku dan memakdaku kembali mengingatnya.
Mungkin hanya tabngisan yang bisa membuat hati ini sedikit tenang, karena aku tak tahu kagi karus berbuat apa untuk mengembalikan kebahagiaan ku seperti dulu. “dia datang tiba-tiba dan dia pergipun tiba-tiba, apa sebenarnya hikmah dibalik ibi sema tuhan?” keluh ku untuk tak eadilan yang ku alami.
Memang awalnya aku sangat mengerti tentang profesinya sebagai pengaman Negara ini, tapi semakin rasa curigadan cemburu mengalahkan semuanya. Aku bingung apa yang harus kulakukan untuk membunuh rasa itu, karena aku tahu profesinya memang mengharuskan kami tidak bisa berkomunikasi dengan bebas. Hari demi hari, mnggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui tanpa kabarnya lagi.
Kadang aku berpikir kenapa aku harus curiga dan cemburu., karena senua orang tahu sebagai pengaman Negara begitu banyak aturan-aturan yang harus dia patuhi dan salah satunya tidak diperkenankan berkomunikasi dengan siapapun selama bertugas. Tapi begiku ini tetap tak adil, kenapa profesinya harus mengahalangi perasaan orang untuk memetik kebahagiaan dan bukankah mereka juga perlu merasakan manisnya kebersamaan dengan orang-orang dicintai.
“Nad, kita udah sampai nih ngelamun terus sih?” jeritan Ayu sontak mengejutkan dan memaksaku untuk kembali kedunia sekarang ini yang setelah kurang lebih 2 jam pikiranku melanglang buana entah kemana.
“ohhhh…. Iya…iya….tungguin aku dong!!!” jawabku linglung dan setelah kudasari semua penumpang bis jurusan Cirebon-Majalengka yang kami naiki memandangi ku bterpaku.
“ ehh kenapa sihh semua penumpang tadi lihatin aku semua?”
“ya jelaslah lihatin lho soalnya udah hampir 10 kali kita manggilin lho untuk turun tapi lhonya diem aja malah bengong kayak ayam sakit” jawab Ayu menjelaskan semuanya.
“Maunya sih gitu Vir, tapi tetep aja gak bisa dibalik kebencuianku denganya. Tetapi aku masih menyimpan keyakinan kalau suatu saat nanti dia akan datang dan menepati janjinya” jawanku yakin.
“tapi waktu itu kapan nadia tak ada kabar darinya kamu juga gak tau yang dia lakukan disana iyakan???ycapa Ayu sembari merangkul ku untuk duduk di bawah pondok kayu yang mungkin sudah lama tak berpengaruhi yang letaknya tepat dipinggir jalan dan mempernudah kami memilih tukang ojek untuk mengantarkan kami kerumah Vira.
“Jadi aku harus gimana, apa aku harus menunggunya atau aku harus melipakannya?”
“Nad, kita tau kamu mencintainya dan kita sebagai sahabat hanya mengharapkan yang terbaik untuk mu. Jadi apapun yang kau lakukan pasti kami dukung”,
“apa yang dikatakan Ayu itu benar Nad, kalau jodoh gak akan kemana kok. Pergaya dech!!!” tambah Sela meyakinkanku.
Untung saja masih ada teman-teman ku yang selalu siap siaga menemaniku melewati haari-hari tersulit dalam hidupku ini. Mereka selalu dan minimal mengurangi rasa sakit yang kurasakan.
Kepergian kami liburan kampong halaman Vira, cukup menghibur dan sedikit membuang rasa sakit yang selama ini kurasakan. Bagiku kebersamaan bersama sahabat-sahabat merupakan obat yang ampuh dan tal bisa dineli di apotek manapun. Serta yang lebih penting harganya sangat mahal melebihi harga sepatu yang dipajang di etalase-etaase butik ternama.
Sejak obrolan panjangku dengan sahabat-sahabat ku itu, aku memutuskan untuk menuggu Angga sampai batas yang dia katakana kepadaku, Selebihnya jika dia tak ada kabat, aku akan berusaha untuk menghapus namanya di hatiku dan mungkin untuk selamanya. Mungkin askan sulit tapi aku aharus mencobanya. DEngan kejadioan ini menjadi dan kekuatan bagiku untul sabar dalanm menghadapi semua masalah yang datang membuatku lebih dewasa untuk memilah mana arjuna yang benar-benar mencintaiku nanti.

PUISI DESSI HERLINA

1.
MAMA

Seperti beningnya air,
Menghapus sedihku yang mengalir.

Seperti tiang tonggak yang utuh,
Menopang ketika ku terjatuh.

Seperti rangkaian kata,
Menambah kelengkapan hidupku hingga bermakna.

Seperti kelopak bunga,
Memberi warna hingga melukis indah.

Seperti tiap-tiap denyut jantungku,
Menemani dan selalu ada untukku.

Dan aku pun harus bisa…,
Seperti setiap helaan nafasmu, mama….



2.
AKU KECEWA

Aku salah satu rakyat kecil
Tapi, aku punya hak untuk ikut
Bicara tentangmu

Aku kecewa
Aku sangat kecewa
Tak malukah kau wahai pejabat
Negaramu?
Sungguh aku sendiri malu
Bagaimana dengan pandangan
Orang lain dengan ini itu
Terhadapmu???

AKU INGIN NEGARAKU DAMAI
AKU INGIN NEGARAKU DEWASA DAN BERSAHAJA
AKU TAK MENGHENDAKI KEHANCURAN ITU
BERI CONTOH YANG BAIK ITU YANG KU MAU


3.
AYAH

Betapa berat beban hidup
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan
Hidup bersama keluargamu
Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
Nafkah anakmu

Semenjak ayah terbaring
Ditempat pembaringan terakhir
Bagaimanakah ibu?
Anak-anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk
Keluargamu?

4.
TERLALU PAGI

Coba kita renungkan
Coba kita pikirkan
Siapa yang bersalah
Diantara semua ini
Apakah orang tua
Atau kita berdua
Sehingga kita tak bahagia
Seirng berulng kali berbuat kesalahan
Yang menyakitkan hati
Mengapa ku harus begini
Kemana mestu harus pergi tak mungkin ku kembali lagi
Pada orng tuaku yng telah membenuki
Dari bercinta dulu terllu pgi untuk berpisah

5.
BUNDA

Betapa berat beban hidupku
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan hidup bersama keluargamu

Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
nafkah kepada anakmu
Semenjak ayah terbaring
di tempat pembaringan terakhir

bagaimanakah ibu ?
Anak- anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk keluargamu

PUISI R. A. DINA OKTARIA MAYZA

1.
AKU TAK PERDULI

Aku tak perduli
Meski esok hariku akan berakhir pasti
Aku tak mau tahu
Meski esok tak ku tapaki lagi bumi ini
Aku hanya ingin hiasi pelangi senyuman
Disisa hidup meski bibir ini keluh
Lepas terbang bagai burung
Yang menjajahi langit biru
Aku tak perduli
Meski esok aku akan mati
Aku hanya mau
Kuhiasi cinta disetiap sudut hati
Meski aku akan mati
Aku tak perduli
Biarlah kaki ini berjalan
Hingga letih menahan sakit
Biarlah aku masih ingin
Nikmati hidup yang pendek ini
Hingga takdirku menjemput nanti



2.
DEKAPAN TUHAN

Aku tak tahu harus apa
Semua terasa asing tuk kulakaukan
Semua jadi tak menentu
Semua terasa salah
Begitu bimbang aku tuk melangkah
Apa yang hars kupercayai
Semua pilihan mmubuatku
Terperangkap dalam ragu
Aku hanya menanti dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi sepanjang malam
Membungkam ku dalam keterpurukan
Entah hidup seperi apa yang aku jalani
Semua sudut terhenti dititiik ini
Titik penyesalan atas segala dosa
Hingga ku renugkan tetap tak ku temui jawaban
Setelah ku jelejahi jalan tuhan
Hidupku kembali dalam balutan ketenangan
Inilah pilihan, aku kembali pulang
Dalam dekapan tuhan



3.
POTRET BURAM ANAK JALANAN

Syair-syair anak jalanan
Melantun bak melodi tragis
Sayup- sayup ditengah bising kota
Lalu tenggelam bersama asa
Cucuran keringat membasahi tubuh
Menyatu bersama jerit tangis anak –anak kecil
Terselubung disepanjang jalan metropolitan
Inikah ptotretmu wahai bangsaku hilirmudik barisan kurcaci
Mengejar deru mengejar mimpi
Dengan lantunan lagu dan melodi
Mengais-ngais rasa iba orang berdasi
Dimana –dimana
Wahai ibu pertiwi
Disaat meereka iniginkau rangkul
Disaat mereka ingin kau lindungi
Kau hanya menatap dengan wajah yang pasi



4.
KETIKA HATI DISAPA RINDU

Bergetar hatiku darah ini mengalir deras
Pesona bayangmu menghantui hari-hariku
Sehinga membuat mtaku enggan terpejam
Dikala hati disapa rundu
Entah rasa apa yang bergolak
Memecah rasa tenang dan rasa duka
Yang ada hanya ada rasa bimbang
Dikala hati disapa rindu.



5.
NADA-NADA CINTA

Nada-nada cinta melantun dengan indah
Mengalun dengan lembut berirama dengan udara
Berarak bersama tawa dan canda
Menyatu dalam lembutnya jiwa
Sang pencinta
Nada-nada cinta
Begitu indah ia merasuk kedalam sukma
Menghancurkn tiap bait kesendirian
Menenangkan jiwa yang kesunyian
Nada-nada cinta
Pertanda rasa anak manusia

NASKAH DRAMA R. A. DINA OKTARIA MAYZA

1.

Ini adalah kisah perjalanan hudup manusia yang harus berjuang terus untuk berjuang terus makan dengan menjadi seorang TKW, Jauh dicinta ulangpun tak dapat harap-harap pulang membawa uang yang didapat deritalah yang didapat deritalah yang ia terima bukan pekerjaaan yang didapat ia dijual oleh gembong sahwat laknat.
Tolong…….tolong kami
Kami ingin bebas
Augg………sakit..
Jangan sakiti kami.
Kami hanya ingin hidup
Kami manusiabukan…
Bukan barang untuk diperdagangkan.

Disebuah rumah reot dengan dinding yang hendak roboh, sebuah lampu templok ditengah meja yang menjadi saksi pertengkaran anak dan ibunya.
Aisyah : Bu aku mau kerja kengeri sebrang,
Ubu : Apa, modal apa yang kau punya ilmu saja kau tak punya hanya lulusan SD
Aisyah : Ibu terlalu merendah aku, aku mau kerja
Ibu : sudahlah tinggalkan mimpi aneh mu itu, gila kau jangan mengharapkan sesuatu emas di negeri edan ini
Aisyah : Lalu aku harus apa aku harus mati dalam diam, atau aku harus menjual tubuhku membiarkan selangkanganku mengeluarkan cairan berwarnah merah yang amis itu.
Ibu ; tak perlulah kau hanya akan membuat kemiskinanmu menjadi barang hinaan jangan lah kau persulit matimu dengan ocehan manusia
Aisyah : Kalau begitu biarkan aku bekerja
Ibu ; sudahlah lupakan saja, kenapa kau tak terima saja permintaan tuan jabillah lagi pula sekali membayar hutang membesarkanmu kaupun bisa hidup dengan mewah tanpa perlu bersusah payah.
Aisyah : Jangan harap, aku tak akan pernah menjadi gundik manusia hiana itu. Mana mungkin aku mau jadi anjing yang jinak pada taunku. Jangan pernah berharap bu biar aku mati pun bangkaikupun tak akan pernah ku serahkan padaku.
Ibu : aisah jangan macam –macam kau
Aisyah ; (berjalan menjauhi ibunya) piirkan ibu picik
Ibu : Aisayah terkutuk kau
Sett II:
Di halaman rumah tua datang rentenir yang hendak menangih hutang pada ibu Aisayah
Jababi ; Hai wanita tua dimana kau !
Ibu : Aku disini tuan
Jababi ; Bagaimana sudah ada uang untukmembayar hutangmu tau sudah kau pertimbangkan semua
Ibu : Anu…………….tuan
Jababi ; Apa ………………………..aku tahu kau tak punya uang iyakan
Ibu ; anu ………………….
Jabani : Sudahlah kau nikahkan saja aku dengan anakmu, hidupmu akan ku jamin
Ibu : (menunduk )
Tak lama Aisayah keluar dari rumah
Aisyah : Apa, kau binatang jangan pernah berharap ( meludah kearah JAbabilah), aku akan membayar semua hutang ibuku
Jababi : Mulut besar pembual aku akan lihat bagaimana kau akan mebayar jika tidak bersiaplah aku akan melucuti pakaianmu dan mengajakmu bercinta dikasurku yang hangat
Aisyah : Jangan harap pergi kau ?
Ibu : Aisyah tutup mulutmu,masuk kau, tuan jngan pergi tuan aku akan mebujuknya
JAbabilah terus berjalan menjauh rumah dibelakangnya ibunya mengejar
Sett III:
Disebuah pelayanan tenaga kerja, terdapat beberapa meja kosong tempat pendaftaran dan kursi tempat oarng menunggu.
Aisayah : biarlah ibu tak izinkan aku aku akan tetap pergi.
Defri : Adik mau ikut kerja sama seperti yang lainnya, uang keberangkatannya dipotong dari gajimu setiap bulan, bagaimana?
Aisyah : aku mau ?kapan keberangkatan aku kesana?
Defri : satu minggu lagi kamu bisa kembali kesini, bawalah semua keperluanmu.paham.
Aisayh : paham.
Defri : bawa semua sertifikat yang kamu perlukan, KTP, jangansamapi lupa dan beli pel KB
Aisyah : Buat apa …………
Defri : nanti kau akan tahu apa gunanya.

Sett Iv

Aisay berjalan menatap kosong negeri yang baru ia datangi,sebuah mobil membawanya menuju sebuah bangunan megah yang ia tak tahu.ditatapnya wanita dan laki-laki sedang duduk berdua dia memandang jijik daerah itu.
Aisyah: tempat apa ini, kenapa aku dibawa disini aku kan mau bekerja
Defri : ini tempat kerjamu, kau tunggulah disini
Aisyah : Baiklah
Ia menunggu dengan cemas, wajahnya yang cantuk mulai padam karena takut.
Pak zai :“ hai cantik (menyentuh tubuh aisyah)
Aisyah :“ mau apa kau jngan macam –macam pergi
Pak Zai ;“ sombong kau, akan ku pstikan aku akan menjadi orang petama pelangganmu(pura-pura mencium )
Aisyah ;“ pergi “
Defri ;“ Aisayah kemari “
Aisyah ;‘ syukurlah, “
Defri ;“ mulai sekarang kamu diterima bekerja ditempat ini”
Aisyah ;“ kerja apa”
Defri ;“ kau cukup bersihkan kamar-kamar, kerjamu tak terlalu berat tapi gajimu besar’
Aisyah ;“ Apa benar”
Defri ;“ ya…… aku pulang tugasku telah selesai selanjutnya selamat bekerja”


Sett V:
Bos : kau, mulai hari ini bekerja disini mala mini kamu bersihkan kamar 309 paham?
Aisyah ; ya pak
Bos : kau istirahatlah, sebelum kau membersihkan kamar jangan lupa bersihkan tubuhmu aku takut pelangganku mencium nau mu, ini pakaian yang harus kau kenakan
Aisyah : ini terlalu pendek bos
Bos ; sudahlah jangan banyak bicara pakai saja dengar layani pelangganmu yang pertama dengan baik
Aisyah ; Apa maksudnya bos
Bos : sudahlah, keluar dan istirahatlah.
Aisyah ; baik

Sett vI :
Sebuah kamar istirahat yang cukup besar, biasanya penghuninya kalangan orang berduit.didalamnya terdapat tempat tidur yang mewah, sofa , tipi dan kulkas serta dilengkapi dengan AC.
Ausyah : mewahnya………………..coba ini kamar tidurku, capek juga kalai membersihkan kamar sebesar ini.
Pak zai : (Mengunci pintu) hai cantik kau cantik dengan pakaian seksi itu (meremas tangannya)
Aisyah : kurang ajar kau ( menampar wajah ) lepaskan aku
Pak zai ; Ayolah sayang, aku sudah tak tahan.
Aisyah : (Menarik gagang pintu) buka pintu ini aku bukan pelacur
Pak Zai ; wanita yang nekekerja disini adalah pe-la-cur, kaupun sama karena aku telah mengeluarkan uang banyak untuk menikmati keperawananmu.
Aisyah ; tidak akan pernah lebih baik aku mati.
Pak Zai ; menarik dan mendorong tubuh aisyah ) bersiaplah kau
Aisyah ; tidak……………………………(.mendorong tubuh lalu meloncat dari kegung lantai 4)
Jenazah Aisyah pulang ke kampong halaman ,
(merangkul tubuh anaknya) anakku malangnya nasibmu seandainya kau tak keras seperti nafsumu mungkin taka akan pernah begini”

Jangan pernah terbujuk rayu pad aiming-iming gaji yang besar, teliti, cermati sebelum menerima tawaran pekerjaan, jangan sampai anda salah memilih.



2.
AKU ANAKMU IBU

INILAH PERJALAN HIDUP MANUSIA, ANAK YANG TERLAHIR DALAMKEADAN CACAT FISIKNYA MEMBUATNYA HARUS BERSEDIH KARENA HIDUP BAGAIKAN DIPERASINGAN DALAM KELUARGA BESARNYA.
Sett pembuka:
Disebuah sekolah SMA Ibu pertiwi berdiri di depan gerbang seorang anak bernama As-syfa, Hari itu hujan mulai turun rintik-rintik
As-sifa ; Aduh mau hujan lagi
Ia terus saja berjalan hingga sampai dirumah ia berhenti dirumah mewah dengan kendaraan yang lengkap. dengan keadaan basah kuyup, hingga membuat orang dirumahnya menjadi marah.
Ad-siya : ibu aku pulang
Ibu : siapa yang izinkan kamu masuk, anak cacat selalu buat masalah keluar kamu atau mau ibu pukul
As-syfa : ( menggigil kedinginan ), tapi bu aku dingin,
Ibu : (mengambil kemoceng, lalu memukulkan ketububuh As-syfa) rasakan kamu anak sial
As-syfa ; Aug………ampun bu………..ampun bu.
Mbok ; Sudah nona maaf kan lah non syfa kasihan dia
Ibu : tak perlu, anak ini harus diberi pelajaran agar tidak besar kepala
Mbok ; sudah nona nanti bisa mati
Ibu ; (melemparkan kemocengnya ) urusi dia mbok
Mbok : Baik nyonya, mari non
Syfa ; (tersedak –sedak ), ibu kejam nggak sayang sama aku ,dirumah ini nggak ada yang sayang sama aku gara- gara aku cacat.
Mbo ; non nggak baik marah pada tuhan, ka ada mbok yang sayang pada non”
Dyfa : ( memeluk tubuh mbok ) Aku sayang mbok
Sett II:
Dirumah dyfa sedang berlangsung acara, Suara yang ramai membangunkan syfa dari tidur panjangnya, hingga ia lupa jika orang tuanya melarangnnya keluar jika ada orang dirumahnya.
Orang I; siapa itu bu, aku baru pertama melihatnya anakmu!
Ibu : oh, bukan itu anak mbok asih yang baru datang dari desa, aku minta ia membersihkan kamar !
Orang II ; Aku sangka anakmu. Habis cantik juga tapi sayang ………………….ha…..ha………..?
Ibu : mana mungkinlah anak cacat..ha…”( merah padam wajahnya), sebentar aku ada urusan diatas.
Orang I dan II : silakan
Ibu : ( mendorong pintu kamar diya) puas kamu mempermalukan ibu ha anak sialan kamu ( menjambak rambut )
Syfa ; ( ampun bu aku tak tahu ada orang dirumah. ( menagis) aku tak tahu kenapa ibu melakukan ini padaku aku selalu saja dipersalahkan atas apa yang tidak punya alas an ,
Ibu : menampar wajah syfa) kamu jangan keterlaluan
Syfa ; kenapa karena aku cacat aku juga tak mau lahir dalam keadaan ini apa salahku ibu ( menjerit ) ibu ingat hari ini ulang tahunku tidak akan pernah aku rasa…………………………………
Mendengar ribut dikamar Syfa mbok datang
Mbok : Ada apa nyoya.
Ibu : ( membanting pintu , keluar menjauh)
Dyfa : (menganis ) kenapa mbok aku selalu mejadi masalah dalam keluarga ini, aku muak aku ingin mati kenapa tuhan tak mencabut nyawaku saja mbok
Mbok ; jangan bicara seperti itu non, tuhan itusayang sama non makanya tuhan memberikan ujian sama non.
Sifa ; tapi aku tak kuat mbok…………………………….
Mbok : sabar non ……………………………..semua akan indah pada waktunya.

Sett III
Keluarga Syfa berlibur ke sebuah desa Sukomoro, hamparan ladang yang dipenuhi dengan padi menguning, para petani yang sibuk bekerja mereka terhenti disebuah pondok sederhana dipenuhi dengan tanaman bunga yang indah.
Syfa : Nenek ………………………fa datang aku kangen banget sama nenek
Dila : jauh kamu (mendorong tubuh sifa) kau itu bukan cucu nenek mana ada nenek punya cucu cacat kayak kamu.
Nenek : dila jangan pernah berkata seperti itu….nenek akan marah
Ibu ; sudahlah ibu jangan dibela terus nanti melunjak dia.
Nenek ; nak, jangan kamu berkata seperti itu, ibu takut suatu sat kau akan menyesal berlakulah layakn ya seorang ibu.
Ibu : sudahlah ibu ini semua gara-gara kamu fa.anak sial pembawa masalah.
Syfa  menundukkan kepalanya)
Nenek ; sudahlah sifa jangan masukan kedalam hati acuhkan saja ibumu mari sini nenek peluk nenek sudah kangen sama cucu nenek.

Sett IV:
Di pertokoan, mobil lalu lalang dijalanan ibu, syfa dan dila berjalan meyusuri jalan.
Ibu ; jangan dekat ibu kamu dengar , kamu akan membuat ibu malu saja.
Dila ; dengar tu anak cacat.
Syfa ; ya bu aku dengar.
Ibu ; ne bawa belanjaan ibu capek ibu.
Pelayan tokoh :mau cari apa
Ibu : cari pakaian mbak.?
Pelayan tokoh : itu anaknya ya bu?
Ibu ; mana mungkin itu anak saya mbak, itu anak pembantu saya,
Pelayan toka: maaf bu
Ibu ; taka pa.

Sett V
Ketika mereka hendak pulang sebuah mobil berjalan dengan kencangnya , ibu dan adiknya yang berjalan kerahnya tidak melihat mobil melintas kearah mereka.
Syfa : Awas…………………………………………bu…………….
Mereka tak tahu . syfa berlari dan mendorong tubuh ibunya…………..tapi yang terjadi ialah yang tertabrak mobil.tubuhnya jauh
Ibu : syfa…………………………………, tolong anakkku……..
Dilla ; kakak………..
Sifa meninggal ditempat jenazanya dimakamkan didesa sikomoro dan ibunya mengalami gangguan jiwa karena penyesalan hingga ia terpaksa masuk kerumah sakit jiwa

CERPEN R. A. DINA OKTARIA MAYZA

1.
MELODI CINTA

Hari ini sudah tiga bulan aku mengajar disebuah kelompok belajar, aku sangat menyukai semangat dan kecerian yang selalu muncul dari anak-anak. Melihat tawa dan canda mereka aku teringat semua masa kecilku saat aku sedang melamun dimejaku,”ibu, lagi mikirin apa ya bu’Teriak Bimo salah satu muridku “ibu, ibu Nampak cantik jika melamun aku jatuh cinta bu”teriak Andika, Aku hanya tersenyum mendengarkan ucapananak-anak”. Ibu menara Effelitu berada dimana”Tanya putri kepadaku”,effel kata ini akan selalu membawaku pada kekasihku Rahmadi yang sedang meneruskan kuliahnya disana, tap aku tak tahu kapan ia akan pulang “. Ibu, kok melamun lagi “. maaf, menara effel da di paris sayang”. Rasanya aku enggan untuk pulang karena karena keceriaan ini akan hilang saat aku pulang kerumah.
Saat aku hendak pulang, Bimo kecil murid terbawelku nam,pak belum pulang “Bimo kok belum pulang sayang, lagi tunggu jemputan ya, ibu temanin boleh”. Bimo kecil tak menjawab dengan kata –kata tapi ia hanya mengangguk dan tersenyum senang dan aku tahu dia mau. Tak lama datang seorang laki-laki yang menghampiri kami,”Bimo yuk pulang”. Laki-laki itu memperhatikanku dengan tajam”Nova, kamu Nova kan”. Tanpa kusadari Bimo keponakan choiri sahabat SMA ku”maaf, aku lupa kamu berubah sih tambah ganteng aja”. Kamu bisa saja, kamu nggak berubah masih tetap manis, hari ini ada kegiatan”. Kenapa, Ri kebetulan enggak “. Kita minum teh sambil reunion mau”. “Boleh”. Bimo kecil hanya bingung mendengar kami berdua, dia masih terlalu naïf untuk tahu kegiatan orang dewasa.
Aku dam bimo kecil berjalan berdampingan dengan petunjuk yang choiri berikan dimana kami akan berhenti, tepat di sebuah restoran ia menuntunku dan Bimo kecil masuk kedalam. Bangku yang terdekat dengan tamanyang kami singgahi. “Om, kenal cama ibu guru ya, bu guru kenal cama om Bimo ya “. “ya sayang ibu guru dan omnya Bimo teman satu sekolah”. ”ya jagoan ibu guru itu temnnya om’’’’’’’oh…….., aku biasanya ketemu terus dong sama ibu” dengan wajah lugunya Bimo tersenyum senang. “nggak nyangka kita ketemu lagi, udah lama ya, oh ya …. Apa kabar kiranya.
“aku juga kurang tahu gimana keadaannya, aku dan dia udah lama enggak berhubungan, karena sifatnya yang egois, udahlah jangan dibahas soal itu karena aku sudah terlalu sakit.
“sakit”.Bisik hatiku, padahal jika harus berkata jujur mungkinakulah yang paling sakit, Kirana adalah sahabat yang aku percayai dibandingkan dengan sahabatku yang lain tap ia yang paling kejam, sebenarnya itu juga bukan salahnya seratus persen tapi itu juga adil kesalahanku sudah sering sekali sahabatku yang lain mengingatkanku tap iaku tak mau mendengar. Dan Karin telah tahu jika aku dan choiri adalah kekasih, ia seolah tak memperdulikan itu, bahkan ia menjadi selingkuhan dan terang-terangan bermesraan didepanku seolah-olah ingin mengejek dan menghancurkan hatiku, tapi sudahlah itu masa laluku. Tapi, rasaku terhadapnya masih ada karma ia cinta pertamaku “. Bagaiman sekarang kamu, masih sendiri “, suara itu memekik diotakku memecahkan lamunanku “ap, kamu tadi bilang apa “,” kamu melamun ya, kamu nggak berubah ya masih suka memendam kebiasaan buruk, aku tadi bilang apa kamu masih sendiri, tapi itu enggak mungkin kamu pasti udah punya teman maksudku pendamping”. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya akupun tak menjawab tidak ataupun mengiyakan karma biarlah terjadi rahasiaku”kenap kau tersenyum” “tidak. Oh ya Ri, sebenarnya aku masih mau berbincang-bincang tapi aku masih harus mengajar anak lain”. “Nggak apa-apatapi thanksya udah menyempatkan waktunya, see you next time”. “bay……,ibu pulang ya jagoan kecil”. “Ya bu guru hati-hati ya “. Aku melihat keduanya melambaikan tangannya dan aku terus berjalan menjahui keduanya “om, om aku cuka cam bu guru om pacaran aja cama bu guru”. Eh anak kecil nggak boleh bilang pacaran, ntar nggak gede-gede mau”. ” nggak om”. ‘Ya udah pulang yuk, mama udah tunggu kamu”. “yuk om”.
Aku semakin sering melihat choiri menjemput Bimo kecil, jika perhatikan keduanya sama persis, aku dan choiri pun makin sering berjalan berdua, ada-ada saja akal busuknya untuk mengajakku hanya sekedar berbincang-bincang entah apa yang ia pikirkan dan anehnya aku tak menolak sedikit pun karma aku menyukai ajakkannya dengan senang hati, buka hanya teh n restoran itu yang membuatku betah bersama mereka berdua tetapi juga karena melihat pola tingkah Bimokecil yang bercanda dengan omnya yang seperti anak-anak. Aku mulai menyukainya kembali,hatiku bergetar kembali terdengar melodi-melodi cinta dihatiku. Entah apa yang aku pikirkan tapi ini salah tapi ini juga betulapa yang aku rasakan benar-benar cinta dan bukan suatu kesalahan, tapi dilain sisi aku mengkhianati seseorang inilah yang salah, tapi aku tak bisa menyangkal kalau aku jatuh cinta pada dirinya. Tapi rasa itu segera ku hapus dari hatiku.
Hari sebenarnya sudah lama aku menantikannya karena Ramadi akan pulang dari Perancis, rasa seang itu Nampak pada hari ini semuayanampak bahagia.
Tapi pada kenyataannya Ramadi pulang dengan membawa luka dihatiku, saat datang kerumahku ia membawa seorang wanita, entah apa maksudnya karena dia hanya diam membisu saat kutanya kenapa ia tak menjawab aku belum mengenal wanita yang ia bawa karena wanita itu masih diduk diteras”ada apa “Ramadi masih saja diam tingkahnya semakin membuat pikiranku kalut ”kenapa,jawab jangan hanya diam”,lagi-lagi tak menjawab betapa aku terkejut saat ia menyerahkan undangan pernikahan disana tertulis Adi, aku mematung diam tanpa kata-kata “va kamu kenapa, jangan diam kebisuan kamu akan membuat hatiku hancur, aku akan senang jika kamu marah dan memukuli aku, aku masih terlalu cinta kamu va, bahkan cintaku hanya untukmu seorang “. “apa dia orangnya, lalu kenapa kamu lakukan ini “tanyaku lirih”ya, dia yang membuatku terjebak pada apa yang tidak pernah aku lakukan”. “berarti dia hamil”, aku keluar maksudingin mencari orang yang telah merebut cintaku, tapi alangkah terkejutnya aku saat kulihat wajah wanita itu tak lain dia Kirana”kamu lagi, apa kamu ingin lihat aku mati baru kamu akan puas, belum cukupkah semua apa lagi yang kau ingunkan ha jawab”.”Maafkan aku Va, aku tak pernah bermaksud”. ”stop, aku tak butuh penjelasan kalian, tinggalkan rumah ini ?. “aku menjadi semakin terluka, lagi-lagi cintaku direnggut oleh Kirana.
“Kirana sialan, aku benci dia”. Pekikku marah aku ingin sekali membunuhnya tapi aku tak berdaya.
Ternyata Choiri telah lebih dahulu tahu masalah pernikahan itu, dia juga sok ketika tahu calon mempelai laki-laki adalah tunanganku. “aku tahu pasti kamu disini, jangan patah semangat dong wajahmu jelek kalau begitu”. “tahu dari mana kamu aku disini”. “aku masih ingat semua tentang kamu, ayo dong tunjukin pada mereka siapa Nova sebenarnya, buktikan tanpa dia pun kamu setegar dan sekokoh pohon cinta itu”Choiri menunjuk kearah sebatang pohon, semua orang yang datang kesana adalah sepasang kekasih. Oleh sebab itu, pohon itu ditanami pohon cinta, dahulupun aku dan dia pernah datang kemari”. Kamu benar aku harus semangat, makasih ya, “ aku memeluk tubuhnya hingga ia terkejut” sahabat Nova ‘’’’’’’’sahabat’.
Aku tahu yang akan terjadi pada Kirana dan Ramadi mereka akan menikah besok, dan aku akan datang tapi untuk hubunganku dan Choiri biarlah waktu yang akan member jawaban.



2.
MAKAM TAK BERNAMA

Denyut- denyut jantung berdetak diselasar gang- gang sempit, keringat yang jatuh mebasahi tembok – tembok liang lahat, menyatu bersama takbir menyumpat rasa bingung dalam hati, tak ada titik kesedihan yang bercucuran, yang ada hanya cabikan sepenggal luka bersama bungkamnya jenaah dalam keranda.
“ Bunda aku lapar sekali …”
“Sabar ya sayang nanti ibu cari ya adik jangan kemana-mana ya sayang”
“ ya bunda tapi bunda pulang bawa makan buat adik kan”
Bunda hanya menitihkan air mata ketika melihat anaknya yang menangis kelaparan, dipelukknya erat sang anak
“ ibu keluar ya, adik ingat pesan ibu jangan kemana-mana”
“ ya bunda”
“Assalamualaikum”
“Kum calam”
Ibunya berjalan menyusuri selasar gang-gang dengan berharap memperoleh sedikit rezeki untuk sang buah hatinya.
Jauh sudah ia berjalan, hujanpun mulai turun membasahi bumi, wanita tua it uterus berlari dalam kebasahan tangisan buah hatinya selalu terngiang dalam pelupukmatanya. Hingga dingin memaksanya berhenti diteras rumah waraga, terdengar dari dalamrumahnya orang yang meneriakinya
“hai gembel pergi kamu dari sinikamu bisa membuat rumahku menjadi kotor”
“maaf pak saya hanya numpang berteduh”
“Saya bilang pergi kamu dari sini “sambil melempar botol
Botol yang dilempar tepat mengenai kepala wanita tua itusehingga keluar darah segar dari atas kepalanya
“Maaf tuan”
“Pergi”
“Tunggulah sayang ibu akan segera pulang”bisik hatinya
Wanita tua itu terus saja berlari , ia tak tahu lagiharus berteduh dimana,makanan untuk anaknya belum juga didapatkannya ditepisnya rasa dingin dalam tubuhnya.
Satu persatu tong sampah setiap rumah dikais-kaisnya namun tak adasatupun yang dapat dimakan yang ada hanya tulan belulang ikan ataupun ayam itupun sudah bercampur dengan belatung tak tega ia memberikan makanan itu kepada anaknya.
Merasa tak kuasa ia berlari kesebuah halaman rumah rumah penduduk tubuhnya mengigil nampaklah olehnya seorang wanita yang hendakmebuang makanan
“mau dibuang bu”
“ya bu, nasi ini sudah basi, tidak bisa dimakan lagi”jawab wanita itu
“boleh saya memintanya, anakku belum makan dua hari ii “
“tapi ini basi”
“tidak apa bu, masih bisa dikeringkan lalu kumasak lagi, boleh bu”
“ silakan ini”(menumpahkan makanan kedalam baju wanita tua itu yang sudah diangkatnya)
“terimaksih bu”tersenyum terkenang wajah anaknya yang akan senang.
Wanitatua itu pulang dengan hati yang bahagia, wajah sumringahnya membawanya melewati gang-gang menuju rumahnya.
“Sayang, ibu pulang”
Dilihatnya sang bauah hati sedang tertidur lelep diatas lapisan Koran, dikecup keningnya
“ Tidurlah sayang, bermimpilah capailah yang tak kau capai jka kau terbangun nanti, lalu ceritakan pada dunia mimpi indah mu itu”
Segera ia berdiri , ketika ia teringat nasi yang dibawanya, dicucinya nasi basi yang berbau itu lalu diletakkannya ditampan agar bsok mudah menjemurnya.
Ia baringkan lagi tubuh tuanya, disebelah buah hatinya jauh pikirannya melayang hingga lupa ia akan luka diatas kepalanya
“seandainya suamiku tidak meninggal,lalu jika ia tak diusir dari kontrakan dinas, jika ia tak dipecat oleh pabrik jika rumahnya peninggalan otrag tuanya meskipun tak layak huni tidak terbakar, mungkin hiduku tak akan sesulit ini,gubuk kardus dibantaran kali ciliwung”pikirnya
Udara malam yang dingin memaksa mata wanita untuk tertidur
****
Udara pagi menghangatkan udara malam yang memikat mata
“uagh…em….bun…dimana”
“bunda disini sayang, sedang masak makanan “
“asyik..cepat ya bu aku sudah apar………”
“ ya….ini buburnya sudah masak …ayo sini”
Melihat anaknya makan dengan lahap, sudah membuatnya kenyang.
“setelah kau makan ibu akan pergi, mencari uang ibu mau mencari pekerjaan agar kau dapat makan”
“ehm…..ya bu”
“kamu jangan kemana-mana dengar nanti susah mencarimu”
“ya bu aku janji”
“sini ibu ciu keningmu ibu rindu sama anak ibu “memandang wajah anaknya
“bunda”
“ya sudah ibu pergi ingat janjimu’
Dengan semangat wanita tua itu menyusuri rumah ke rumah mencari pekerjaan , setiaprumah diketuknya nmun belum juga didapatnya.
Malang nasib wanita tua itu dijalan ketika ia hendak akan pulang ia tertabrak mobil hingga tubuhnyajauh terjatuh, kepala, wajahnya, terbentur jalan aspal hingga tulang keringnya Nampak dan banyak mengeluarkan darah.
Entah bernyawa atau tidak ia dibawa kerumah sakit oleh orang yang kasihan padanya.
Sudah duahari, anaknya menanti kedatangan sang bunda air matanya mengalir
“ikhsan tinggal dirumah bibi saja, ibumu belum tahu kapan pulangnya”
“tidak bi aku sudah janji pada ibuku aku tidak akan meninggalkna rumah, nantio ibu pulang”
“ ya sudahlah tidurlah ini sudah malam”
“baik Bi”
Ikhsan tidur dengan linangan air mata dan berharap saat terbangun esok disampingnya melihat ibunya.
Semua hancur disaat angansang malaikat kecil harus musnah tersapu banjir akibat luapan kali ditambah hujan yang tak kunjung berhenti hingga membawa tubuhnya.mungilnya diatas makan yang tk bernamadiatas makan sang bunda yang dinanti tak ada satupun yang tahu nama wanita tua itu yangmeninggal dalam kecelakan . Makam tak bernama begitu banyak begitu banyak menyimpanrahasia, di sebelah makamitupun ikhsan dimakamkan tanpa nama.
Semoga ketika ia terbngun dari tidur panjangnya ia bertemu bundanya di surga.



3. HIJAB CINTA

Waktu bergulir menganti hari-hari dari waktu ke waktu mengganti hari menjadi minggu dan seterusnya hinga menjdai tahun.
Kini aku telah tumbuh menjadi wanita muslimah yang berbeda dari gais remaja biasanya, Ku gantungkan hidupku dijalan tuhan aku bahkan dipandang aneh oleh beberapa remaja bisanya.
Pakaianku yang jauh dari modis, diatas kepala ku kenakan khimar yang jauh menutupi menyelubung tubuhku.
Sekalipun orang emmandangku aneh tapi inilah pilihanku
Aku adalah aku yang sekalipun aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh remaja pada umumnya yang masih memiliki hati dan dapat menyukai lawan jenis.
Fathur nama laki-laki itu, begitu indah akhlaknya yang kulihat dari kesederhanaanya kata-katanya, perbuatannya hngga menjemakku dalam perangkap cinta, terlebih pesona wajahnya yang rupawan dan tubuhnya yang tegap bagai bidadara dari surge.
Bagai aliran darah ia mengalir dalam hatiku, tanpa kusadari mata ini liar memandang kearahnya
‘ Astafirullah….Ampunkan aku ya Allah”
“ Kamu memendangnya, hati-hati Aisyah tak baik “Sapa temanku Nabila
“ Ya aku akan lebih berhati-hati’
Setiap kli menatapnya, hatiku bergolak entah apa yang aku rasakan hinga ku tak mampu membendung rasa ini, namun aku taka akan pernah mampu mengakaui rasa ini hingga kujadikan rasa ini sebagai kebutuhan nurani.
Suatu kali ayah member tahuku jika aku, telah dijodohkan pada seorang laki-lakki yang tak pernah aku kenal benama Akbar, secara nurani aku ingin menolak batin ini merintih karena hatiku telah memilih Fathur, tapi sebgai anak aku punya kewajiban untuk membahagiakan orang tuaku maka harus aku penuhi kewajibanku sebgai anak.
Aku mulai menutup hati dan cintaku dari Fathur jauh namun belum dapat aku lakukan.
Perkenalanku dengan Akbar bermulai dibalik hijab hanya suaranya yng melantun indah sejenak suara itu taka sing ditelingaku.
“ Suara Fathur” bisikku dalam hati.
Dengan hati yang lapang ku buka hati untuk Akbar, perkenalanku hanya sebatas mimpi bagiku
“ bagaimana bisa aku akan menikah dengan orangyang pernah aku tahu”
Dengan hati yang lapang ku uka hati untuk Akbar, perkenalanku hana sebatas mimpi bagiku.
Satu bulan setelah masa tasawufku, ia melamarku aku menangis entah apa ini, siapkah aku menjadi layaknya Siti Khadijah bagi suamiku tapi hidupku ku jatuhkan pada pilihan tuhanku”
“ Fathur, semoga kita berjodoh kelak di surga’
Ku dengar orang ramai-ramai dirumah mengumandangkan takbir
“Alhamdulillah’
Kini aku tahu, lamaran itu diterima oleh Ayahku talk lama ku dengar ibu memanggilku
“ Aisyah, keluarlah nak, calon suamimu ingin melihat dirimu”
“ Baik bu’
Sempat butiran-butiran muncul dari mataku
“ Kau kenapa, kau tak ikhlas atas perjodohan ini”
“ tidak bu,aku menangis karena bunsa dan ayah menukahkan aku dengan ahli surge”
Ibuku memeluk tubuh ku” ibu bangga padami, ayolah kita lihat bidadara surgamu”
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan, ku tundukan kepala tak kuasa membendung air mata melepaskan hatiu dari Fathur
Alangkah terkejutnya ketika laki-laki yang dihadapanku adalah Fathur, ia tersenyum memandangku.
Nabila membisikkan sesuatu ditelingaku.
“ Ternyata ia menyukaimu, ia nertanya padaku maka ku katakana yang sebenarnya padanya.”
Aku tersenyum entah perasaan apa tapi inlah bahagia, Fathur berjalan mendekatiku
“ Fahtur Akbari, calon suamimu kini ku jadikan kau halal bagiku’ Senyumnya padaku.



4.
PERGILAH NAHKODA CINTAKU

Mentari menaburkan kehangatan dikala perahu- perahu kecil brlayar menyebrang hamparan samudra luas, ombak menari dalam gulungan samudra membuat ku semakin larut dalam dasar rindu.
Aku berdiri diselasar tembok- tembok penompang jembtan Ampera yang berdiri kokoh dalam balutan keprkasaannya.
Tanpa henti kunanti hari itu, masih ku ingat dengan tajan ketika kepergiaannya hari itu, senja dipelabuhan. Wajahnya kupandang dengan cemas, air mataku mengalir denganlembut dipipiku, hangat begiu yang kurasakan
“ kenapa wajahmu berlinangan dengan buiran mutiara yang brharga., janganlah khawatir kepergiaanku kali inipun akan sama seperti kepulangannku, ayolah tersenyum untukku”
Entah kata-katanya tak dapat membuat batinku merasa tenang, rasa ini membungkamku dalam kebisuan, aku tak dapat mengatakan apapun padanya.
“ Ayolah, Andika berjanji akan segera pulang untuk menemui putri hatiku ayolah tersenumlah”
“ Baiklah, aku akan selalu mengingat janjimu, jangan pernah kau khianati cinta yang kumiliki, karena hatiku inikecil dan mudah terluka”
“ tenanglah, aku tak akan pernah mengkhianati cinta kita’
Aku hanya menatap bersama berlayarnya sang nahkoda cintaku, Aku berdiri ditembok penantian sampai hari in pun aku masih berdiri ditembok penantian ini dengan penuh pengharapan ia akan segera pulang”
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun pun kini telah berganti namun janjnya tak kunjung datang kini aku tahu harapan hanya tinggallah harapan janjinya semakin membuat keadanku terpuruki dalam kebimbangan, hingga datang sepucuk surat yang kunantikan tak utemukan kata –kata yag indah penghapus rasa lelah yang selama ini ku nantikan, menitih air mataku perih mulai menyayat hatiku ketika amplop putih brpitakan merah ku baca. Bukan bahagia yang kuterima tapi sayatan – sayatan luka yang ia bingkai dalam sepucuk surat bersama undangan dan foto pernikahannya engan seorang wanita, yang lebih menyakitkan perasaanku, wanita itu tak asing bagiku ya ia Miranda, adi perempuanku.
Kesedihan membuat aku terpuruk kedalam kesendiian, aku ak tahu harus bebuat apa, semua semakin memuat sakit ktika ku tahu hari pernikahanku yang tak pernah aku ketahui dan setujui akan segera berlangsung. Semua ulah ibu tiriku dengan seenak hainya ia memutuskan sesuatu yang tak pernah aku setujui dan aku inginkan. Keputusannya menjodohkan aku merupakan satu pukulan yng menbuat aku semakin larut dalam kehampaan, hanya karena alasan yang tak masuk akal karena ketakutannya aku akan merebut kembali suami anaknya.dan ayahku tak ammpu berkata apapun untuk menolong anaknya ia hanya duduk dan ikut menyudutkan aku seolah –olah aku hanyalah anak yang membawa masalah. Tapi semua tak mampu terelakkan hingga aku harus pasrah dalam keterpaksaan.
Hari pernikahanku dengan laki-laki yang tak ku kenal ku hiasai dengan cucuran air mata, butiran –butiran luka itu tak mampu ku tampung hingga menetes dengan derasnya. Resmilah sudah aku menjadi istri seorang duda beranak satu dalam balutan pernikahan yang sederhana.
Mas Erwin begitu ku panggil ia dalam keseharian, kini hidupku dipenuhi dengan cinta drinya tapi tetap kehampaan yang aku rasakan, namun hidupku sedikit berwarna dengan tawa dan senyum dari “ Keila “ anak tiriku yang kini menjadi belahan jiwa dalam hidupku.
Setahun telah berlalu kini aku mulai hidup kembali dari kehampaan, namun kebahagian itu terkoyak semenjak kedatangan Andika kembali dalam pelukkan mas Erwin, ternyata kepahitan terus berpihak padaku Andika adalah adik bungsu mas erwin.
Masih kutemukan tatapan cinta untukku dari matanya dan panggilan sayangnya kepadaku aku tak mampu berdusta jika peasaan itupun masih aku miliki untuknya.
“ oh, tuhan apa ini, kenapa kau buat aku jdi begini “ bisik hatiku
“ Apa kabar bun, baik saja”
Mas Erwin sedikitpun tak merasakan kecurigaan kepada kami berdua, hingga ia pergi brsama keila meninggalkan aku dan Andika.
“ Cin, aku tahu marah padaku dan masih memendam cintaku untuknya”
“ Tak perlu kau tahu”
“ Aku tahu…” ( memeluk tubuhku)
“ Lepas………. Kau tak tahu sopan, aku istri kakakmu jadi berlakulah dengan baik”
“kau masih cinta padku, aku tahu kini, aku sangat mencintaimu…..sangat dan sangat mencintaimu”
“Tatap mataku, aku ingin tahu “
“ untukku apa tak perlu lagi”
“ kau takut,( menarik tubuhku )
Aku tak mapu menutupi perasaanku, saat mata indahnya menatapa mataku dengan cinta.
Sekejap hidupku kembali berwarna, cintaku kembali setelah aku merasakan kejenuhan, aku kini bisa bersamanya menatap kembali wajahnya, senyumnya,menghirup setiap hembusan nafasnya. . Merasakan hangatnya cinta yang dahulu pernah hilang kini ku mampu melepasa kesedihan dahulu yang pernah aku rasakan.



5.
KALUNG KEMATIAN

Cahaya sang penguasa malam berpancar menembus kaca-kaca yang berdiri kokoh, bintang-bintang berkerlip menghiasi langit, krlipnya bintang temani gelapnya malam menjadi kekasih setia bagi dunia impian hingga datangnyapangeran fajar, udara malam mencekik rapuhkan sendi-sendi dan tulang-belulang, tabuhan suara si panggu semakin membuat langit malam hitam semakin kelam.
Aku hanya diam duduk mematung bertemankan kesunyian di penjara ini, aku tak mampu lagi memandang malam bertabur bintang-bintang derajatku tak memberikan hak untuk itu, karena tubuhku terkukung dibalik jeruji-jeruji besi bertahta kalung kematian. Dingin dan kotor dinding yang berdebu penghias penjara ini bagaikan teman sejatiku, orang-orang akan merasa jijik melihat sekitarku tapi tidak lagi untukku ini bagaikan istana untukku.
Sejak kecil hingga sekarang orang-orang memandangku dengan sebelah mata, aku terlahir bagai anak tiri dunia selalu menjadi korban dan terlupa, tak satupun yang dapat aku jadilan tempat pelipur lara berbagi suka dan duka jika itu terjadi maka para orang tua akan mengutuk anaknya. Masa kecilku berlalu tanpa makna bahkan aku lupa apa aku pernah merasakan indahnya menjadi seorang balita. Mereka tak pernah memberikan setiap hak yang aku punya yang aku miliki hanya cemooh serta cacian yang terus saja dating dan pergi silih berganti dalam hidupku hanya karena aku terlahir dari rahim seorang wanita tunasusila.

“Itulah dunia pikirku penuh dengan ketidak adilan. Kesalahan dan dosa hanyalah milik kami benar-benar kejam,oh…tuhan masih adakah keadilan untukku tak layakkah aku nikmati hidup layanya orang- orang biasa “pikirku keluh
Tak ada sosok ayah dalam hidupku namun aku mengenal sosok ayah dari ibuku, semua kebutuhan ibu yang menanggung namun tubuh ibuku kini telah lemah, wajah cantiknya kini dipenuhi dengan gari- garis keriput. Kecantikan dan usianya ikut larut termakan zaman, para pengerat itupun tak tertarik lagi pada ibu, hingga tak pernah kudengar lagi rintihan-rintihan perih dari ibuku dikala para pengerat itu menikmati setiaplekuk tubuh ibuku yang dahulu amat sering berdendang, terpaksa ibu membanting harga pasarannya agar aku bisa tetap makan.
Beberapa kali pengerat itu mengunjungi tempat tingalku entah dengan maksud apa aku tak tahuketika pulang sekolah aku melihat ibu kelelahan layaknyahabis olahraga. Beberapa kali pula pengerat itu mencoba memeluk dan merangkul tubuhku ibuku hanya tersenyumdan memintaku segera masuk menjauh tiap kali tangan jalang it menyentuh kultku, bibirku keluh ukaku pucat itu yang selau aku rasakan. Tampakolehku mata liar mereka seakan mencium aroma harumdaging muda, mereka kini mengincarku.

Tapi mengapa tak ada yang salah akupun tak ingin memilih kehidupan ini hanya saja tuhan telah memilihkan yang terbaik untuk kaumnya.Akupun tak pernah menimpakan semua kesalahan pada ibuku. Kemiskinan ulah serakah para penguasa yang tamak itu membuat adik-adik ibuku menjerit tangis kelaparan mengiang ditelinga yang memaksanya memutar haluan hidupnya. Bukan kesalahn ibu melahirkan aku semua ini ulah para pengerat-pengerat itu yang mengasah pisau- pisau fitnah dan mereka hunuskan dosa-dosa kedalam tulang-tulang rusukku lalu mereka pula yag menghinakan atas dosa-dosa yang mereka perbuat.

“ mau kemana kau anak manis, sini duduk dipangkuan paman nanti paman ajarkan kenikmatan padamu. Hei Mir berapa tarif yag kau berikan agar aku dapat menyantap daging muda itu” tanya seorang pelanggan ibu.
“ ah tuan bisa saja biar saya saja yang menggantikannya “ jawab ibuku lembut. Matanya mengisyarat aku untuk segera aku masuk dan menjauh. Aku menuruti perintah ibuku.
“ Aku bosan …..aku mau daging muda itu, sini kau manis “ tangannya menarik tubuhku hingga jatuh di pangkuannya. Ia merangkulku dengan kuat sekalipun aku merontah berkali-kali tapi aku tak juga dapat membebaskan diri.
“ kasihan dia tuan, mohon anda lepaskan”
Pengerat itupun tak jua membenaskan aku, ia mendorong ibuu hingga teratuh
“Hai, lepaskan dia, annaku bukanlah aku jangan kau sentuh dia atau kau akan merasakan akibatnya”teriak ibuku lantan.
Pengeat itu melemparkan sejumlah uang kemuka ibu
“ ambil ………….wanita hina’ bentaknya.
“ kami miskin tapi tidak sehina kau, sungguh kau manusia laknat hatimu telah mati bersama ketamakan dan kesombongan dalam dosamu, jangn kau kira kau bisa membeli setiap keinginanmu. “
Pengerat itu melepaskan rangkulannya dariku lalu menjambak rambut ibuku, aku mendorongnya hingga terjatuh aku tak menyangka ia akan mencekiku hingga aku sulit bernafas ibuku makin tesulut emosinya
‘lepaskan anakku kami memang pelayan tetapi bukan budak nafsu, tak pantas kalian dikrarkan sebagai raja, kalian tak lebih dari skeda sampah”
Cekikkan itu terlepas dari leherku namun beralih pada ibuku, melihat ibuku memekik kesakitan aku berlari kedapur tanpa ragu aku meraih sebuah pisau dengan yakin kutancapkan kedada pengerat itu sekalipun hukuman akan aku peroleh., teriakkan kesakitan dari mulut pengerat iu mengundang orang-orang untuk datang. Dari tangnku mengalir darah kotor yang mungkin mengisi tubuhku dengan wajah bisu senyum simpul mengembang dipipiku sengaja atau tidak aku merasa puas.
Gang- gang sempit serta rumah yang berdempetan membuat kabar berhembus dengan mudah, penghuni rumah sususn lainnya brlari pontang-panting melihat kejadian mereka dan beberapa lainnya bertepuk tangan tanpa arti. Rumahku diujung gang terasa sesak padat oleh manusia. Seorang penghuninya menghubungi poisi agar segera datang menyelidiki kasusku ini
“Lari…nak lari….biar ibu yang menggantikan mu hidupmu masih panjang “
Ku dengar teiakkan ibuku tapi tak tahu kenapa kakiku terasa beku “ mau lari kemana percuma”bisik hatiku.
Tak lama berselang berdengug di telingaku aungan mobil-mobil polisi, tak perlu waktu yang panjang mereka menyidukku dengan darah masih berlumuran ditanganku, aku tahu sorot mata itu seakan akan ingin menghakimiku bulat-bulat.
“ya………akulah pelakunya” tanpa ketakukan aku berkata menatap pada pria berseragam karena aku merasa tak bersalah sepenuhnya.
“ Anda kami tahan “ mereka menyeretku seakanmenemukan emas dalam harta karun membawaku kedalam jeruji besi.
Aku tahu hukuman apa yang akan ku terima sekalipun ibu menyewa pangeran berubah hitam dalam pengadilan, hukum kini tak berarti apa- apa bagi tikus miliyoner mereka hanya mendapat denda atau kurungan semata namun bagi atau sekedar ayam kampung mati babak belur atau mati membusuk dalam penjara. Apalagi dengan kasusku ini yang korbannya adalah orang yang berduit yang dapat membeli segalanya denan mudah, tak perlu tawar menawar bagi mereka.
Kurasakan mati dalam kehidupan. Tubuhku keluh, otot-otot sendi serta tulangku telah membeku bersama dinginnya tembok- tembok penjara ini hanya menunggu ketukan plu hakim aku harus rasakan nikmatnya sejuta tanya serta tatapan penghinaan yang tak kunjung berhenti bahkan tak jarang legam membekas di tubuhku.
Hingga persidangan iupun terjadi tapi keajaiban keadilan yng kuharapkan tak kunjung datang, persidangan tak butuh waktu lama hingga hakim mengetuk palunya dan menjatuhkan aku dalamkalung kematian
“ aku hanya berdiri diambang kau dan kematianmu, aku malu tak dapat membelamu hingga kau terlepas dari jerat kalung kematian, maafkan aku…………”
“ Aku tak kecewa , tak usah kau hibur aku karena aku tak takut mati, biarlah aku mati dengan kebanggaan dari pada hidup dalam kenistaan dan penghinaan dengan begitu aku akan menghadap tuhan dengan wajah yang menengadah bukan tertunduk karena malu, hanya saja aku bingung pada nasib ibuku yang telah tua”
“ Sungguh kau telanjangi aku dengan keberanianmu, tenanglah ibumu akan aku masukkan dalam panti jompo sebagai tanda maafku tenanglah kau” balas pangeran berjubah hitam.
Aku mengucapkan terimakasih pada isarat mataku karena seorang petugas membawaku dalam istana gelap.
Dibalik jeruji besi dingin aku duduk termenung menghitung hari kedatangan raksasa hitam bertubuh besar akan memakaikan kalung kematian kedalam leherku atau menanti keajaiban datang hanya cahaya sang penguasa malam dan bintang harapan menemaniku dalam kehampaan .

Rabu, 23 Juni 2010

CERPEN KAROLINA r_r

1.
CINTAKU DI BOM WAKTU

Sang mentari mulai semakin meninggi, sejajar tepat di atas kepala setiap insan yang bernyawa. Namun siang itu tak terasa membakar lapisan kulit, dan itu karena keberadaan angin yang membelai halus untuk kemudian terasa menyejukkan sanubari. Aku duduk di salah satu bangku panjang yang telah hampir pudar warna catnya. Mungkin karena pengaruh cuaca cat hijau muda itu begitu pucat dipandang mata. Kugoreskan rangkaian kalimat pada lembaran-lembaran diary milikku.
“Hati tempat jatuhnya pandangan Allah, jasad lahir tumpuan manusia. Utamakanlah pandangan Allah daripada pandangan manusia.”
Kuulang berkali-kali kata per kata torehan tinta merah itu. Maknanya begitu dalam buatku. Memang kalimat itu bukan dari inspirasiku. Namun ku sangat menyukainya hingga kuabadikan dalam data-data pribadiku.
Bola mataku begitu tertarik saat memandang para akhwat yang berlalu-lalang di hadapanku. Mereka satu kampus denganku, hanya saja beda jurusan. Entah apa saja aktivitas mereka hari ini. Tapi yang pasti ada sesuatu yang membuatku sanggup meniti seperti keadaan mereka. Aku ingin memiliki wajah seperti itu. Wajah-wajah seperti mereka yang terbingkai jilbab nan teduh. Seperti rangkaian kata yang kugores tadi, mengisyaratkan aku untuk memantapkan hati agar aku segera melaksanakan kewajiban sebagai takdir seorang perempuan yang utuh. Tapi kemantapan hati itu nyaris luntur hanya karena penolakan ayahku yang tak suka aku dibungkus tiap helaian kain dari ujung kepala hingga ujung kaki kecuali telapak tangan dan raut wajah itu...
“Ayah, Arumi ingin menunaikan tugas Arumi sendiri. Arumi ingin berjilbab, ayah...” tuturku malam itu, saat ayah sedang menikmati suasana santainya di ruang tamu.jujur saja, aku begitu cemas menunggu jawaban ayahku. Ini telah kutanyakan pada ayah sebelumnya. Namun beliau begitu dingin menanggapinya, hingga tak kuasa aku mengulanginya lagi. Tapi kali ini beda ! Aku meninginkan hak itu!
“Arumi!” ucap ayahku seakan membentak diriku, “Sudah ayah katakan, jangan kau bahas itu lagi ! Ayah tak suka kau menuruti nafsumu. Tidak akan pernah !”
“Tapi ayah, ini hak Arumi...”
“Hakmu?! Mengerti apa tentang hal semacam itu?! Kamu masih jadi tanggung jawab ayah. Jadi, appaun keinginan ayah, kau tak berhak mengacaukannya !”
“Tidak ayah, Arumi ingin ayah mengerti. Arumi ingin turuti kemauan Arumi sendiri...”
“Tidak! Kalau kau terus membangkang, silahkan angkat kaki dari rumah ini! Ayah tak sudi lagi untuk membiayai kuliahmu kalu kau tetap pada pendirianmu yang bodoh itu!”

Hardikan ayah itu membuatku gemetar. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Yang kulakukan hanyalah menangis, menangis, dan menangis. Tak sanggup mendengar kata-kata ayah yang membuatku benci itu, aku pun lantas berlari ke ruang kamarku.
Kugeledah barang-barang, pakaian-pakaian, alat-alat, dan segala keperluanku. Kuboyong semua ke dalam koper hitamku. Saat itu juga aku masih dalam kesedihanku. Aku seret koper besarku keluar dari kamar. Amlam itu juga aku pergi. Mungkin rumah ini kupijakkan terakhir kalinya. Kutemui ayah yang masih terpampang di runag tamu.
“Ayah, jika ayah menginginkan itu, Arumi rela. Arumi angkat kaki sekarang ini juga. Arumi harap, suatu saat ayah mengerti, bahwa inilah kebahagiaan Arumi itu...” ucapku pada ayah. Ayah mendekat. Lalu...,
“Plaaak!!!” Tamparan ayah mendarat di pipi kananku. Bekasnya menerbitkan rasa pedih bagiku.
“Anak tak tahu balas budi! Enyah kau dari sini!” Guntur ayahku memecahkan kesunyiaan malam itu. Dua orang pembantu di rumah hendak menolong keadaaanku. Namun mereka tak bisa. Mereka tak punya hak untuk ikut campur masalah yang menimpa majikannya.
Kemudian, tanpa menghiarukan kata-kata ayah, aku beranjak pergi.
“Assalamu’alaikum, ayah...” salamku pada ayah. Namun ayah diam sambil terus menatapku dengan raut muka yang terasa membunuh batinku.
Di malam yang terasa dingin itu, aku masih dalam kebimbangan. Aku harus kemana? Tidur di mana untuk malam ini? Atau..., tiba-tiba aku terhuyung. Pandangan mataku berkunang-kunang. Langkah kaki terasa berat bagiku. Aku mencoba berpegang pada salah satu tiang yang berdiri di sebuah toko butik yang telah ditutup oleh pemiliknya. Namun pegangan tangan itu seolah-olah rapuh. Aku pun jatuh. Tak bisa kuingat apa-apa lagi saat itu....
“Kau sudah sadar, Arumi?” tanya seorang pria yang duduk di tepi tempatku berbaring. Yang kulihat saat itu masih terasa kabur, segalanya masih kurang jelas dari apa yang ada di hadapanku. Sang pemilik suara itu begitu aku kenal. Wajahnya pun bisa aku tebak.
“Noe...?” tanyaku seolah-olah tak menghiraukan pertanyaan laki-laki itu.
“Ya, ini Noe. Gimana? Sudah mendingan keadaanmu sekarang? Ucapnya lagi.
“Aku tidak apa-apa. Badanku terasa ringan sekarang.”ucapku bohong”. Terus bagaimana aku bisa disini? Tempat apa ini?” tanyaku kemudian.
“Syukurlah kalau kamu sudah sehat kembali. Kamu itu pingsan semalam. Karena kamu pingsannya di depan butik milik ibuku, dan saat itu juga aku melihat kamu tergolek di sana, aku langsung membawamu pulang ke rumahku ini.” Jawab Noe.
Sejak saat itu, aku tinggal di rumah Noe, teman baikku di kampus. Aku telah menceritakan kepada Noe dan ibunya sebab-musabab aku pergi dari rumah. Saat itu, aku berkeinginan untuk tinggal di rumah lain saja. Ya, daripada aku harus merepotkan kehidupan Noe. Aku hanya tinggal beberapa hari di rumah yang cukup mewah itu.
“Noe ..., aku telah merepotkanmu dan ibumu. Boleh aku menetap di rumah lain saja? Adakah tempat itu untukku, Noe?” pintaku saat itu pada Noe, saat berada di perpustakaan kampus kami.
“Untuk apa kau pusing memikirkan hal itu? Apa kau tak suka tinggal di rumahku?”tanyanya penuh selidik.
“Bukan itu, Noe. Kamu tau kan, kita ini bukan satu mahram. Aku dan auratku telah ditutupi oleh pakaian-pakaian terhormat bagiku. Dan pakaian-pakaian yang kebanyakan dari butik ibumu itu telah membuatku tunduk untuk lekas pergi dari rumahmu itu. Apa kau pikir pemberian dari ibumu akan kunodai dengan keberadaanku di tempat tinggalmu itu? Tidak, Noe. Aku tak akan sanggup untuk itu... Aku harus pergi.....”
Noe hanya diam. Dia sepertinya mengerti keinginanku. Dan kata terakhir dari pertemuan itu kemudian membuatku lega. Noe mengabulkan.
Rumah petak yang telah lama tak dihuni oleh pemiliknya, berada di ujung jalan dari rumah Noe menjadi tempat tinggalku. Rumah ini cukup terjangkau harganya dengan saku anak kuliahan sepertiku. Beruntung aku masih punya sejumlah tabungan dari ATM pribadi. Jadinya aku bisa menempati rumah ini, mungkin untuk sementara waktu. Sebenarnya Noe memintaku untuk tinggal di sebuah rumah yang jauh lebih bagus dari rumah kecil itu. Namun aku menolak maksud baiknya. Aku tak ingin berhutang budi lebih banyak lagi pada Noe. Dia pun menerima penolakan halusku itu.
Rumah sewahan itu telah kutempati berminggu-minggu. Rumah sewa itu didapati dari Noe sandiri. Saat waktu senggang, Noe kerap kali datang menemuiku ke tempat rumah sewa itu. Ya sekedar ingin tahu keadaan diriku. Mengetahui aku sering sakit-sakitan, jadinya dia terlalu mengkhawatirkan kesehatanku.
Berbulan-bulan lamanya aku tak mendengar kabar ayah lagi. Kupikir dia telah membuangku dari kehidupannya. Tapi..., ah! Aku merasa kangen juga sama ayah. Biar bagaimanapun juga dia itu ayah kandungku. Satu-satunya orang tua yang aku miliki. Saat aku dalam kesendirianku siang itu, kembali kepalaku mendadak pusing. Kudapati darah segar dari kedua lubang hidungku. Aku mengusap dan berusaha menghentikan aliran darah itu dengan daun sirih seperti yang diajarkan oleh ibunda Noe.
“Ya Allah, darah ini lagi... Darah...! tolong aku, ya Allah....” ucapku cemasku hendak berdiri untuk mengambil obat dari laci meja riasku. Namun, belum sempat kumenelan obat berharga itu, aku pun lunglai untuk kemudian tak sadarkan diri...
Aku merasakan di ruangan yang tak asing lagi bagiku. Kucium ruangan yang berbau obat-obatan, mual rasanya buatku. Kudapati sosok tubuh yang menjadi panutanku dari lahir, Ayahku. Entah dari mana dia tahu keberadaanku saat itu.
“Ayah..., betulkah di hadapanku ini ayahku...?” ucapku susah payah. Mulut ini rasanya sulit untuk berkata. Namun kupaksakan untuk selanjutnya mendengar suara ayah yang telah lama tak aku dengar.
“Ma’afkan ayah, Arumi. Ma’afkan ayah, nak...” balas ayahku seraya menggenggam tangan kananku. Ayah pun tak kuasa menahan tangisnya.
“Ma’af untuk apa, ayah...? Ayah tak punya salah pada Arumi, anak ayah sendiri...” kataku padanya.
“Ayah telah menelantarkanmu sebagai seorang anak. Ayah benar-benar minta maaf atas kesalahan ayah dahulu...” Aku tersenyum membalas tatapan ayah.
“Arumi..., kenapa kau tutupi penyakit malangmu ini dari kami? Ayah tak sanggup melihat keadaanmu seperti ini. Sejak kapan kau dijangkiti kanker otak ini, Arumi...? sejak kapan...? “tanya ayahku, masih menangis dan memegang erat tanganku.
“Ayah, Arumi sehat-sehat saja kok. Ayah jangan khawatir.” ucapku, mencoba membuat tenang ayahku.
“Tidak! Ayah menemui lembaran ini, hasil pemeriksaan dari dokter kalau kau mengidap penyakit ganas ini. Ayah temui itu dari Noe. Noe yang mengantarkanmu ke rumah sakit ini. Dan bukti ini Noe dapati dari laci meja riasmu.” Kata ayah sambil menunjukkan amplop coklat berukuran besar yang berisi hasil pemeriksaan dari dokter yang kuperoleh 2 minggu lalu.
Aku diam. Kutatap dalam-dalam ayahku. Noe yang berada di damping ayahku hanya bisa menyembunyikan kesedihannya. Mungkin tak mau dirinya rapuh di hadapanku. Jilbab merah muda bermotif bunga melati melekat di kepalaku. Baju dan celana panjang yang senada dengan warna jilbabku kupakai saat itu. Aku semakin tak kuat. Nafasku terasa terhenti, kesempatan jantungku untuk berdetak perlahan-lahan tak ada lagi. Aku tahu, kesempatan waktuku untuk hidup seolah-olah menjadi bom waktu bagiku. Sempat kudengar pecahan tangisan Noe dengan menyebut namaku setelah sekian menit dalam diamnya itu. Aku hanya bisa sanggup meninggalkan ucapan yang aku turuti dari kata-kata ayah. Dua kalimat syahadat yang dilafazkan dari mulut ayahku, mengantarkan aku dengan penuh ketenangan. Telah kutunaikan dalam menjaga auratku pada kesempatan itu. Aku bahagia dalam cinta hakikiku itu.




2.
MA'AFKAN AKU

Di ruang kerja, Damar masih berkutat dengan laptopnya. Dia memandang berkas-berkas penting dengan raut muka yang kusam.
“Agh! Kenapa semuanya jadi begini?” Gerutunya malam itu.
“Ada apa, mas? Aku perhatikan dari tadi, mas marah-marah terus bawaanya. Ada yang salah sama kerjaanya, hem?” Tanya istrinya sambil membelai rambut suami tersayangnya itu. Damar menoleh dan dia pun berkata,
“Ga ada apa-apa. Sudahlah…, kamu tidur aja sana! Ga perlu khawatirkan aku….”
Nayla , istrinya terdiam sejenak. Sepertinya dia sedikit tersinggung dengan ucapan Damar. Dia merasa tak dianggap . Tapi, Nayla berlalu dan berusaha meredam egonya.
Tak hanya satu atau dua kali Damar bersikap seperti itu pada istrinya. Tapi berulang kali. Ya, sejak ia berkerja di sebuah perusahaan ternama di Yogyagkarta, sikap Damar berubah. Dia arogan, kerap tak kuasa menahan egonya, tak memperhatikan lagi keadaan istrinya, dan semua itu terjadi hanya pada istrinya.
Keesokan paginya….
“Mas…, sarapan dulu ya…” Ajak Nayla pada Damar.
“Biarlah. Ga usah,Nayla…. Mas sarapan di kantor aja. Mas pergi dulu ya….” Pamit Damar tanpa pernah lagi mencium kening Nayla seperti biasanya. Dan Nayla hanya bisa mengurut dada.
Di kantor, Damar langsung menemui Bosnya. Dia telah membayangi betapa sangarnya beliau jika telah tahu itu….
“Permisi, Pak….” Ucap Damar.
“Ya masuk.” Balas Mahardi, Bosnya.
“Ada apa?” Tanyanya kemudian.
Damar diam sejenak. Pak Mahardi sedikit mengkerutkan dahinya melihat ketakutan di wajah Damar.
“Hem…, anu Pak. Ber… berkas yang kemarin kita ajukan pada pemegang saham utama itu…, ehm… hilang Pak….” Suara Damar gemetar.
“Apa kamu bilang?! Hilang?! Seenaknya saja kamu bilang hilang? Kenapa bisa begitu Damar?” Ucap pak Mahardi dengan nada tinggi.
“Entahlah, Pak…. Semalam saya buka filenya untuk kemudian saya print. Tapi, sekali lagi saya minta ma’af. Filenya hilang tanpa bekas, pak….” Kata Damar dengan suara gemetar, tampak jelas ketakutan di wajahnya saat itu.
“Damar, mulai saat ini kau kutugaskan untuk kerja lembur, sampai berkas itu selesai besok pagi. Kalau tidak, otomatis kau kupecat Damar!” Ancam pak Mahardi.
“Tapi pak….” Potong Damar.
“Tidak! Kali ini aku tegaskan padamu Damar. Pemegang saham utama itu adalah Bapak Najiburrahman. Dan kau tahu kan, bila berkas penting itu belum kau presentasikan kepada beliau, itu artinya semuanya rusak! Termasuk kau Damar! Kita semua terancam musnah dari pekerjaan ini…. Berkas itu penting untuk diajukan sebagai bukti. Pikirkan itu Damar!” Kata pak Mahardi dengan masih menampakkan wajah amarahnya.
“Baik pak. Kalau itu yang bapak inginkan, saya kerjakan dari sekarang.” Kata Damar pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia tak mempunyai hak untuk marah pada atasannya itu. Toh, ini salahnya juga, pikirnya.
Damar melangkah lunglai menuju ruang kerjanya. Berkas atau laporan itu tak sedikit untuk dibuat dengan rapi. Dan itu pun dipresentasikan pula olehnya besok hari. Pukul 15.00 sore barulah Damar bisa beristirahat sejenak untuk mengisi kekosongan perutnya. Ia makan dengan ditemani Anggita.
“Masih banyak kerjaanmu, mar?” Tanya Anggita teman sekantornya.
“Begitulah, ta….” Jawabnya.
“Aku bantu kamu boleh?” Tawar Anggita.
“Ah, ga usah. Ini tanggung jawabku sendiri. Kamu tak perlu bersusah payah membantu aku….” Ucap Damar.
“Istrimu tahu kalau malam ini kamu lembur?” Tanyanya lagi.
“Sepertinya tidak. Kenapa?” Kata Damar.
“Ga. Hanya ingin tahu aja.” Ucap Anggita.
Ada senyum mengembang tampak di wajah Anggita. Entah apa maksudnya. Damar tak bisa menebak semua itu.
Ponsel Damar berdering. Damar ragu untuk menjawab panggilan itu.
“Siapa mar?” Tanya Anggita.
“Nayla.” Jawab Damar.
“Jawab saja. Panjang umur istrinya itu. Baru aja ditanyain.”
Kemudian….
“ Hallo.” Ucap Damar.
“ Mas…, pulang jam berapa hari ini?” Tanya pemilik suara di ujung sana.
“Lembur. Jadi tak perlu kamu menunggu aku lagi. Besok siang aku pulang.” Jawab Damar.
“Kenapa lembur mas? Bukankah ini hari Sabtu? Biasanya mas pulang lebih awal dari biasanya kalau hari Sabtu seperti ini….”
“Sudahlah…, jangan banyak tanya. Aku baik-baik saja. Kamu hati-hati saja di rumah.”
Panggilan pun terputus….
“Loh, kenapa kamu matikan langsung mar? Tanya Anggita.
“Ya sudahlah. Aku kerja lagi. Kamu mau pulang ta?”
“Ya.”
“Ma’af, aku tak bisa mengantarmu.”
“Ga apa-apa. Aku duluan ya mar…. Semoga lekas selesai kerjaanmu hari ini.”
Damar pun hanya tersenyum dan berucap,
“Terima kasih.”
Pukul 21.22 Damar masih berkutat dengan kerjaannya. Dia hanya ditemani oleh dua orang security di kantor itu. Itu pun mereka bertugas berjaga di luar. Saat itu pula ponsel Damar berdering lagi. Damar merejectnya, kemudian menonaktifkannya. Ia tak mau diganggu siapa pun juga.
Pukul 00.33, seseorang datang dengan penuh kepanikan. Dia Pradipta Ningsih, teman baik istrinya yang juga berdekatan dengan rumah mereka. Pradipta masuk ke ruang kerjanya dengan ditemani satu orang security.
“Mar, kau harus pulanh sekarang….” Kata Pradipta dengan suara gemetar.
“Kenapa? Kau bersama istrikukah datang ke sini?”
“Ga. Dia… dia sekarang di rumah sekarang mar….”
“Ha?! Nayla kenapa? Dia sakit? Ah, kalau itu bohong. Dia sehat-sehat saja kok hari ini….”
“Damar, dia itu mencoba bunuh diri….”
Damar terdiam. Pradipta hanya bisa menarik tangan Damar untuk digelandang keluar dari kantor itu.
Sesampainya di rumah sakit, di ruang UGD.
“Ma’af pak..., bapak salah satu keluarga dari ibu Nayla?” Tanya si dokter yang kira-kira usianya 40 tahunan.
“Ya, saya suaminya.” Jawab Damar.
“Ma’afkan kami, pak….”
“Kenapa dokter….?”
“Ma’afkan kami. Kami telah berusaha. Tapi istri bapak tak bisa tertolong lagi. Istri bapak meneguk racun serangga secara berlebihan. Semua organ tubuhnya fatal akibat racun ini….”
“Tidak. Dokter bohong…. Dokter pasti bohong!”
Damar pun lekas menghampiri jasad istrinya.
“Kenapa kau lakukan ini, Nay…? Aku minta ma’af…, aku salah. Aku tak memperhatikanmu lagi…. Nay…, bangunlah sayang…. Nay….” Lirih Damar sambil memeluk jasad istrinya yang telah terbujur kaku itu.
Pradipta yang sedari tadi diam hanya bisa menangis. Dia mencoba memberi ketegaran pada suami teman karibnya itu.
“Nayla…, ma’afkan aku….” Lirih Damar. Di tengah malam itu…, dia pun menyesal. Kesibukannya selama ini telah menghilangkan istrinya sendiri….


3.
LEMBARAN WARNA MILIK ARA

Angin lembut seolah-olah menyisir dedaunan. Daun yang menghijau dibuai manja oleh angin. Daun kering hingga kecoklatan, gugur jatuh ke tanah yang dilumuri rerumputan kecil. Corak pepohonan yang seakan-akan hendak menjamah langit, menambah keteduhan karena rindangnya dedaunan. Tak sedikit pula bermacam-macam hewan yang berada dalam lindungan hutan wisata di sebuah kota tempat tinggal Ara. Ya, itulah tempat kenangan tersembunyi bagi dirinya. Kenangan yang tak kan dihapus oleh memory hidupnya.
Terdengar deru motor berwarna merah tua. Dan, motor itu berhenti tepat di hadapan Ara, gadis berparas manis dengan belahan dagunya yang khas.
“Udah nunggu lama, ra?” Tanya Febian, pria yang mengambil pendidikan D2 itu seraya melepaskan helm yang melekat di kepalanya.
“Anu..., ehm..., enggak juga kok. Paling 10 menit Ara di sini...” Jawab Ara tersenyum, tampak gugup.
Febian langsung memarkirkan motor kesayangannya, dan motor itu berjajar sama seperti motor-motor lainnya, berdiri bak siswa yang disetrap gurunya di bawah teriknya sinar matahari.
“Temani Kak Bian makan dong....” Pinta Febian kemudian.
“Kak Bian laper, ya?” Tanya Ara memastikan.
“Iya. Makanya Kak Bian meminta kamu nemenin kakak untuk ke warung makan seberang sna.” Jawab Febian sambil menunjuk sebuah warung makan yang disebelahnya ada 2 buah pelataran. Ara pun tersenyum, mengangguk tanda setuju.
Ara dan Fabian duduk berhadapan. Meja makan mereka menempati urutan pertengahan. Ara yang memilihnya.
“Ara, kamu tidak berubah ya dari dulu? Tetap membiasakan senyum ketika Kak Bian datang, dan Kak Bian suka itu...” ucap Febian usai memesan makanan. Ara tersipu malu, tapi masih dalam diamnya itu.
“Kamu ingat udah berapa lama Kak Bian tak menatap kamu lagi? Menancap ke ulu hati Ara yang paling dalam.
Ara masih diam. Sulit sekali baginya untuk berucap. Terkadang dia benci dengan keadaan seperti itu.
Febian menunggu kata-kata yang hendak keluar dari mulut Ara. Seolah-olah sedang berpikir, Ara akhirnya melontarkan sesuatu.
“Aku rasa...., Ara enggak ketemu Kak Bian selama 4 bulan deh. Bener kan Kak Bian? Eh iya, tampaknya Ara ngerasain sesuatu deh.... Kak Bian potong rambut, ya...? duh gantengnya...” Goda Ara sambil menerbitkan tampang muka lucunya yang membuat Febian malu sendiri.
“Biasa aja, Ara... Kak Bian kan keraj sambil kuliah. Kerja di lingkungan sekolah, masa’ Kak Bian berperawakan sangar dengan rambut yang tak diurus?” Balas Febian sekenanya saja.
Satu jam Febian dan Ara baru keluar dari warung makan itu.
“Sekarang mau ajak Ara kemana, Kak Bian?” Tanya Ara sambil berjalan beriringan dengan Febian.
“Terserah Ara aja. Kak Bian mah maunya ngeluangin waktu seharian ini bersama kamu di tempat ini...” Jawaban yang seketika membuat Ara tersanjung.
“Masa’ sih ? kepingin bersama Ara terus di sini ya? Baguslah! Ara hanya enggak mau ketemu Kak Bian yang bisa dibilang berjumpa di dunia maya aja. 1 kali dalam 3 tahun! Apa enaknya Kak Bian...?” kata Ara pura-pura manyun.
“Dikira bang Toyib apa 1 kali dalam 3 tahun?! Kan kita enggak saling ketemu baru 4 bulan seperti yang Ara bilang tadi. Bukan 1 kali dalam 3 tahun...” Balas Febian sebelum Febian menerusakan kata-katanya, Ara memotong ucapannya.
“Istilah, Kak Bian...” Istilah Ara yang bilang Kak Bian jarang ketemu Ara di sini....” Lalu Febian berucap, mencoba memberi pengertian kepada Ara.
“Ara..., kita kan udah komitmen untuk jaga semua resiko itu. Wajar dong kalau Kak Bian enggak bisa ketemu Ara terus. Ara peham kan?” Ara diam sejenak, dan mulai luluhlah sifat kekanak-kanakan itu dari dirinya.
Di tempat itu, di hutan wisata itu, Ara semakin tak mau melepaskan Febian ketika dia pulang nanti. Ara seolah-olah tak puas untuk menatap Febian yang selama ini jarang ia temui. Ya, mereka mengambil resiko untuk menjalin hubungan jarak jauh. Febian jauh dari Ara. Febian beda provinsi dari dirinya. Maka, tak heran mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk saling bertatap muka.
Namun kini..., setelah 1 tahun lebih Ara menjaga hubungannya dengan Febian, pertemuan di tempat itu hanya sanggup meninggalkan kenangan. Febian telah pergi untuk selamnya, pergi dari sisi Ara dan tak akan pernah kembali lagi.
“Kak Bian...m Ara sayang sama Kak Bian. Tersenyumlah untuk Ara di sini ya? Tidur yang tenang di duniamu sana.” Hati Ara membatin, menguraikan luka dan kenangan yang teramat dalam ketika ia kembali menemui tempat itu lagi....


4.
YANG TERKENANG, YANG TERLEPASKAN

Matahari semakin lama semakin menyipitkan sinarnya. Angin menhela, membelai kulitku yang sarat akan kebimbangan hatiku. “Ah! Apakah aku bisa menikmati kembali kehangatan suasanan seperti ini lagi?” Tanya batinku sendiri. Akupun tak tahu.....
“Adis..., mari masuk kerumah, nak...!” ajak ibuku yang memecahkan lamunanku. Cukup lama aku termangu bersandar di belakang rumahku. Aku ingin menatap lama kampung halamanku itu. Padi yang tinggal menunggu masa panennya. Menguning bernas memuaskan hati. Mata air pegunungan yang bening, bebas dari jamahan polusi. Ketawa-ketiwi anak kecil yang doyan melewati pematangan sawah di belakang rumahku tiap harinya. Semua itu mungkin tidak bisa aku rasakan dan cicipi lagi....
Akupun mulai beranjak dari pelataran dan menuju mulut pintu. Hatiku tetap tidak menemui jawaban itu....
Keesokan harinya ...., aku bangun lebih cepat dari biasanya, setelah melaksanakan ibadah sholat subuh, tiba-tiba....
“Adis, kau mau kemana? Apakah kau lupa hari ini kita akan berangkat ikut ayahmu ke kota?” tanya ibuku yang heran akan tingkah lakuku pagi itu.
“Adis mau menemani Zia dulu, bu...?” jawabku seadanya sembari terus menyelusuri lorong-lorong rumah ku yang jauh dari bagus itu.”
Belum sempat ibu mengeluarkan kata-katanya lagi, aku telah menghilang menggalkan ibuku di Ruang Tengah. Beliau dari pukul 04.00 Subuh tadi sudah sibuk bergelayut dengan segala perabotan rumah tangga yang akan dipindahkan ke mobil milik paman Yuan.
“Assalamu’alaikum.” Ucapku ketika tiba dirumah Zia, sahabatku.
“Wa’alaikumsalam” jawab orang didalam sana. Adis tahu betul kalau itu adalah suara milik Zia. Ketika daun pintu berumah panggung itu terbuka,
“Loh? Kok kamu yang menemui aku? Kan seharusnya kau yang datang ke rumahmu. Kamu sudah siap mau berangkat, dis.....?” tanya Zia.
Bukannya menjawab, aku langsung memeluk Zia. Aku masih diam. Aku mulai menangis.
“Kenapa Adis.....?” tanya Zia lagi, sabar.
‘Aku tak mau tinggalin semuanya. Tega tinggalin kamu, tega tinggalin desaku, tega melepaskan yang sebenarnya tak aku inginkan...” ucapku pecah. Dan saat itu, subuh yang semakin lama semakin pergi, membuat Zia terdiam atas jawabanku barusan. Kemudian aku kembali menangis. Agak lama Zia membiarkanku menagisis semuanya. Lalu....
“Kamu tahu Adis, aku juga tak mau kehilangan sahabat seperti kamu. Tapi toh, kamu harus pergi. Ayahmu menginginkan agar kamu menjadi orang yang sukses saat tinggal di kota nanti. Jangan kau turuti aku yang bodoh ini. Kamu cerdas. Dan ayahmu menginginkan agar kamu bisa lebih dari itu....” nasehat Zia semabri mengelus punggungku. Aku masih diam. Mencoba mencerna setiap kata-kata Adis itu.
Hari semakin tinggi. Tepat pukul 07.00 aku telah siap untuk berangkat meninggalkan semua yang ada dihadapanku ini. Semua barang telah dinagkut ke mobil. Aku menghampiri Zia yang berdiri siap untuk melepas kepergianku.
“Zia...., aku tak akan pernah melupakan kampung ini. Kampung yang sejak kecil aku lewati bersama kamu.” Kataku lirih sambil menggenggam tangan Zia yang terasa dingin.
“Aku paham, setelah sampai di kota, tolong kau kabari aku, ya!” pinta Zia tersenyum. Aku mengangguk.
Sawah milik ayah telah terjual ke tangan pemilik yang baru. Meski sawah itu aduhai enaknya dipandang mata, bulir-bulir padi menguning indahnya, tetap itu tak bisa dinikmati lagi. Rumahku yang sedrhana namun membuatku betah tinggal di dalamnya, Tak mungkin ku tempati lagi. Aku harus pergi jauh ke kota. Mengejar cita-cita yang sejak dulu aku impikan. Ya, ayah menhendaki agar kami pindah. Sawah dan rumah yang dijadikan sebagai modal untuk memiliki rumah serta penghidupan yang baru. “Ah...., entah sampai kapan aku bisa miliki lagi harapan itu...” ucap batinku seraya melepas jalan kampungku satu persatu.


5.
PERTEMUAN MISTERI

Jika ada yang bertanya, bagaimana suara roh berjalan, Egi adalah orang yang bibisa menjawabnya. Jika ada yang bertanya, seperti apa wujud roh sebenarnya, Egi bias menjawabnya. Mengapa begitu? Apakah Egi pernah mati dan hidup lagi?
Tidak.
Pemuda berpenampilan sederhana itu belum pernah mengalami mati walau sekejap pun. Bahkan awalnya ia tidak menyadari bahwa ia pernah berbicara dengan orang yang telah lama meninggal. Kesadarannya itu dimulai saat ia mengantarkan tetangganya ke rumah sakit.
Malam itu, pintu rumah Egi diketuk oleh Tante Dwira, kira-kira pukul setengah satu lewat. Egi terpaksa bangun dan membukakan pintu untuk Tante Dwira.
Dengan cemas Tante Dwira yang tinggal di sebelah rumah kontrakan Egi itu berkata, “Egi, Tante minta tolong antarkan Oom ke rumah sakit dong. Kayaknya dia semakin parah tuh…!”
Begitulah hidup bermasyarakat. Karena Egi punya mobil yang biasa dipakai buat angkutan kota, dan kebetulan ada tetangga yang butuh bantuannya, maka Egi pun akhirnya berangkat ke rumah sakit untuk mengantarkan Oom Abdi yang sedang sakit. Entah sakit apa, yang jelas wajahnya makin pucat dan panas badannya sangat tinggi.
Yang ikut ke rumah sakit bukan hanya Tante Dwira, tapi juga Roni, adik Tante Dwira yang masih sekolah di STM. Tapi waktu Oom Abdi dibawa ke salah satu ruang dengan kereta dorong, Egi tidak mengikutinya. Hanya Tante Dwira dan Roni yang mengikuti ke ruangan pemeriksaan. Egi menunggu tak jauh dari pintu gerbang rumah sakit.
Suasana malam itu cukup sepi. Rumah sakit menimbulkan kesan menyeramkan karena bau obat dan bau-bauan lain yang tak dimengerti Egi. Hanya saja, karena di bangku itu ada tiga orang yang sedang menunggu keluarganya yang dirawat di situ, maka Egi tidak begitu takut.
Tiga orang itu yang masih melek Cuma satu. Yang dua tidur meringkuk di atas bangku panjang. Di bawah bangku itu ada termos air panas dan gelas, serta rantang yang mungkin berisi makanan untuk santap malam orang tersebut.
Lelaki yang masih melek itu menghisap rokok. Duduk dengan salah satu kaki dinaikkan ke bangku, santai. Karena cahaya lampu kurang terang, maka Egi tidak bisa melihat jelas wajah orang tersebut. Egi tak berani menyapa, takut mengganggu ketenangan orang itu. Siapa tahu dia sedang sedih dan ingin merenungi nasib familinya yang mondok di situ, maka teguran dan sapaan Egi hanya akan menghadirkan kedongkolan saja baginya. Karena itu Egi tidak menyapanya. Egi pun ikut merokok.
Dari tempat Egi duduk, tampak ruangan yang dipakai memeriksa Oom Abdi. Egi tahu, tadi Oom Abdi dan perawat masuk ke situ, juga Tante Dwira dan Roni. Tak heran jika Egi sesekali menatap pintu masuk ruangan itu dengan harapan siapa tahu Tante Dwira atau Roni segera keluar menemaninya duduk di bangku tersebut. Ternyata sampai setengah jam mereka belum keluar juga.
Tapi beberapa saat Egi melihat dari arah pintu depan atau pintu gerbang yang dipakai masuk oleh umum ke rumah sakit itu, datanglah seorang lelaki yang usianya kira-kira tiga tahun lebih tua dari Egi. Lelaki itu dating sendirian. Jalannya tidak terlau cepat, namun juga tidak terlalu lamban. Matanya memandang ke sana-sini, seakan mencari sesuatu yang ingin ia temukan secepatnya. Lelaki itu mengenakan jaket levis yang buntung tangannya, jadi seperti rompi. Mengenakan topi hitam kecoklat-coklatan, mengenakan sepatu kitch lusuh warna putih kusam.
Semakin dekat semakin jelas bagi Egi, bahwa lelaki itu bertampang kasar. Tulang-tulang pipinya tampak bertonjolan. Keras. Kumis dan jenggotnya habis dicukur. Badannya cukup kekar, terbukti dari lengannya yang besar. Bahkan pada lengannya terdapat tato, yang kiri tato gambar naga menyembur api, yang kanan tato gambar keris berdiri di atas tengkorak manusia.
Gambar tato itu terlihat jelas sekali oleh Egi sebab lelaki itu menghampiri Egi dan bertanya, “Ruang dokter jaga di sebelah mana, Mas?!”
“Wah, saya nggak tahu, Bang,” jawab Egi. “Saya Cuma mengantarkan tetangga yang sedang sakit.”
Lelaki bertubuh kekar itu duduk sambil manggut-manggut, matanya menatap sekeliling. Sorot mata itu tidak berkesan galak, hanya berkesan bingung. Sepertinya ia harus cepat-cepat menuju ke ruang yang dipakai kantor oleh para dokter yang malam itu bertugas menangani beberapa kasus di rumah sakit te3rsebut.
“Lalu…,” orang itu bertanya lagi, “Kalau kamar mayat arahnya ke mana dari sini, Mas?”
“Kamar mayat…? O, kalau nggak salah jalanan ini lurus saja, lalu belok ke kiri dan lurus sampai pol. Nah, di situ adanya kamar mayat.”
“Ooo…,” lelaki itu mengangguk-angguk. Kemudian ia segera pergi sambil berkata, “Makasih ya…!”
“Sama-sama, Bang…!” jawab Egi.
Ada sesuatu yang aneh ketika lelaki itu pergi menuju jalan yang ditunjukkan Egi. Sesuatu yang aneh itu belum dimengerti Egi, dan ia belum sempat memikirkannya, karena lelaki yang duduk menghisap rokok itu segera mendekatinya.”
“Situ sendirian, Dik?”
“Iya, Pak. Bapak juga sendirian?”
“Sama adik saya. Tuh yang lagi tidur.”
Sebenarnya masih ada yang ingin ditanyakan Egi kepada lelaki itu, tetapi dari arah depan terdengar suara sedikit gaduh. Banyak orang masuk melalui pintu gerbang dengan terburu-buru. Oh, rupanya ada korban kecelakaan yang dibawa ke situ.
Lelaki yang merokok itu mendekati kerumunan orang, sedangkan Egi ikut-ikutan mendekati mereka, ingin tahu apa yang telah terjadi sehingga sejumlah tujuh orang saling tergagap-gagap. Mereka menggotong korban, lalu meletakkan ke kereta dorong. Ada yang rebut mencari dokter, ada yang menanyakan tentang perawat, bahkan ada Satpam yang bergegas ke gang sebelah kiri. Korban itu belum didorong untuk dibawa ke suatu tempat.
“Jal… Jal, bertahanlah. Jal…!” Kata seseorang kepada korban dengan cemas. Tetapi tak berapa lama, korban menghembuskan napas yang terakhir. Orang itu berseru, “Jal…?! Jali…?!”
Lalu dua orang yang ada di sampingnya menggumam dengan suara penuh duka, “Innalillahi wainna Illahi roji’un…!”
“Jal… oh, Jal… kamu mendahului kami, Jal…” orang yang tadi menyuruh korban bertahan itu menangis, lalu dipeluk temannya.
Egi belum berani terlalu dekat,karena ngeri melihat darah. Ia bertanya kepada salah satu orang rombongan yang sebaya dengannya.
“Kenapa dia? Tabrakan ya?”
“Bukan. Berkelahi. Biasa sesame preman kalau kalah ya begitu. Pasti ada yang mati salah satu. Bang Jali dibacok oleh lawanya dengan clurit dan lambungnya pun robek. Ia kena empat kali bacokan. Tapi ia termasuk kuat loh, sampai sekarang baru meninggal. Padahal kejadiannya sudah tiga jam yang lalu....”
”Ooo... preman.....” gumam Egi.
Mendadak Egi terkejut setelah memperhatikan jaket levis yang dikenakan oleh korban. Ego mendekat untuk mempertegas penglihatannya. Dan ia nyaris terpekik begitu melihat gambar tato di lengan korban. Tato gambar keris berdiri di atas kepala manusia. Wajah korban pun membuat Egi terbelalak bengong. Sepatu korban dari jenis kitch putih kusam. Badan korban kekar. Jaket levis itu buntung, seperti rompi.
”Bawa saja ke kamar mayat, langsung....” ujar seorang perawat kepada temannya yang sama-sama baru datang.
Ketika korban dibawa ke kamar mayat melalui depan Egi, jantung Egi semakin berdetak cepat, karena Egi melihat sisi lengan sebelahnya lagi yang terdapat tato. Dan gambar tato ituadalah gambar naga menyemburkan api.
Maka, mulailah Egi merinding sekujur tubuhnya karena ingat seorang lelaki yang tadi menemuinya dan menanyakan arah jalan menuju kamar mayat. Egi menjadi lemas. Ia duduk di bangku semula sambil menggumam dalam hati, ”Kalau begitu... roh preman yang mati itu sudah mendahului jasadnya untuk sampai ke kamar mayat...!”
Terbengong Egi dengan wajah tegang membuat lelaki yang tadi merokok dan yang adiknya yang sedang tidur itu berkata kepada Egi, ”Kenapa pucat, Dik? Takut melihat orang mati, ya?”
Egi bingung menjelaskannya. Bibirnya gemetar dan gemuruh di dalam dadanya membuat ia sukar bernafas. Orang lelaki itu menjadi cemas melihat Egi sepucat itu.
”Dik, Dik... kenapa kamu?”
”Eh... hmmm... ah...!”
”Sudahlah tidak perlu takut. Kita semua nantinya juga akan digiring ke kamar mayat, atau mati, seperti preman tadi. Jangan membayangkan kematian kalau takut mati.”
”Sssa... saya... saya bukan takut mati, tap... tapi orang yang tadi bicara dengan saya itu... itu adalah roh preman yang baru saja mati, Pak”
”Hah...?!” Maksudnya bagaimana sih?!” Orang itu tampak tegang.
”Tadi... tadi Bapak melihat saya bicara denganlelaki berjaket buntung,kan? Yang menanyakan arah kamar mayat tadi loh....”
”Lelaki yang mana?” Orang itu bingung. ”Justru terus terang aja, saya tadi merasa takut juga ketika melihat situ bicara sendiri berkata ’sama-sama, Bang’. Saya takut loh, Dik. Betul. Soalnya saya tidak melihat siapa-siapa di sebelah situ, tapi kok situ ngomong sendiri. Saya memang mendengar situ tadi menunjukkan jalan menuju kamar mayat, tapi... tidak ada orang yang situ ajak bicara.”
"Ah, ada! Orangnya yang berpakaian dan berpotonganseperti preman yang barusan mati itu, Pak."
"Nggak ada! Makanya situ lalu saya ajak bicara, soalnya saya mau tanya, situ habis ngomong sama siapa?"
Sekali lagi Egi terbengong dengan jantung makin keras berdetaknya, sehingga terasa seperti tidak berdetak lagi. Makin lemas Egi mendengar pengakuan bapak itu. Kemudian tanpa disadari dari kedua kakinya gemetaran dan wajahnya makin pucat. Bapak itu sendiri mendesis dan menjadi merinding membayangkan cerita Egi.
Maka mulailah Egi menyadari adanya keanehan yang ia rasakan ketika roh preman tadi pergi menuju Aroma bau itu itu masih membekas di hidung Egi, sehingga Egi tak henti-hentinya menjadi merinding dan berdebar-debar.
***

Itu pengalaman pertama Egi melihat roh dan mengetahui ciri-ciri lainnya, juga ciri-ciri bau yang ditimbulkan oleh roh tersebut. Memang sejak saat itu, Egi berharap untuk tidak lagi-lagi bertemu dengan roh dan tidak lagi-lagi mengalami peristiwa yang menakutkan itu.
Tetapi di luar kehendaknya, peristiwa itu terulang kembali antara dua bulan kemudian. Pada saat itu, Egi sedang menuju pulang setelah seharian sibuk mencari penumpang untuk mobil angkutannya. Waktu itu kira-kira pukul sebelas lewat sedikit. Hari hujan. Tidak terlalu deras. Tapi juga tidak bisa dikatakan hanya gerimis saja. Penumpang tidak ada. Mobil kosong dari terminal tempatnya mangkal. Egi sendiri sudah bertekad untuk tidak mencari penumpang. Tapi kalau ada penumpang yang rumahnya satu arah dengan rumah kontrakan Egi, apa boleh buat. Akan diambilnya juga.
Kebetulan sebelum melintasi jembatan, ada seorang perempuan yang menyetop mobilnya Egi. Perempuan itu tidak memakai payung dan hanya berteduh dengan selembar koran.
"Ke arah mana, Mbak?" tanya Egi kepada perempuan muda itu.
"Lewat Jalan Merdeka, nggak?"
"Lewat. Ayo deh...!"
Perempuan muda itu naik, duduk di bangku depan, sebelah kiri Egi. Wajahnya lumayan cantik. Bodinya juga bolehlah. Egi sempat berpikr jahi. Iseng-iseng ia bertanya.
"Dari mana kok malam-malam begini baru pulang, Mbak?"
"Dari rumah teman. Sebenarnya mau pulang dari tadi, eh... hujan. Ditunggu-tunggu nggak reda juga, akhirnya saya nekat saja pulang. Jadi basah deh pakaian saya."
Sambil berkata begitu, perempuan itu menepis-nepiskan gaunnya yang basah karena butiran air hujan. Egi sesekali melirik dengan hati berdebar-debar. Iseng-iseng lagi Egi bertanya.
"Mau nggak pakai saputangan saya buat ngeringin rambut? Masih bersih kok."
"Mau deh. Pinjam dulu, ya...?"
Perempuan itu mengeringkan rambutnya yang panjang sepundak dengan saputangan pemberian Egi. Hati Egi semakin girang, karena dengan begitu dia mempunyai peluang untuk mengenal perempuan itu lebih dekat lagi. Setidaknya malam ini juga mungkin perempuan itu bisa diajak kemana saja.
Tapi sayangnya, ada penumpang lain yang menyetop mobil Egi. Ia adalah seorang lelaki berpakaian Satpam. Ia mengenakan payung plastik warna merah. Ia berdiri di depan pabrik ban sepeda. Mungkin Satpam dari pabrik tersebut.
Sebenarnya Egi tidak ingin mengambil penumpang baru itu. Sebab jika ia mengambil penumpang baru, maka keberadaanya bersama perempuan yang duduk di sebelahnya itu akan terganggu. Paling tidak bicara pun harus dibatasi jika ada penumpang lain. Namun perempuan itu berkata,
"Tuh, ada penumpang lagi kan? Beruntung juga kalau situ bawa penumpang seperti saya. Ada saja penumpang lain yang nyetop mobil situ, Bang."
"Iya, ya...!"
Karena sudah terlanjur ngomong begitu, maka Egi pun berhenti menanyakan kepada penumpang tersebut apakah satu jurusan dengannya atau tidak. Ternyata Satpam itu satu jurusan. Maka, terpaksa Egi membiarkan Satpam itu naik di jok belakang. Satpam itu duduk tepat di belakang Egi. Wah, makin sulit Egi mengembangkan percakapan dengan perempuan tersebut.
Bahkan kini Satpam itu yang mengajaknya bicara, "Habis ini balik lagi ke arah tadi nggak, Bang?"
"Enggak tuh, Pak. Saya mau pulang kok."
"Ooo..." Satpam itu menggumam dengan nada sedikit kecewa.
"Bapak harus kembali lagi ke tempat tadi ya, Pak?" tanya perempuan itu.
"Iya, Neng. Harus tugas."
"Ikut saja mobil dari arah Bima Sakti, Pak. Masih banyak kok. Baru jam segini. Biasanya sampai satu saja masih ada kendaraan yang lewat sana."
Egi menimpali dengan bercanda, "Hujan-hujan begino kok masih tugas sih, Pak? Pulang saja, tidur di rumah. Kan hangat tuh!"
"Wah, saya tugas sama pulang rumah sama saja. Tetap tinggal di sana kok, Bang."
Beberapa saat kemudian, perempuan itu turun. Egi berhenti tepat di depan rumahnya. Tak berapa lama kemudian, Satpam itu juga turun. Dan Egi pun nyelonong ke rumahnya dengan perasaan agak kecewa, karena gagal mengadakan pendekatan dengan perempuan muda itu gara-gara ada Satpam di belakangnya.
Namun, ketika Egi mau memasukkanmobil ke halaman rumahnya, ia menengok ke belakang untuk mundur sedikit. Dan pada saat itu ia melihat payung dan topi Satpam itu tertinggal di jok belakang.
"Wah, bikin kerjaan apa tuh Satpam...!" gerutu Egi. Sebenarnya ia tidak ingin mengembalikan payung dan topi, namun karena rasa kasihan, maka ia terpaksa kembali lagi ke pabrik ban sepeda. Mula-mulanya Egi mencari-cari Satpam yang tadi turun di salah satu gang. Karena ditengok-tengok Satpam itu kelihatan, mungkin ia sudah kembali lagi ke tempat kerjanya, maka Egi pun segera meluncur ke tempat Satpam tadi naik.
Di sana ada pos jaga untuk masuk ke pabrik ban sepeda. Egi terpaksa turun dari mobil dan menemui dua orang Satpam yang sedang main catur.
"Pak, saya mau mengembalikan payung dan topi." Kata Egi.
"Payungnya siapa sih?"
"Nggak tahu. Tadi ada petugas Satpam yang naik mobil saya dan payungnya tertinggal bersama topinya ini. Naiknya dari jalanan depan itu, Pak. Apakah dia bekerja di sini?"
"Coba lihat," kata Satpam yang kurus. Ia memeriksa payung dan topi. Sementara itu Satpam yang gemuk berbisik, namun sempat terdengar Egi.
"Kayaknya payungnya Galih, ya?"
"Iya. Dan topi ini... oh, benar. Ini topinya Galih. Lihat, di dalamnya ada tulisan namanya kan?"
Kedua Satpam itu saling pandang. Agak tegang juga. Lalu mereka sama-sama menatap Egi dengan penuh curiga. Bahkan yang kurus berkata, "Ini payungnya teman saya. Juga, topi ini milik teman saya yang bernama Galih. Kamu nyuri di mana, hah?!"
"Loh, saya bukan nyuri, Pak? Saya menemukan barang-barang ini di belakang mobil saya. Makanya saya pulangkan kemari sebab pemilik itu naiknya dari jalanan depan itu. Dan dia mengaku bekerja di sini?"
"Tidak mungkin. Pasti kamu habis mencuri di rumahnya Galih. Ngaju saja!"
"Wah, Bapak ini tidak tahu terima kasih. Saya sudah capek-capek mengembalikan barang-barang itu kok malah dikatakan habis mencuri. Yang benar aja, Pak..." kata Egi sewot.
Satpam yang gemuk lebih sadar. Ia berkata, "Kapan kamu membawa penumpang yang mempunyai payung dan topi ini, Bang?"
"Tadi, Pak! Belum ada setengah jam!"
Satpam itu menatap temannya yang kurus. Agak aneh cara mereka saling memandang. Egi curiga juga. Lalu Satpam yang gemuk berkata, "Begini, Bang... Sebenarnya kami curiga juga, dan tidak percaya kalau Galih tadi naik mobil Abang. Sebab Galih itu sudah meninggal...."
"Hahhh...?!" kontan wajah Egi pucat pasi dan bibir serta kakinya gemetaran.
"Galih telah meninggal tiga hari yang lalu. Dia mati akibat digorok batang lehernya oleh lelaki yang menjadi simpanan istrinya."
Egi tidak bisa bicara apa-apa. Egi hanya diam bagai patung dan berusaha bisa bernafas, karena nafasnya terasa sesak akibat detakan jantung begitu kuat.
Sejak peristiwa Satpam Galih itu, Egi bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia belakangan ini sering menemui hal-hal yang bersifat misterius? Mengapa dulu tidak pernah menjumpai hal seperti itu? Apakah setiap orang yang sudah mencapai usia dua puluh tujuh tahun pasti menjumpai hal-hal yang misterius? ENTAHLAH....