1.
AKU DAN PERASAAN INI
Pagi masih setia membangunkanku, burung-burung masih ikhlas berkicau dengan merdu, dan embun masih halus menetes dengan syahdu. Gorden hijau di kamarku telah terbuka, membuat sang surya dengan leluasa membagi sinarnya ke dalam kamarku yang bercat hijau muda. Kedua nola mataku bermalas-malasan mengintip sang surya, mungkin mataku masih lelah dengan silaunya komputer semalam setelahku bekerja.
Namun, aku harus kembali ke meja kerja, demi kemandirian yang selalu ku junjung untuk mencapai sebuah kesuksesan. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana dengan satu orang adik laki-laki yang masih sekolah. Dengan kegigihan dari kedua orang tuaku, dan uasaha dariku, aku dapat memulai untuk orang yang sukses. Saat ini aku telah bekerja, dan sedikit demi sedikit aku harus bisa membahagiakan keluargaku.
Dan mengenai pribadiku, aku mempunyai seorang pacar yang menurutku Ia sangat menyayangiku. Hubungan kami sudah cukup lama berjalan, sekitar dua tahun, aku rasa itu bukan waktu yang sebentar untuk menjalani suatu hubungan. Namanya Rio, perhatian yang cukup sudah diberikannya untukku, dan masing-masing keluarga juga sudah mendukung hubungan kami. Aku mengakui Rio adalah laki-laki sempurna yang terlalu sabar menghadapiku. Mengapa aku dapat menyimpulka demikian? Entahlah, namun di dalam hati kecilku Rio seperti bukan pemilik hatiku seutuhnya.
Rio tak pernah mengetahui bahwa jauh di dalam hatiku, aku tidak pernah mencintai Rio seutuhnya. Rio terlalu sabar menungguku, Ia terlalu baik untukku. Hany itu yang selalu terfikir olehku. Namun, aku terlalu takut untuk berterus terang, aku terlalu takut untuk menyakiti hati Rio yang begitu tulus menyayangiku.
Aku pun merasa berdosa kepada kedua orang tuaku, aku telah membohongi mereka dengan berpura-pura menyayangi Rio. Padahal kedua orang tuaku sudah meyakinkanku kepada Rio, dan berharap agar hubungan kami bisa terjalin sampai ke jenjang pernikahan.
“Belinda, setelah dua tahun kita menjalani suatu hubungan, dan aku merasakan kamulah orang yang aku cintai dan aku sayangi, izinkan aku memilikimu seutuhnya, izinkan aku melamarmu dan meminta restu kepada kedua orang tuamu, karena aku tidak mau kehilangan kamu, berkenankah kamu menjadi istriku?” pinta Rio.
Bibirku tak mampu berucap mendengar permintaan Rio di taman indah dengan suasana yang romantis yang memang dipersiapkannya untukku. Buakn suatu hal yanmg salah menurutku jika memang Rio meminta demikian, karena hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan faktor keseriusan. Tapi mengapa hatiku tak yakin untuk menjawab “ya”.
“Belinda, mengapa kamu hanya diam tanpa respon apapun padaku, apakah ada yang mengganggu fikiranmu saat ini? Aku membutuhkan kepastian Belinda, aku sayang sama kamu, tolong hargai perasaanku” tambah Rio.
Aku masih terdiam, fikiranku melayang jauh, bukan lagi pada Rio, melainkan hal lain yang tidak pernah diketahui Rio. Mataku mulai berkaca-kaca, entah mengapa aku tak mampu menahan air mataku yang mulai membasahi pipiku. Dengan lembut Rio menghapus air mataku dan mencoba menenangkanku, dikecupnya dahiku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Maafkan aku sayang jika aku terlalu cepat memintamu menjadi pendampingku, hal ini aku utarakan karena aku tak ingin kehilanganmu, dan aku akan menunggu jawaban dari hatimu setelah kamu benar-benar siap dan ikhlas memberi jawaban untukku” kata Rio.
Semakin hancur hatiku mendengar ketulusan Rio. Dan malam itu adalah malam yang benar-benar menguji ketegaran hatiku. Sesampainya di rumah, tangisku semakin menjadi ketika aku terkenang pernyataan Rio untuk memintaku menjadi pendampingnya. Betapa tidak demikian, Rio bukanlah pemilik hatiku seutuhnya, melainkan Deny…yah Deny.
Hanya Deny yang membuat aku tidak bisa mencintai Rio seutuhnya. Kisah cinta kami terjalin selam empat tahun saat kami kuliah di Bandung. Kalau boleh aku jujur, tak ada yang dapat menggantikan Deny di hatiku, kami saling mencintai dan hanya Deny yang bisa membuat hari-hariku berwarna, sebelum akhirnya Deny meninggal karena sakit yang di deritanya. Deny meninggalkannku untuk selamanya, tanpa sepengetahuanku Deny sudah menitipkan sebuah cincin kepada temannya yang akan diberikannya padaku, namun semuanya terlambat.
Dapatkah kau membayangkan perasaanku saat itu? Seseorang yang sangat aku cintai pergi untuk selamany dari kehidupanku. Selamanya dan tak akan mungkin pernah kembali lagi ke sisiku..tak akan pernah. Dengan keras aku berusaha bangkit dari kesedihan, dan mencoba ikhlas, memaksaku untuk berfikir bahwa Deny juga tak akan bahagia melihatku seperti ini.
Hadirlah Rio yang mencoba mengisi hari-hariku, dan berusaha memahamiku. Hingga akhirnya luka lama ituternyata ada di depan mataku. Aku tak tahu bagaimana bentuk hatiku saat itu, aku tak tahu apakah aku tengah bermimpi, apakh Tuhan tengah menguji kesabaranku, namun itulah kenyataan yang harus ku hadapi. Betapa terperanjatnya aku saat aku memandang foto keluarga yang menghiasi ruang tamu rumah Rio. Di sana jelas foto Deny terpajang dengan gagah bersama Rio dan kedua orang tuanya. Itu artinya Deny adalah anggota keluarga Rio, Deny adalah kakak Rio.
“Ya Tuhan…mengapa hal ini baru ku ketahui sekarang? Mengapa engkau baru menunjukkan kenyataan ini padaku sekarang? Mengapa tidak dari dulu ketika akubaru mengenal Rio dan belum terlalu jauh melangkah bersamanya Tuhan” batinku.
Setelah saat itu, aku mulai ragu menjalani hubunganku dengan Rio., aku terlalu takut untuk menjelaskan kenyataan ini pada Rio. Ini terlalu menyakitkan baginya dan bagiku. Aku tak dapat mencintai Rio sepenuhnya karena nam Deny di hatiku belum mampu terhapus sepenuhnya, dan Deny merupakan kakak kandung Rio.
“Ya Tuhan, begitu berat cobaan ini, jalan manakah yang harus ku tempuh? Aku masih mencintai kakak yang telah tiada dari orang yang mencintaiku sepenuh hati dan menginginkanku menjadi pendampingnya. Dan di sisi lain, dia tak pernah tahu aku mencintai kakaknya sepenuh hati hingga saat ini. Haruskah aku menerima Rio dan mengorbankan perasaanku, ataukah aku putuskan Rio dan mengorbankan perasaannya bertubi-tubi, sakit karena Deny pernah menyayangiku dan kecewa karena ketidakberanianku untuk berterus terang? Egoiskah aku?” fikirku dalam hati.
Seiring berjalannya waktu, aku harus berani pada kenyataan dan berterus terang kepada Rio. Karena Rio membutuhkan kepastian dariku.
“Rio, apakah kamu menyayangiki dengan tulus” tanyaku.
“Kenapa kamu masih ragu, aku hanyamenginginkanmu untuk menjadi pendampingku” jawab Rio.
“Tapi, ada suatu kejujuran yang harus ku akui, aku pun tak menginginkan ini, aku pun tak athu apakah kamu mampu untuk menerima kenyataan ini” tambahku.
“Katakanlah Belinda” pinta Rio.
“Jauh sebelum aku mengenalmu, aku dan Deny sudah menjalin kasih…yah Deny kakakmu. Kami menjalin kasih selama empat tahun, sebelum akhirnya Deny meninggal karena penyakitnya. Kami saling mencintai dan Deny sempat menitipkan cincin ini untukku, pertanda keseriusannya padaku. Dan aku baru mengrtahui Deny itu kakakmu ketika kamu mengajakku ke rumahmu. Karena jauh di dalamlubuk hatiku, aku masih ,mencitai kakakmu, belum terhapus sepenuhnya nama kakakmu di hatiku” jelasku panjang.
Rio terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Aku dapat memahami perasaan Rio saat itu. Ketulusannya ku balas dengan kebohongan. Setetes air mata membasahi pipinya, dan cepat-cepat di hapusnya.
“Aku tahu ini tak adil bagimu, aku pun tak menginginkan hal ini, aku egois Rio. Aku tak mampu menjawab pertanyaanmu, karena menurutku aku tak mempunyai hak untuk itu, kamu sudah terlalu sakit dengan kenyataan ini” kataku.
Rio masih terdiam. Hingga akhirnya di genggamnya tanganku dengan erat.
“Aku mohon cintailah aku seperti kamu mencintai kakakku. Aku tak sanggup untuk melepasmu. Aku mohon belajarlah menyayangiku, aku tak memintamu melupakan kakakku, tapi aku mohon berilah sedikit jalan agar aku bisa memberi warna di hatimu. Terimalah aku sebagai pendampingmu Belinda” pinta Rio.
“Ya Tuhan, inikah keputusanmu yang terbaik? Tak berperasaankah jika aku menyia-nyiakan Rio? Orang yang begitu menyayangiku sepenuh hatinya? Mungkin Engkau telah menggarisakan jodohku bersama Rio bukan Deny. Jika inimemang yang terbaik, aku akan mencoba menjalaniny Ya Tuhan. Dan untuk Deny, aku mohon ikhlaskan aku untuk menjadi milik adikmu, kau akan tetap ada di hatiku dan takkan terganti” batinku.
Setelah hari itu, aku mencoba membuka hatiku untuk Rio, menyayanginya dan menjalani hari-hari bersamanya. Karena ssungguhnyamanusia hanya bisa berusaha untuk mewujudkan apa yang di inginkannyan dan selebihnya Tuhanlah yang maha kuasa atas segalanya.
2.
KEKASIH IMPIAN UNTUK SAHABAT TERSAYANG
Zaskia…begitulah gadis berperawakan tinggi 165 cm dan berkulit putih ini disapa. Setiap harinya di isi dengan berbagai kegiatan, yang menjadi prioritas utamamya ialah pergi belajar di kampus kesayangannya. Jika ada mata kulia seperti hari ini, pagi-pagi benar Ia bangun dan membereskan tempat dimana Ia biasa melepaskan kelelahannya dari berbagai kegitan yang selalu sabar menanti untuk di selesaikan.
Tepat pukul 6.30 pagi Zaskia sudah menunggu bus yang biasa menjemputnya di halte. Yah…walaupun Zaskia memiliki kendaraan sendiri, tetapi kedua orang tuanya enggan melepaskan Zaskia menunggangi motor kesayangannya, jarak jauh alasannya, jalan ramai, anak perempuan mengendarai motor sendiri enggak baik dan banyak lagi alasan yang lainnya. Untung saja tidak di sebutkan kalau bawa motor sendirian nanti menabrak semut yang lagi upacara.
Lisa, sahabat Zaskia datang lima menit kemudian, mereka pun berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan bus yang akan membawa mereka ke kampus. Selain mereka, ada banyak orang yang juga menunggu kedatangan bus tersebut.
“Kalah cepet nih aku datang di banding kamu Zas” ujar Lisa memulai pembicaraan.
“Ah cepet lima menit doang, sekali-sekali enggak apa-apa dong” jawab Zaskia irit.
“Eh enggak bisa gitu dong, biasanya kan aku palimh pagi duduk di halte ini”
“Iya, itu karena kamu harus bersihin halte ini dulu sebelum orang datang” ledek Zaskia.
“Ih enak aja hari ini telat karena aku pake sepatu lupa pake kaos kaki, makanya telat…ini semua gara-gara kaos kaki”…telunjuk Lisa menunjuk kaos kakinya.
“Ih…nyalahin kaos kaki, dasar kamunya aja yang pelupa, kebanyakan makan rumus matematika kamu Lis” sindir Zaskia.
Maklumlah Zaskia dan Lisa mengambil jurusan FKIP matematika, jadi keduanya saling ejek jika memori mereka sedang error.
Tak lama berbincang, bus pun datang dengan bunyi klakson khasnya. Orang-orang yang duduk pun segera berdiri seolah tak ingin ketinggalan. Begitu pun Zaskia dan Lisa. Tempat duduk yang nyaman telah mereka tempati. Perjalanan dari halte menuju kampus lumayan jauh, dan lumayan waktu bagi mereka untuk curhat, bercanda, atau pun membaca lembar demi lembar buku.
“Gimana hubunganmu dengan doi Zas?” tanya Lisa.
“Baik”
“Kok irit banget jawabannya”
“Bensin kan udah turun jadi pengeluaran kita jadi irit kan”
“Idih…ngomong irit apa hubungannya dengan bensin, enggak nyambung deh”
“Eh Zas sebenarnya enak jadi kamu, punya cowok yang pengetian banget, sabar, salut deh sama cowok seperti itu”
“Nanti kamu juga bisa dapat cowok yang benar-benar sayang sama kamu kok Lis” jawab Zaskia singkat.
“Kenapa Zas, kok murung? Aku perhatiin satu minggu ini kamu pucat banget trus sama materi pelajaran kamu cuek aja?” Tanya Lisa.
Zaskia tak menjawab, Ia sibuk dengan handphonenya. Melihat Zaskia tidak merespon pertanyaannya Lisa langsung cabut ke kantin, dia enggak mau menggangggu sobatnya yang tampak serius. Saat tengah asyik menyantap mie ayam dan satu gelas es jeruk, tiba-tiba handphone Lisa berdering nyaring, segera di lihatnya nama yang tertera pada layar handphone. Ternyata Ridho, pacar Zaskia.
“Ngapain nih orang nelpon aku? Fikir Lisa.
“Halo…Lisa kamu dimana? Dengan nada setengah memaksa terdengar suara di seberang dan segera ingin tahu keberadaan Lisa sekarang.
“Aku di kantin lagi makan, kenapa?” jawab Lisa.
“Lis, tunggu aku, aku ke kantin sekarang” jawab Ridho.
Tak lama kemudian, muncul batang hidung Ridho dengan sejuta tanda tanya.
“Lis, Zaskia mutusin aku tanpa alasan yang jelas dan meminta kamu menggantikan posisi Dia”.
Ternyata tanpa sepengetahuan siapapun, Zaskia pernah membaca buku harian Lisa yang di dalamnya terdapat pernyataan bahwa sesungguhnya Lisa juga mencintai Ridho dan menginginkan Ridho menjadi miliknya. Dengan lembut Zaskia meminta Lisa untuk menjadi penggantinya di hati Ridho. Sungguh di luar akal sehat Ridho bahwa Lisa juga menginginkannya, dan sejak saat itu Zaskia tak pernah menampakkan batang hidunganya lagi. Lisa pun tak mau menghianati persahabatan mereka, dengan sangat terpaksa hubungan persahabatan mereka harus berakhir tanpa ketegasan yang jelas dari Zaskia.
3.
TITIK AKHIR KESABARAN
Taman ini mengingatkanku pada dua tahun yang lalu. Aku dan Sandi mengubah persahabatan kami menjadi cinta. Suka dan duka kami jalani bersama. Aku bahagia bersamanya, dan jiwaku tenang bila berada di sampingnya. Hembusan angin menambah panjang lamunankuyang mungkin tak akan pernah kembali lagi. Menyenangkan sekaligus menyedihkan bagiku mengingat taman ini. Bagaimana mungkin aku dapat melupakan tempat ini, kenanganku bersama Sandi terukir disini. Sesungguhnya Sandi merupakan seorang cowok yang dingin terhadap cewek, bisa dikatakan cuek, tidak perhatian dan mudah tersinggung. Oleh sebab itu, aku harus benar-benar menjaga perasaannya. Namun di balik semua sifatnya, Sandi merupakan seorang cowok yang baik yang mampu memperlakukan wanita dengan baik.
Harus ku akui hatiku memilihnya sebagai pengisi jiwa, harus ku akaui aku menyayanginya. Halangan dan rintangan satu persatu kami lewati, berjalan setapak demi setapak untuk mencapai singgasana cinta. Namun, memasuki usia dua tahun hubungan kami, Sandi terlihat berubah dari biasanya. Sebenarnya aku tak mengerti apa yang tengah ada dalam fikiran Sandi, hingga aku pun di nomor duakan setelah pekerjaannya.
Hal ini semakin lama semakin menjadi. Hingga akhirnya Sandi benar-benar hilang dari kehidupanku. Hilang bagai di telan bumi. Aku tak mengerti apa artinya semua ini. Sandi pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun. Hatiku serasa tak percaya akan perubahan Sandi yang begitu drastis ini. Yang ada di fikiranku saat ini hanyalah dimana Sandi, apakah dia baik-baik saja, lalu bagaimana dengan hubungan kami yang menggantung tanpa kepastian yang jelas. Apakah aku pernah melakukan kesalahan pada Sandi, hal itu pula yang membayangiku dam memaksa otakku untuk mengingat-ingat lagi apakah aku pernah menyinggung perasaannya.
”kemana kamu Sandi, tak terfikirkah olehmu aku disini menunggumu” batinku.
Sudah sepuluh bulan lamanya aku menunggu kepastian tanpa arti dari Sandi tentang hubungan kami, Sandi tak kunjung datang, mengirim kabar atau apalah. Aku mencoba mendatangi tempatnya bekerja, namun hasilnya nihil.
”oh tuhan, berikan petunjukmu, apakah aku harus benar-benar melupakan Sandi dan membuka lembaran baru. Karena aku letih dengan semua ini, tanpa kabar berita Ia meninggalkannku begitu saja, apakah aku harus benar-benar menerima kenyataan ini” batinku.
Rasanya sudah cukup aku terus menunggu, aku letih akan kisah yang tiada pasti ini. Perlahan aku mulai melupakan Sandi, aku harus berjuang untuk itu. Berusaha tidak menolek ke belakang, karena aku harus terus maju tanpa Sandi...yah tanpa Sandi. Walaupun hari-hariku tak seindah saat aku bersamanya dulu, tapi aku masih mempunyai sahabat yang menyayangiku. Sempat tefikir olehku, apakah Sandi tak mempunyai hati, hingga Ia tega membuatku seperti ini.
Dua tahun, yah hari ini genap dua tahun hubunganku dengan Sandi, dan itu artinya sudah satu tahun Ia pergi dariku, dan meninggalkan ketidakpastian. Aku tak kuasa mengingat lagi, namun langkah menopang tubuhku untuk kembali lagi ke taman ini. Kususuri jalannya, kunikmati udaranya, taman ini begitu indah untuk di pandang dan kenangan di dalamnya begitu indah untuk dilupakan. Aku memilih pondok kecil dibawah pepohonan tinggi, mungkin pohon ini dapat sedikit menyejukkan hatiku.
Dua ekor kupu-kupu bermain di depan pondok itu, tanpa ku sadari kedua bola mataku mulai basah. Sungguh terperanjat aku dari lamunanku, seseorang menepuk pundakku dan menghapus air mataku. Fikiranku kosong, seakan tak percaya, otakku seakan lepas dari batok kepalaku. Aku terbelalak ternyata Sandi sudah berdiri di depanku. Bibirku tak mampu berucap, mataku tak mampu menatap, telingaku tak mampu mendengar semua penjelasan yang keluar dari mulutnya.
”Aku pergi karena aku di pindahtugaskan, aku mengakui kesalahanku namun aku tetap menyayangimu”kata Sandi.
”Aku tahu ini tak adil bagimu, aku pergi begitu saja darimu, tetapi diantara kita tidak ada kata putus, dan itu artinya aku tetap memilih kamu sebagai pengisis jiwaku” tambah Sandi.
Aku belum mampu mengatakan apa pun, padahal sebelumnya banyak pertanyaan di kepalaku yang hendak aku berikan padanya. Pertemuan ini begitu mengejutkanku tepat dua tahun hubungan kami. Aku beranikan hati dan fikiranku untuk berkata.
”Aku terlalu lelah menunggumu tanpa kepastian, kau anggap apa aku, apa tak pernah terlintas di fikiranmu untuk menghargai aku” jawabku.
”Rini, tolong mengertilah..aku benar-benar menyesal dan tak akan pernah meninggalkanmu lagi” kata Sandi.
”Pergilah Sandi, pergilah dari kehidupanku, dan semoga kamu dapat belajar dari hal ini. Bahwa untuk menciptakan cinta sejati kamu harus dapat memahami dan menghargai orang yang telah kamu pilih. Aku harus ikhlas atas semua ini, paling tidak aku mendapatkan hasil setelah kepergianmu begitu saja. Dan sekarang kamu kembali begitu saja dengan mudahnya. Semoga kamu dapat merenovasi hatimu menjadi lebih baik lagi untuk mencintai seseorang” jelasku panjang.
Setelah hari itu, aku tak lagi berjumpa dengan Sandi. Aku harus menerima kenyataan, paling tidak aku dapat membuka lembaran baru dengan tenang dan bahagia. Semoga.
4.
HATI TAK PERNAH SALAH
Pelangi menghiasi langit setelah tetesan air hujan membasahi bumi. Kesegaran dedaunan kembali terpancar lembut menghiasi kedua bola mata. Jari Lidya meraih sebuah sisir merah jambu di atas meja riasnya. Seperti biasanya, Lidya menghiasi wajahnya agar tampak berseri. Sejatinya Lidya adalah perempuan yang cantik, saderhana, baik hati dan memiliki banyak sahabat yang menyayanginya.
Dengan langkah pasti Lidya berangkat menuju kampusnya. Lidya membawa mobil sendiri untuk menuju kampusnya. Lidya adalah mahasiswa kedokteran yang tak lama lagi merampungkan studinya. Anak tunggal dengan gelar kedokteran merupakan suatu hal yang cukup istimewa menurut sahabat-sahabat Lidya. Namun, sejatinya Lidya adalah anak tunggal dari pengusaha sukses yang kesepian. Betapa tidak, kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaanyya masing-masing. Dan Lidya hanya dapat mencurahkan isi hati pada laptop kesayangannya.
Dengan kemewahan yang ada, Lidya tidak menemukan kebahagiaan hati sesungguhnya. Hari-harinya dihabiskan dengan kampus, laptop dan saabat-sahabatnya. Baginya rumah bak istana terasa hampa tanpa kehadiran kedua orangtua yang selalu sibuk mencari nafkah. Namun, Lidya mencoba memahami keadaan yang memaksanya bersabar. Lidya mencoba berfikir orang tuanya bekerja semata-mata hanya untuk dirinya.
Alasan Lidya mengambil jurusan kedokteran sendiri karena Ia tak ingin melihat orang yang sakit terlambat untuk di sembuhkan. Karena maa lalu Lidya yang kelam. Perasaan LIdya hancur berkeping-keping ketika Renaldi, kekasih hati Idya meninggal dunia karena penanganan yang lambat dari pihak kedokteran. Karena faktor biaya. Yang membuat Lidya tak habis fakir, di saat nyawa seseorang sekarat, pertolongan tim dokter di sejajarkan dengan biaya yang harus di keluarkan terlebih dahulu dan mengabaikan sedetik kesempatan hidup bagi seseorang. Tidakkah mereka memiliki belas kasihan terhadap sesama? Hal itulah yang membuat Lidya memprioritasakn keselamatan pasien di atas segalanya.
Renaldi, kekasi hati Lidya yang telah tiada bukanlah dari kalangan orang berada, namun kasih sayang yang diberikannya untuk Lidya tak ada tandingannya. Namun, semua itu hanya sebuah kenangan manis, Renaldi tak mungkin kembali lagi. Himgga akhirnya Lidya mendapatkan pengganti Renaldi, walaupun Lidya tak dapat menciptakan kasih sayang di hatinya seperti Ia menanamkan rasa cintanya untuk Renaldi. Pemuda itu Farel. Seorang dokter muda yang bias di bilang senior Lidya. Lidya mengenal Farel saat Ia praktek di sebuah rumah sakit tempat Farel bekerja.
Sudah cukup lama Lidya menjalani hubungan dengan Farel. Persamaan profesi membuat mereka cepat menjalin komunikasi yang aik. Bulan berlalu, tahun pun berganti. Tanpa di sadari Lidya, Ia sudah akan merampungkan kuliahnya, dan itu artinya gelar dokter tak lama lagi akan resmi di sandangnya. Perlahan namun pasti Lidya mulai mencoba membuka hati sepenuhnya hanya untuk Farel. Lidya menyadari Renaldi tidak akan mungkin kembali lagi. Hingga akhirnya Farel membuktikan keseriusannya, tepat pada hari dimana Lidya resmi menyandang gelar dokternya, Farel mengajak Lidya untuk bertunangan.
Bahagia bercampur haru, itualh yang dirasakan Lidya saat acara pertunangan berlangsung. Bahagia karena Lidya telah menemukan orang yang mencintainya, dan haruketika mengingat Renaldi dan menerima kenyataan bahwa tak lama lagi Ia akan menjadi milik Farel, dan harus membuang jauh kenangannya bersama Renaldi. Acara berlangsung meriah, kebahagiaan terpancar dari wajah kedua orang tua Lidya dan Farel. Kolam renang di hiasi cahaya lilin menambah romantis malam itu, gaun yang dikenakan Lidya senada dengan jas yang menambah gagah Farel diantara rombongan pria.
Hingga akhirnya Farel dan Lidya sukses menjadi pasangan yang paling “wah” malam itu. Waktunya melepas penat. Acara pertunangan telah usai, dan tak lama lagi Lidya akan menjadi milik Farel seutuhnya. Malam itu acara pertunangan berlangsung di rumah Farel yang megah. Dan benar saja, ketika Lidya hendak melepas penatnya dengan memanjakan dirinya di kamar tidur tamu, Lidya menemukan dokumen-dokumen penting milik Farel yang tergeletak begitu saja di lantai kamar. Bukan salah Lidya, jika Ia langsung membaca dokumen-dokumen itu.
Di malam yang sunyi itu, hati Lidya bak tersambar petir di tengah teriknya mentari. Betapa tidak, setelah di buka dan di bacanya dokumen-dokumen milik Farel, Lidya menemukan lembaran-lembaran bukti kasus yang diaami Farel dulu yang tega mengabaikan pasinnya karena keterbatasan biaya. Dan semakin tak kuasa Lidya menahan air matanya, ketika dengan seksama dilihanya foto-foto Renaldi beserta penyakit yang dideritanya tertera jelas pada halaman-halaman dokumen milik Farel.
Apa yang selama ini ditakuti Lidya akhirnya terjadi, kenyataan…yah kenyataan yang telah lama Lidya nantikan, dokter yang menelantarkan pasiennya karena keterbatasan biaya. Sungguh diluar fikiran Lidya, ternyata Farel adalah tak lebih dari seorang pembunuh. Bukankah seorang dokter harus mengutamakan keselamatan pasiennya. Farel telah membunuh Renaldi, seseorang yang sangat berarti bagi Lidya.
“Aku sala memilihmu Farel, dapatkah kau menjelaskan dokumen-dokumen ini” tanya Lidya.
“Kmu mendapatkannya dari mana, dan apa hubunganmu dengan dokumen-dokumen itu? Farel balik bertanya.
“Dengan jalan seperti ini Tuhan menunjukkan padaku, Farel kamu kejam dan tak berperikemanusiaan. Tanpa ku sadari, kamu tak lebih dari seorang dokter yang angkuh dan hanya mementingkan diri sendiri di atas penderitaan orang lain yang membutuhkan pertolonganmu” kata Lidya.
“Apa maksudmu memakiku seperti itu, itu masa laluku dan kamu tidak perlu tahu akan hal itu”
“Oh…jadi ini sifat aslimu, tiada guna manis dibibir Farel. Mungkin kamu boleh merasa memiliki segalanya, tetapi sekarang terbukt kamu adalah Farel seorang dokter muda yang sukses dan hebat tetapi kamu lupa satu hal Farel, kamu tidak memiliki hati, kamu tidak pantas untuk dicintai karena kamu tak pernah dapat menanamkan rasa belas kasihan apalagi untuk rasa kasih sayang” jelas Lidya panjang.
“Jadi, maumu apa sekarang?” tantang Farel.
“Aku ingin memutusakan pertunangan ini, lebih baik belajar menanamkan rasa kasih sayang dalam hatimu, untuk dirimu sendiri, untuk pasien-pasien yang membutuhkanmu dan untuk orang-orang yang ada di sekitarmu. Kalau boleh aku memohon padamu, jangan sampai ada Renaldi-Renaldi berikutnya yang menjadi korban keegoisanmu. Dan perlu kamu ketahui, walaupun Renaldi tidak akan pernah kembali lagi, namun namanya di hatiku tak akan pernah kuhapus. Renaldi adalah kekasihku yang menjadi korban keangkuhanmu, sungguh tega kamu Farel” kata Lidya.
Farel terdiam mendengar pengakuan Lidya. Mungkin kedua kaknya tak mampu lagi menopang badannya. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya, cukup lama hingga akhirnya Farel menyerah pada kenyataan.
“Jadi, Renaldi itu kekasihmu?” tanya Farel singkat.
“Melebihi kekasih Farel, Renaldi adalah pemilik hatiku, pemilik hati yang akan tetap abadi dan tak akan pernah dapat digantikan oleh siapapun termasuk kamu. Cukup sudah kamu merenggut kebahagiaanku, lupakan aku dan belajarlah menjadi seseorang yang dapat bermakna bagi orang lain” jelas Lidya.
Gerimis seolah mendukung perpisahan Lidya dengan Farel dan sekaligus menerima kemyataan bahwa Farel adalah dekter yang paling harus bertanggung jawab atas melayangnya nyawa Renaldi. Farel tak pernah berani menunjukkan batang hidungnya di depan Lidya hingga detik ini. Hati Lidya hanya untuk Renaldi, dan Ia berhasil menjadi dokter yang baik, cantik, bertanggung jawab terhadap pasiennya. Baginya keselamatan seseorang adalah yang utama dan Lidya sekarang sudah menikah dengan seorang dokter yang bertanggung jawab dan mencintainya. Kehidupan harus terus berjalan namun Realdi masih setia menghiasi hati kecil Lidya.
5.
MANTAN TERINDAH
Zizi, Bela, Restu, Pingkan, Anisa, Ririn dan Citra merupakan tujuh orang jelita yang sudah lama menjalin persahabatan. Mereka merangkai kisah-kisah suka dan duka semenjak mereka duduk di bangku SMA. Hingga mereka mengenyam pendidikan di bangku kuliah, persahabatan itu masih tetap terjaga walaupun terkadang perselisihan kerap kali mendatangi mereka. Namun, itulah dunia, semua hal tidak mungkin berjalan mulus, pasti ada satu dua batu sandungan yang menghadang.
Tak ada yang di tutupi diantara merka bertujuh, semuanya saling terbuka jika memiliki masalah dan saling bertukar fikiran satu sama lain. Semuanya begitu indah terasa, perselisihan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, bagi mereka kebersamaanlah yang terpenting dalam suatu persahabatan. Gedung-gedung kampus pun menjadi saksi eratnya persahabatan mereka. Foto-foto kebersamaan terbingkai indah di dinding kamar mereka masing-masing, dan selalu setia menemani malam-malam mereka dalam melepas kepenatan.
Semuanya begitu indah, banyak orang yang iri hati terhadap kebersamaan mereka, sebelum akhirnya persahabatan itu harus ternoda karena penyalahgunaan cinta yang salah. Ardi penyebab semua itu. Ardi adalah kekasih kekasih Pingkan. Sudah lama hubungan mereka terjalin. Keenam sahabat Pingkan pun mendukung hubungan Pingkan dan Ardi. Ardi pun cukup dekat dengan keenam sahabat Pingkan, karena sejatinya Ardi merupakan cowok yang ramah dan supel.
Belakangan hubungan Pingkan dan Ardi mulai merenggang. Enta apa penyebabnya, Ardi mulai menjauhi Pingkan padahal Pingkan sangat menyayangi Ardi. Selain itu, ada yang berbeda dari Citra. Perlahan Citra mulai menjauh dari keenam sahabatnya terutama Pingkan. Namun, keenam sahabatnya tidak terlalu menggubris perubahan Citra karena mereka memaklumi akhir-akhir ini mereka memang harus menyelesaikan tugas akhir karena perkuliahan tak lama lagi akan segera berakhir.
Tanpa sebab yang pasti, Ardi benar-benar menghilang dari kehidupan Pingkan. Pingkan sangat menyayangkan keegoisan Ardi.
“Jika Ardi tak lagi menginginkan aku, tak lagi ingin menjalani hubngan denganku, mengapa Ardi tak memberi penjelasan padaku, menghilang begitu saja tanpa sebab yang pasti, aku pun tak akan memaksa cinta, namun janganlah membuatku bimbang menunggu kepastian yang tak menentu” Pingkan mengutarakan isi hatinya pada keenam sahabatnya.
“Awas aja si Ardi...kalau ketemu aku kasih bogem mentah” kata si tomboy Zizi.
“Udahlah Zi, permasalahan tak mungkn selesai dengan kekerasan” tambah Bela.
“Benar Bel, aku tak menginginkan kekerasan, aku hanya menginginkan penjelasan dari Ardi. Jika hubungan kami memang harus berakhir, aku menginginkan akhir yang indah, aku mengenalnya dengan cara baik-baik dan aku pula ingin melepasnya dengan cara yang baik-baik, hanya itu yang aku inginkan saat ini Bel. Namun, sepertinya Ardi memang tak mau menemuiku, buktinya Ardi menghilang begitu saja dariku” jelas Pingkan.
“Sabar Pingkan, Suatu saat Ardi akan menyesal telah menyia-nyiakan kamu, Tuhan itu tidak tidur Pingkan, suatu saat kebenaran akan terungkap walaupun itu membutuhkan waktu yang lama” nasihat Anisa dan Ririn.
Ardi benar-benar menghilang. Dan ketika Pingkan perlahan telah berhasil melupakan Ardi. Citra dan Ardi datang dengan santainya menyatakan pengakuan yang menrut Zizi, Anisa, Ririn, Bela, Restu, dan terutama Pingkan sungguh keterlaluan. Ardi dan Citra mengakui hubungan mereka yang sudah lama terjalin tanpa memperdulikan perasaan Pingkan. Kenyataan telah terngkap, Pingkan jatuh pingsan mendengar pengakuan Ardi dan Citra. Hingga kedua bola matanya meneteskan air mata saat terbangun dari pingsannya.
“Aku ingin bicara pada Ardi” pinta Pingkan.
“Aku di sini Pinkan” kata Ardi.
Keenam sahabatnya seakan mengerti dengan keadaan, mereka langsung meninggalkan keduanya.
“Mengapa kamu meninggalkanku begitu saja Ardi dan sekarang kamu datang dengan pengakuan yang begitu melukaiku. Jika memang aku tak bermakna lagi di hatimu, tinggalkan aku dengan kepastian Ardi, aku pun tak dapat memaksamu jika hatimu memilih Citra sahabat sekaligus penggantiku di relung jiwamu. Aku mengenalmu dengan cara baik-baik dan aku pula ingin kamu melepasku dengan baik-baik, ku ikhlaskan kamu untuk menjadi milik Citra jika itu memang yang terbaik untuk hatimu Ardi” jelas Pingkan.
“Aku tak menginginkan semua ini Pingkan, jauh di dalam hatiku, aku masih menyayangimu. Nada-nada cinta dapat ak rasakan saat aku bersamamu” kata Ardi.
“Jika memang itu kenyataan, mengapa kamu menyakitiku dengan menjalin kasih dengan sahabatku, orang yang sangat aku pecaya. Haruskah aku percaya pada ucapanmu saat ini Ardi”.
“Aku khilaf Pingkan, aku akan memutuskan Citra, aku sadar hanya kamulah yang terbaik”
“Tidak Ardi, hatiku sudah terlalu sakit dengan perlakuan kalian berdua, persahabatan kami harus ternodai dengan perlakuan kalian yang salah menempatkan cinta. Jalanilah hubungan kalian dengan baik, biarlah aku yang mengalah” kata Pingkan.
“Aku ragu pada Citra, aku yakin padamu Pingkan. Aku memang salah, aku akan belajar untuk menanamkan cinta dengan ketulusan. Aku tak akan memilih siapapun diantara kalian. Aku pergi Pingkan, walapun hubungan kita hars berakhir dengan tetesan air mata, namun bagiku kamu tetap yang terindah dan tak akan pernah terganti. Maafkan aku Pingkan, lebih baik aku menjauh dari kehidupan kalian” jelas Ardi panjang .
Semenjak itu, Ardi tak pernah kembali. Dan dengan berat hati Pingkan dan Citra harus mengakhiri persahabatan mereka yang sudah lama terjalin. Citra terlalu terhadap Pingkan atas kelakuan yang dibuatnya. Kini hanya foto-foto yang terbingkai indah yang menjadi kenangan.
Langit biru menjadi teman setia Pingkan saat lamunannya jah melayang pada Ardi. Namun, Pingkan sadar Ia harus melupakan Ardi. Pingkan tak pernah menyesali perpisahan tetapi Pingkan menyesali pertemuannya dengan Ardi.
Ponsel Pingkan berdering membuyarkan lamunannya. Nama Ronald tertera pada layer ponselnya, Pingkan lupa sesuatu. Hari ini Ronald mengajak Pingkan untuk memilih pakaian pengantin yang tak lama lagi akan dikenakannya pada pesta pernikahannya bersama Ronald.
Sabtu, 26 Juni 2010
PUISI NOFA MAYA SARI
1.
BUNDA
Kasih sayang mu mengalahkan dalamnya samudra
Cinta kasihmu mengalahkan tingginya langit diangkasa
Perjuanganmu sungguh tiada tara
Yang tak busa mengalahkan semuanya
Aku…
Anakmu yang tak bisa berbuat apa-apa
Intuk membalas semuanya
Kini..
Dihari tuamu aku berjanji
Akan selalu menemani
Dan tak sedetipun kulalui
Tanpa engkau disisi
Biarkan kuganti keikhlasanmu
Dengan kasih sayang ku
Meski aku tahu
Tak akan bisa melebihi yang kau berikan pada ku
Selama in
Bunda
Aku akan Selalu menyayangimu…
2.
PERTANYAAN HATIKU
Janjimu semanis madu
Ucapanmu setinggi langit biru
Tapi apakah itu hanya janji palsu?
Membuatku bertanya selalu
Tuhan…
Apakah masa indah itu akan tiba?
Atau hanya fatamorgana
Apakah salah aku menantinya?
Apakah salah aku menunggunya?
Tuhan aku sangat menyayanginya
Semoga dia merasakan hal yang sama
3.
HATI YANG TERSAKITI
Ku berharap kau ada disisi
Ku ingin kau ada dihati
Tapi apa yang terjadi???
Semuanya hanya anganku semata
Janjimu dulu tinggal janji
Kau tak pernah anggap ku ada
Kau tak pernah pedulikan aku
Aku hanya patung bagi mu
Kini ku sadari
Bila kau memang bukan untuku
Anggap saja aku tak pernah ada
Tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu
Karena aku yang memilihmu
4.
MUSUHKU, CINTAKU
Keangkuhan itu
Kini berubah menjadi perhatian
Kebencian itu
Kini berubah menjadi kasih sayang
Tatapanmu membuatku sadar
Ucapanmu membuatku tahu
Bila kebencian itu
Kini berubah cinta
Tapi hati ku bimbang
Untuk membalasnya
Karena bayangan cinta mu dulu
Membayangi hidupmu
Kini aku tahu
Kau tetap menjadi musuhku
yang tak mungkin
Menjadi cintaku
5.
SAHABATKU, LUKAKU
Sahabat…
Dulu,
Semua jurang yang terjal kita lalui
Semua kerikil yang menghadang kita lewati
Bahkan,
Ilalang pun bosan melihat kebeersamaan dan keceriaan kita
Tapi kini, kau tusukan duri tajam
Di qolbu ku
Kau renggut semua kebahagiaan ku
Yang telah ku rajit sekian lama
Kini kurelakan kebahagiaan itu
Kau amanil dari hati ku
Biarlah tangsiku tak ada seorangpun tahu
Termasuk dirimu
BUNDA
Kasih sayang mu mengalahkan dalamnya samudra
Cinta kasihmu mengalahkan tingginya langit diangkasa
Perjuanganmu sungguh tiada tara
Yang tak busa mengalahkan semuanya
Aku…
Anakmu yang tak bisa berbuat apa-apa
Intuk membalas semuanya
Kini..
Dihari tuamu aku berjanji
Akan selalu menemani
Dan tak sedetipun kulalui
Tanpa engkau disisi
Biarkan kuganti keikhlasanmu
Dengan kasih sayang ku
Meski aku tahu
Tak akan bisa melebihi yang kau berikan pada ku
Selama in
Bunda
Aku akan Selalu menyayangimu…
2.
PERTANYAAN HATIKU
Janjimu semanis madu
Ucapanmu setinggi langit biru
Tapi apakah itu hanya janji palsu?
Membuatku bertanya selalu
Tuhan…
Apakah masa indah itu akan tiba?
Atau hanya fatamorgana
Apakah salah aku menantinya?
Apakah salah aku menunggunya?
Tuhan aku sangat menyayanginya
Semoga dia merasakan hal yang sama
3.
HATI YANG TERSAKITI
Ku berharap kau ada disisi
Ku ingin kau ada dihati
Tapi apa yang terjadi???
Semuanya hanya anganku semata
Janjimu dulu tinggal janji
Kau tak pernah anggap ku ada
Kau tak pernah pedulikan aku
Aku hanya patung bagi mu
Kini ku sadari
Bila kau memang bukan untuku
Anggap saja aku tak pernah ada
Tapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu
Karena aku yang memilihmu
4.
MUSUHKU, CINTAKU
Keangkuhan itu
Kini berubah menjadi perhatian
Kebencian itu
Kini berubah menjadi kasih sayang
Tatapanmu membuatku sadar
Ucapanmu membuatku tahu
Bila kebencian itu
Kini berubah cinta
Tapi hati ku bimbang
Untuk membalasnya
Karena bayangan cinta mu dulu
Membayangi hidupmu
Kini aku tahu
Kau tetap menjadi musuhku
yang tak mungkin
Menjadi cintaku
5.
SAHABATKU, LUKAKU
Sahabat…
Dulu,
Semua jurang yang terjal kita lalui
Semua kerikil yang menghadang kita lewati
Bahkan,
Ilalang pun bosan melihat kebeersamaan dan keceriaan kita
Tapi kini, kau tusukan duri tajam
Di qolbu ku
Kau renggut semua kebahagiaan ku
Yang telah ku rajit sekian lama
Kini kurelakan kebahagiaan itu
Kau amanil dari hati ku
Biarlah tangsiku tak ada seorangpun tahu
Termasuk dirimu
CERPEN NOFA MAYA SARI
1.
CINTANYA CINTA
Teriknya sang surya memancarkan panasnya menembus cakrawala, angin pun seakan enggan memberikan kesejukannya dan hanya sesekali saja meniupkan nafasnya kesemua orang. Butiran-butiran airpun menyelimuti tubuhku yang sesekali kusekat dengan sapu tangan merah mudaku. Kakiku seakan berat melangkah masuk ke sekolah, karena siang ini tak seperti biasanya kegiatan belajar dimulai siang hari. Hal itu dikarenakan pagi hari nya guru-guru mengadakan rapat besar didiknas jadi kegiatan sekolah di ganti siang hari.
“Ta, kamu kenapa sih baru datang langsung manyun aja. Jelek tahu?” ucap Imel sahabatku.
“Siang ini ada dua hal yang buat aku kesel. Pertama aku males banget belajar siang-siang gini rasanya enggak semangat banget dan yang kedua gara-gara cowok nyebelin itu”.
“Kalau males, sama aja Ta… Aku dan teman-teman lain juga males banget ke sekolah siang-siang gini. Orang harusnya jam segini kita udah pulang, ini malah baru masuk. Tapi mau gimana lagi??? Kalau masalah kamu yang kedua, pasti gara-gara Yudha kan??”
“ Iya bener banget Mel, tadi aku ketemu Yudha dan dia bilang sama ku kalau mulai besok dia bakal anter jemput aku sekolah dan “gak .pake nolak”.””
“Bagus dong Ta, hitung-hitung ada ojek gratis”.
“Bagus apanya, lihat aja pasti aku gak akan bisa kemana-mana karena sifat dia yang sok ngatur. Pacar juga bukan”.
“Kalian berdua tuh ya, kenapa sih gak jadian aja. Malu-malu terus”.
“Amit-amit pacaran sama orang nyebelin kayak dia,. Udah dech males ngomongin dia. Mending aku keruang osis sekarang”. Berlari meninggalkan Imel…
Aku dan Yudha memang cukup dekat, sampai-sampai orang mikir kalau kami pacaran. Sebenarnya kami tak pernah akur, karena pasti ada aja yang diributin. Tapi aku senang karena aku bisa dekat dengan Yudha. Dibalik sifat nyebelinnya banyak banget sisi baik dan perhatiannya padaku. Sampai akhirnya aku merasakan perasaan yang tak aku mengerti .Aku selalu senang di dekatnya dan dia selalu memberi perhatian yang membuatku bahagia, meskipun tak seperti lelaki yang lain. Dan dari kata-katanya yang ketus tapi tersimpan perhatian yang dia berikan. Apa aku jatuh cinta padanya???
Hari ni aku berharap Yudha kasih aku semangat, karena hari ini adalah hari terpenting bagi ku. Hari ini ada lomba karya ilmiah tingkat Jakarta yang akan aku ikuti. Aku tak tahu kenapa aku sangat berharap dukungan darinya. Tapi kulihat disekelilingku tak kudapati sosok orang yang menyebalkan itu.
“Cinta,, hari ini semua tugas OSIS biar aku yang ngerjain dan kamu gak usah pikirin semua. Serahkan semuanya padaku”.
“Tenang aja Mel, aku percaya semua tugas pasti bisa kamu kerjakan dengan baik. Mangkanya aku yakin pilih kamu wakil ketua OSIS.”
“Makacih Ta, kamu harus semangat ya dan kita semua do’ain semoga kamu menang.. S.E..M..A..N..G..A..T..”ya udah aku ke toilet dulu yach??” berjalan meninggalkan Aku.
Aku benar-benarmengaharpakan Yudha yang beri aku semangat. Tapi sampai aku berangkat untuk tanding, dia tak memperlihatkan batang hidungnya. “Ya sudahlah dia memang tak memang tak memikirkan aku.. Tapi membayangkan mukanya saja aku sudah cukup senag koq” Ucap ku dalam hati.
Aku tak menyangka kemenangan yang selama 2 Tahun berturut-turut aku menangi harus jatuh ketangan orang lain, Tapi aku cukup senang, karena aku masih bisa mewakili sekolah ku untuk lomba tingkat nasional. Hal itu dikarenakan karena skor ku berbeda tipis dengan lawan ku yang menag. Selain itu aku tak menyangka ternyata orang yang nyebelin itu masih perhatian pada ku. Dia mengirimkan secarik kertas dalam tasku.
Cinta,,aku yakin kamu bisa menang.
Sebut saja namaku pasti kamu bisa semangat..
Yudha..
Walau sedikit narsis, tapi aku sabgat senag kalau dia sudah perhatian padaku.
“Cinta….. pulang bareng aku aja yuk, soalnya aku pulang sendirian nih”.
“Eh pipit, gak usah dech entar ngeropotin lagi”.
“yach enggaklah Ta, yuk naik”.
Begitu banyak yang kau dapatkan saat lomba ini, selain ilmu tapi aku juga menemukan teman baru, dialah “pipit”. Pipit yang memenangkan lomba itu yang telah dia rebut dari tanganku, tapi aku tak kebertan karena dia orang yang sangat pintar dan dia memang pantas mendapatkannya. Aku dan pipit cerita banyak tentang sekolah kamimasing-masing dan salah satunya dia mengenal Yuda. Aku tak menyangka Yudha cukup terkenal dan bukan hanya di sekolah ku saja, tetapi dia juga terkenal di luar. Mungkin karena jabatannya menjadi kapten basket di sekolahku.
Setelah pertemuan itu, aku dan pipit semakin akrab kami jalan , makan dan pergi jalan-jalan bersama. Sampai akhirnya aku memperkenalkan Pipit dngan sahabat-sahabatku. Dan kebetulan Imel dan Ririn sedang bermain tempat Sarah, sebenarnya sarah dan Imel musuh bebuyutan Imel karena Sarah menyukai Tomi pacar Imel. Tapi karena tugas OSIS terpaksa bersama. Dan tak ketinggalan aku juga memperkenalkan Yudha pada Pipit.
Tapi aku tak menyangka ternyata kedekatan ku dan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak meyangka ternyata pertemanan ku dengan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak sengaja mendengar obrolan Sarah dan Pipit.
“Ngapain Pit kamu balik lagi kehidup kami?”
“Kok kamu bilang gitu sih Sar?”
“Bukannya kamu senang di Jerman? Terus ngapain kamu nalik ke Indonesia?”
“Sar, aku kan kangen sama kalian, kit kan masih temanan?”
“iya dulu nkita memang temanan tapi sebelum kamu nyaklitin hati teman ku yaitu “Yudha” kenapa kamu putusin dia dan lebih milih pergi ke Jerman atau kamu sengaja deketin Cinta untuk deket sama akau dan Yudha lagi?”
“Aku tahu Sar aku salah, aku minta maaf. Tapi aku tak ada niat buat manfaatin Cinta. Karena aku memang masih sayang banget sama Yudha”.
Nafasku seakan berhenti sejenak mendengar perkataan pipit, seakan berat bibirku untuk berkata-kata. Karena aku benar-benar tak menyangka kalu Pipitlah cinta pertama Yudha. Pantas saja tadi malam Yudha mesti gaya dan mendadak pergi meninggalkan nkamitanpa pesan. Ternyata Yudha bertemu dengan cinta pertamanya. “Ya tuhan ku mohon semoga Pipit hanya massa lalu Yudha, jangan sampai Yudha kembali lagi pada pipit karena ku tak sanggup menerima kenyataan ini semua”. Pintaku dalam hati.
Siang ini ada pertandingan basket di sekolah dan menjadi lawannya dari sekolah Pipit. Sudah pasti Yudha akan bertemu dengan Pipit.
“DUBRAKKKK…….”terdengar suara orang jatuh dan semua terkejut karena orang yang terjatuh itu tak lain kapten chealiders dari sekolah tunas bangsa. Iya dialah Pipit….Pipit terjatuh saat ngedance. Dan membuat ku terpaku bukan karena jatuhnya Pipit, tapi orang yang menggendong Pipit yang membuat hatiku sangat sakit. Yudha dengan sigapnya menggendong Pipit dan otomatis semua mata tertuju pada mereka. Tapi aku tak menyangka ternyata Yudha menoleh pada ku saat Pipit masih ada di peluknnya. Apa maksud Yudha menoleh ke arah ku, aku benar-benar tak mengerti. Tapi langkahnya tetap saja melaju mengantarkan Pipit ke ruang kesehatan. Karena rasa keingintahuan ku yang sangat besar, kaki ku melangkah ke ruang kesehatan yang sudah jelas ada Pipit dan Yudha di dalamnya.
Kaki ku seakan enggan berlari meninggalkan mereka, tapi hatiku sangat-sangat sakit saat kulihat kejadian ini. Yudha dengan sangat mesranya memeluk Pipit. Langit seakan runtuh dan kukira hari ini akan segera kiamat dan mengakhiri semesta ini. Aku benar-benar tak tahan lagi melihat kejadian ini. Dengan sekuat tenaga kakiku berlari meninggalkan tempat ini. Dan tak terasa bitiran-butiran air telah memenuhi pipiku. Tapi seakan ada lampu merah di hadapanku yang membuat kakiku mengerem cepat dan membuat langkah kakiku berhenti.
“Yudha..”Ucapku dalam hati, aku tak sempat lagi menghapus air mataku yangb telah memenuhi pipiku. Dan sudah pasti aku tak sanggup untuk memandangnya tajam.
“Cinta, kamu melihat aku dan pipit?” Aku tak bisa menjawab apa-apa dan aku hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan Yudha.
“Cinta percayalah itu tak seperti yang kau bayangkan” Kenapa Yudha menjelaskan semua ini, apa pentingnya aku baginya sehingga mengharuskan nya menjelaskan pada ku.
“Maaf tadi aku tak sengaja melihat kalian berdua”
“Ta, aku memang mencintai dan menyayangi Pipit. Tapi itu dulu Ta”.
“Yud, itu gak ada masalah kok sama aku” Aku terpaksa membohongi perasaan ku demi kebahagiaan mereka.
“Ta, pipit memang cinta pertamaku tapi kamu cinta terakhirku”
“Tapi…..”
Tadi aku bicara sesungguhnya dengan npipit tentan perasaan ku sama kamu, Ta aku tahu aku gak pernah baik sama kamu, aku selalu ketus di dpanmu. Tapi begitulah aku Ta. Aku tak punya keberanian untuk jujur pada mu dan mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya. (memegang kedua tanganku)
“Aku….aku…aku…” Terbata-bata
“Ta, aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi seseorang yang berarti dalam hidupku?’ Aku tak tahu harus berkata apa, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalau aku juga mencintainya.
“Tapi….”
“Ta, aku gak akan paksa perasaan kamu”
“Aku….aku…juga sayang dan cinta banget sama kamu Yud”
“Serius Ta, kamu ngak bihong kan?”
“Aku serius”
Sejak kejadian itu, aku dan Yudha resmi npacaran dan sudah pasti aku sangat bahagia dan senang.
“Cinta, aku ntahu selama kemarin aku pergi ke Jerman pasti Yudha menemukan wanita yang terbaik untuknya dan aku sangat senang karena wanita itu sahabatku sendiri” kata-kata Pipit membuatku bertanbah yakin juka aku akan melewati hari-hariku bersana Yudha.
“Pit, maafkan aku, aku tak bermaksud merebut Yudha dari mu”
“Sudahlah Ta, Yudha massa laluku dan akamu masa depannya. Aku gak akan pernah marah padamu, bahkan aku bersyukur kalau Yudha cinta sama orang byang tepat”.
“Makakasih ya Pit”.
“Ternyata Yudha Cinta nya CINTA ya???”
2.
PERJUANGAN DI UJUNG PENA
Di bawah teduhnya pepohonan dan semilirnya angin di sore itu., Anisa merasakan adanya kedamaian di tempat itu tempat di mana dia dihanyutkan oleh buayan-buayan dan hangatanya dekapan kedua orang yang berharga dalam hidupnya derta keceriaan bersama sahabat-sahabatnya. Kadang aku berpikir untuk apa jauh-jauh merantau ke istana orang bukankah lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang “keluh Anisa sambil memandangi langit yang tinggi setinggi cita-citanya.
Tapi demi suatu kesuksesan dan angan-anganku menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, keinginan itu kukubur dalam-dalam sedalam samudera Atlantik. Apapun akan aku lakukan bahkan berguru ke negeri Cina pun tak masalah bagi ku. Sambil tersenyum Anisa menggenggam formulir pendaftaran perguruan tinggi pilihannya.
Anisa termasuk keluarga yang berada, Ayahnya cukup terpandang di kampungnya karena keramahan dan profesinya menjadi nkepala sekolah di suatu SMA Negeri Palembang. Serta kepemimpinan Ayahnya di sekitar rumahnya. Wajar jika Anisa dan keluarganya sangat disegani di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kalau aku sudah kuliah nanti, apakah kebiasaan ku mengepang rambut dan mengendong tasw di kedua pundakku akan tetap aku lakukan seperti aku duduk di SMA dulu atau akan ku lempar sejauh-jauhnya?” keluh Anisa sambil mengerutkan dahinya.
Keinginan Anisa sudah seperti bulan yang dengan penuh memancarkan sinarnya tanpa ada awan hutan yang menutupi dan Anisa akan membuktikan keseluruh makhlik bahawa jasa seorang guru itu tak bisa di ukur dengan mistar ataupun termometer.
“Anisa, hari sudah sore, cepat pulang bukankah besok kau akan berangkat ke Jakarta?” sapa ibu yang sudah hampir ¼ abad mengisis dunia parah ini.
“Iya bu, Anisa pulang”jawab Anisa memenuhi keinginan ibunya sambil bergegas pulang dari tempatv dimana dia sering membuang kesedihannya. Besok adalah hari yang sangat berat baginya, soalnya dia akan meninggalkan keluarga, sahabat dan tempat dimana dia dibesarkan sampai dengan dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Akan cukup lama dia berada di istana orang dan lama juga dia meninggalkan istannanya kurang lebih 4 tahun.
Hari yang menentukan masa depannya pun tiba, soalnya dihari itulah da akan sejenak meninggalkan istananya dan kotanya kota yang terkenal dengan pempek kain songket dan jembatan Amperanya.
“Anisa harus bisa jaga diri ya di sana, dan jangan pernah terbuai dengan khidupan yang glamor di sana” pesan kepala rumah tangga di rumahnya.
“Iya Ayah, Anisa janji dan akan Anisa buktikan kalau Anisa akan bisa seperti Ayah yang dapat berguna bagi siapapun”.
Tanpa terasa hari pun berganti, diawal harinya di Jakarta di lalui dengan kesedihan tidak ada orang yang setia menemaninya seperti putri salju yang selalu ditemani oleh kurcaci-kurcacinya atau seperti Aladin yabng selalu ditemani dengan lampu ajaibnya. Tetapi tak terasa hari berganti waktu bergulir dan duniapun berputar. Semua rasa itu sedikit mulai hilang. Dan kehidupan di Jkarta memang sangat glamor . Mulai dari pergaulan anak metropolitan yang katanya harus gaul. Kalau kita tidak bisa mejaga diri kita pasti akan terjerumus kesumur yang paling dalam dan sulit untuk kembali ke atas apabila kita tidaj bisa berenang. Serta lingkungan yang tidak ramah, polusi dimana-mana dan yang tak kalah repotnya banjir yang dimana-mana. Semuanya karena ulanh tangan manusia yang tak sayang dengan lingkungan.
“Tetapi sudahlah, Aku harus kembali keniat pertamaku. Qku harus menjadi sarjana dan akan menyalurkan ilmu ku kepada murid-murid ku nanti, lagi pula aku cukup senang ,mempunyai teman di sini yang jauh dari hidup glamor. Bisa dibilang 11 dan 12 dariku. Niat ku disini menuntut ilmu bukan tanding fashion ataupun tanding wajah. Ingin kubuktikan pada Ayah, kalu aku isa sesabar dan setekun beliau” ujar Anisa dalam hati, sambil memandangi hasil semesterannya yang cukup baik diantara teman-temannya satu kelas.
Tanpa terasa 4 tahun pun berlalu, Anisa bangga dengan prestasi yang dia miliki di Jakarta. Di kota yang cukup asing baginya, Anisa lulusan terbaik di jurusannya dan akan mendapatkan gelar sarjana sama seperti kedua kakaknya. Bahkan Anisa tidak perlu susah payah mencari tempat menyalurkan ilmu pada siswanya soalnya dia di beri kemudahan oleh perguruan tinggi di mana tempatnya menaung selama ini. Anisa diangkat6 menjadi asistn dosen di Universitas itu. Dan seperti pepatah sambil menyelam minum air. Anisapun mendapatkan laki-laki yang sangat menyayanginya dan berniat menyuntingnya.
3.
CINTA TAK SAMPAI
Hatiku bergetar dengan kencang, kurasakan darahku mengalir dengan derasnya, entah apa yang harus kulakukan hanya menetes air mataku ketika melihatnya. Dia memeluk tubuhku dan dan disaat itu pula aku harus melepaskan dirinya untuk bersama tunangannya. Entah rasa apa yang berkecambuk di dalam hati, ingin rasanya kutahan ketika” Randi” mulai berjalan meninggalkanku.
“ Randi jangan tinggalkan aku”
“maaf Kirana” Randi terus berjalan menjauh
“Randi, jangan… aku cinta kamu..” Randi tak sedetikpun menoleh kearahku, aku hanya mempu menatap betapa jauhnya kini ia dariku.
etahub telah berlalu, namun aku masih larut dalam kesedihan, Bayang-banyanganya selalu mengahntui dalam kesendirianku. Masih ingat dalam kenangan panjang, saat pertama kali aku bertemu dengannya di acara pernikahan temanku “saskia”
Randi negitu tampan dengan lemeja putihnya, awalnya aku sama sekali tak melihat sososknya, namun setelah saskia memperkenalkan aku dan sia, Mulailah persahabatab indah diantara kami.
“Hai nama ku Randi, kamu?” begitu sapanya pada waktu itu
“Kirana”
Dia menjabat taagan ku dengan penuh kehangatan, seakan-akan melalui genggaman itu ia sampaikan isi hatinya padaku, kami habiskan waktu dengan perbincangan yang seadanya. Waktu terasa cepat sekali berlalu hingga kemi pun harus berpisah.
Aku pikir setelah perp[isahan itu akau tak akan lagi bertemu dengannya, tapi akau salah ketika kijumpai dia tetap di depan rumahku.
“kau tahu dari mana rumahku?”
“sahabatnu, saskia”
“oh…”
Tak izinkan aku masuk”
“oh ya silakan masuk”
Begitu ramah dan sopan ia berbicara padaku, kedekatan diantara kami mulai terjalin hingga hati ini mulai merasakan sesuatu yang aneh entah sejak kapan hal itu terjadi.
Hari-hariku berjalan dengan indah, aku bagai hidup dalam singgasana khayal yang memabukan setiap penghininya. Semua berjalan dengan sempurna.
Sebelum Randi mulai menjauhi hidupku, tak pernah lagi ia menemui aku. Aku terjebak dalam kebimbangan tak tahu harus beebuat apa. Hingga kutemukan ia bersama seorang wanita, dengan nudah Randi berkata padaku “aku sudah menang atas dendamli pada mu”. Aku sungguih tak mengerti maksud berkataanya, “Dendam” aku merasa tak melakukan dosa apapun kepadanya. Kata-kata membuat keadaan ku terpuruk setiap hari aku menghiasi waktuku dengan butiran kesedihan.
Awalnya aku muak mendengar namanya, namun mendengar penjelasan saskia mengertilah aku sekarang.
“Kirana denngarkan aku, ini jujur dari perkataan Randi”
“Sudahlah aku muak mendengar namanya”
“Dengar kau harus diam, Randi terpaksa melakukan ininpadamu”
“Kau dan dia dari ayah yang sama, sekalipun ibu yang berbeda, ia juga terpaksa mengalah pada nasib dan ia sangat mencintaimu kirana”
“Kau bohong”
“Tidak, aku ingatkan kamu harus lupakan dia paham?”
Aku tak berkata apa-apa hingga saskia pergi. Kini setahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Namun aku belum dapat melupakan Randi. Terbaring aku di lantai lamarku setelah ku reguk obat tidur agar aku dapat melupakannya selamanya. Dan untuk sahabatku Saskia kutinggalkan secarik pesan.
Maafkan aku Sas, aku tak mau lagi kalah dari takdir seytelah ibu dan ayahku diramapas dan kini cintakupun dirampas, aku tak mampu melip[akannya. Tapi untukmu sahabatku dengan cara pa pun kupenuhi janjiku padamu, akau akan segera melipakannua dalam tidur panjangku.
4.
SEGUMPAL KENANGAN
Diantara tingginya pohon-pohon pinus yang berdaun rucing seperti pahatan kayu yang siap mengukir semua bentuk ukiran yang beraneka ragam. Satu persatu daun-daun itu lepas dari rantingnya di bawa oleh lembutnya henbusan angin yang perlahan membawanya jatuk ke bumi. Lina, seorang gadis manis yang berlesung pipi kananya, dan didagu runcingnya terdapat tahi lalat yang bertengker di sana. Lina duduk termenung di atas akar-akar pohon pinus yang tersebar dianatara rerumputan hijau dan dikelilingi oleh daun-daun kering yang berwarba keciklatan, seakana menandakan sudah cukup lama daun-daun itu terdampar di sana.
Suasana di siang itu tidak terlalu sejuk, angin seakan enggan memberikan kesejukannya. Tetapi semuanya seakan terhapuskan dengan merdunya lantunan suara jangkrik yang seolah-olah menyihir semua orang yang mendengarnya, termasuk Lina yang seakan membawa ke masa silam. Masa dimana dia masih menjalin kasih dengan tambatan hatinya. Nayu, pria alumni fakultas kedokteran salah satu Universitas terkemuka di kota Palembang yang berhasil merebut hatinya. Bayu merupakan kakak tingkat Lina di perguruan tinggi yang sama. Mereka memadu kasih sejak SMA bak Gakih dan Ratna yang tak dapat terpisahkan dalam situasi apapun.
“Lina…tunggu..”
Jerit Bayu yang sambil berlari-lari mengejar Lina sesekali disambung suara napas Bayu yang terengah-engah, bagaikan kijang emas yang baru saja siincar oleh predatornya.
“ada apa mas Bayu?kok sepetinya EMERGENCY banget” Tanya Lina heran melihat tungakah romeo nya.
“Pulang kamu kuliah nanti kita ketemuan di tempat biasa ya, soalnya mas Bayu ada kejutan buat Lina” hujuk Bayu dengan muka yang sedikit memelas dengan tetap nerpenami;lan rapi dengan seragam mputihnya dan tak plipa stetoskop yang melingkat di lehernya.
“memangnya kejutan apa sih mas Nyu, nuat LINA PENASARAN AJA?” SAMBUNG Lina sambil mengerutkan keningnya.
“pokoknya Lina tunggu mad Bayu, ya?” jangan kemana-mana sampai mas Bayu datang menemui Lina. OK sayang!” tanpa menghiraukan orang lain di sekelilingnya, Bayu mendaratkan kecupan mesranya di kening Lina. Wajah Lina sontak berubah warna kemerajhan bak bunglon yang bisa berubak warna dimanapun tempatnya berlindung. Tanpa merasa berdosa, Bayu tersenyum dan langsung pergi menunggalkan Lina.
Detik demi detik Lina menunggu Bayu di tempat mereka berdua pertama kali bertemu dan berkomimen untuk menjalin kasih. Tapi penantian Lina berjam-jam di hutan wisata it sia-sia dan berubah pahit. Bayu pergi meninggalkan Lina intuk selamanya dan meninggalkan satu persatu kejutan yang tak sempat dia berikan kepada Lina. Hati Lina bagaikan diambil paksa oleh malaikat pencabut nyawa yang tanpa nernegosiasi dan berkompromi dulu kepada Lina, bak POL PP yang menangkap sekimpilan PSK yang sedang asyik nerjualan. Tapi kenyataan itu harus Lina telan, bila malaikat pencabut nyawa mengamnil mas Bayu dari pelikannya dan tepat di hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun.
“Lin, cari makan yuk?kaper nih” ujar Ani yang membuyarkan lamunan panjang Lina.
“kalian berdua saja, aku masih mau di sini” jawab lina lembut dengan tatapan kosong dan seolah enggan nmeninggalkan tempat duduknya seraya cinderela yang menunggu kedatangan kereta labunya.
“kau pasti ngelamunin Bayu kan?” Tanya ana yang mencoba memastikan. Sembari mengangukan kepalanya, tak sadar butiran-butiran aur jatuh dari bola mata indah Lina. Lina serasa mengingat sesuatu yang seharusnya dia lupkan.
“Lin, mengkanya kami ragu waktu kau mengajak kami ke sini. Karena pasti luka lama yang memang sulit untuk disembuhkan akan kembali menganga”. Ucap Ana pelan sambil membelai rambut halus Lina yang dibiarkan terjurai panjang, seakan menutupi kesedihannya yang bergelayut disanubari.
“udah dong sedihnya, kita pulang aja yuk?”
Kalau kita disini terus entar bisa banjir loh, entar binatang-binatang di sini mau ngungsi kemana?” ujar saudara kembar Ana yang mebcoba menghibur sahabatnya.
“iya Lin, kita pulang aja ya?aku tak sanggup nila harus melihat lau termenung dan menangis disini” bujuk Ana yang menambakan ucapan Ani.
Kini segala kebahaiaan itu luluh lantah si sapu oleh kejamnya dinia, hanya mengisahkan segumpal kenangan yang bersarang bdi hati Lina. Dan hanya di tempat itu Lina bisa merasakan dan menatap senyuman Nayu.
“Mas Nayu, sampai kapanpun Lina akan selalu sayang sama mas Bayu dan akan selalu menunggu mas Bayu di sini. Karena Lina masih menunggu kejutan yang ingin mas Bayu berikan”.
Hati Lina menagis bila harus kembali ketempat itu. Karena kenangan itu masih tetap terpetri dan terlihat jelas di mata batin Lina.
5.
TUGASMU, DERITAKU
Hari ini genap 2 bulan sudah Angga tak melayangkan kabarnya kepada ku entah apa yang ada di pikirannya, hingga selama itu dia tak ada kabar./ Begitu banyak rasa Tanya yang menggelayut si otakku. Marah, sedih dan gelisah mungkin rasa itu yang dominan bertengker di sanubariku.
“Tuhan, jika ini akhir dari hubungan kami. Kenapa kau harus pertemukan ku dengannya. Kenapa rasa sakit ini melebihi sakit yang kurasakan senelimnya?” tanyaku dalam hati. Dan tanpa sadar butiran-butiran air berjatuhan dari bola mataku dan memakdaku kembali mengingatnya.
Mungkin hanya tabngisan yang bisa membuat hati ini sedikit tenang, karena aku tak tahu kagi karus berbuat apa untuk mengembalikan kebahagiaan ku seperti dulu. “dia datang tiba-tiba dan dia pergipun tiba-tiba, apa sebenarnya hikmah dibalik ibi sema tuhan?” keluh ku untuk tak eadilan yang ku alami.
Memang awalnya aku sangat mengerti tentang profesinya sebagai pengaman Negara ini, tapi semakin rasa curigadan cemburu mengalahkan semuanya. Aku bingung apa yang harus kulakukan untuk membunuh rasa itu, karena aku tahu profesinya memang mengharuskan kami tidak bisa berkomunikasi dengan bebas. Hari demi hari, mnggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui tanpa kabarnya lagi.
Kadang aku berpikir kenapa aku harus curiga dan cemburu., karena senua orang tahu sebagai pengaman Negara begitu banyak aturan-aturan yang harus dia patuhi dan salah satunya tidak diperkenankan berkomunikasi dengan siapapun selama bertugas. Tapi begiku ini tetap tak adil, kenapa profesinya harus mengahalangi perasaan orang untuk memetik kebahagiaan dan bukankah mereka juga perlu merasakan manisnya kebersamaan dengan orang-orang dicintai.
“Nad, kita udah sampai nih ngelamun terus sih?” jeritan Ayu sontak mengejutkan dan memaksaku untuk kembali kedunia sekarang ini yang setelah kurang lebih 2 jam pikiranku melanglang buana entah kemana.
“ohhhh…. Iya…iya….tungguin aku dong!!!” jawabku linglung dan setelah kudasari semua penumpang bis jurusan Cirebon-Majalengka yang kami naiki memandangi ku bterpaku.
“ ehh kenapa sihh semua penumpang tadi lihatin aku semua?”
“ya jelaslah lihatin lho soalnya udah hampir 10 kali kita manggilin lho untuk turun tapi lhonya diem aja malah bengong kayak ayam sakit” jawab Ayu menjelaskan semuanya.
“Maunya sih gitu Vir, tapi tetep aja gak bisa dibalik kebencuianku denganya. Tetapi aku masih menyimpan keyakinan kalau suatu saat nanti dia akan datang dan menepati janjinya” jawanku yakin.
“tapi waktu itu kapan nadia tak ada kabar darinya kamu juga gak tau yang dia lakukan disana iyakan???ycapa Ayu sembari merangkul ku untuk duduk di bawah pondok kayu yang mungkin sudah lama tak berpengaruhi yang letaknya tepat dipinggir jalan dan mempernudah kami memilih tukang ojek untuk mengantarkan kami kerumah Vira.
“Jadi aku harus gimana, apa aku harus menunggunya atau aku harus melipakannya?”
“Nad, kita tau kamu mencintainya dan kita sebagai sahabat hanya mengharapkan yang terbaik untuk mu. Jadi apapun yang kau lakukan pasti kami dukung”,
“apa yang dikatakan Ayu itu benar Nad, kalau jodoh gak akan kemana kok. Pergaya dech!!!” tambah Sela meyakinkanku.
Untung saja masih ada teman-teman ku yang selalu siap siaga menemaniku melewati haari-hari tersulit dalam hidupku ini. Mereka selalu dan minimal mengurangi rasa sakit yang kurasakan.
Kepergian kami liburan kampong halaman Vira, cukup menghibur dan sedikit membuang rasa sakit yang selama ini kurasakan. Bagiku kebersamaan bersama sahabat-sahabat merupakan obat yang ampuh dan tal bisa dineli di apotek manapun. Serta yang lebih penting harganya sangat mahal melebihi harga sepatu yang dipajang di etalase-etaase butik ternama.
Sejak obrolan panjangku dengan sahabat-sahabat ku itu, aku memutuskan untuk menuggu Angga sampai batas yang dia katakana kepadaku, Selebihnya jika dia tak ada kabat, aku akan berusaha untuk menghapus namanya di hatiku dan mungkin untuk selamanya. Mungkin askan sulit tapi aku aharus mencobanya. DEngan kejadioan ini menjadi dan kekuatan bagiku untul sabar dalanm menghadapi semua masalah yang datang membuatku lebih dewasa untuk memilah mana arjuna yang benar-benar mencintaiku nanti.
CINTANYA CINTA
Teriknya sang surya memancarkan panasnya menembus cakrawala, angin pun seakan enggan memberikan kesejukannya dan hanya sesekali saja meniupkan nafasnya kesemua orang. Butiran-butiran airpun menyelimuti tubuhku yang sesekali kusekat dengan sapu tangan merah mudaku. Kakiku seakan berat melangkah masuk ke sekolah, karena siang ini tak seperti biasanya kegiatan belajar dimulai siang hari. Hal itu dikarenakan pagi hari nya guru-guru mengadakan rapat besar didiknas jadi kegiatan sekolah di ganti siang hari.
“Ta, kamu kenapa sih baru datang langsung manyun aja. Jelek tahu?” ucap Imel sahabatku.
“Siang ini ada dua hal yang buat aku kesel. Pertama aku males banget belajar siang-siang gini rasanya enggak semangat banget dan yang kedua gara-gara cowok nyebelin itu”.
“Kalau males, sama aja Ta… Aku dan teman-teman lain juga males banget ke sekolah siang-siang gini. Orang harusnya jam segini kita udah pulang, ini malah baru masuk. Tapi mau gimana lagi??? Kalau masalah kamu yang kedua, pasti gara-gara Yudha kan??”
“ Iya bener banget Mel, tadi aku ketemu Yudha dan dia bilang sama ku kalau mulai besok dia bakal anter jemput aku sekolah dan “gak .pake nolak”.””
“Bagus dong Ta, hitung-hitung ada ojek gratis”.
“Bagus apanya, lihat aja pasti aku gak akan bisa kemana-mana karena sifat dia yang sok ngatur. Pacar juga bukan”.
“Kalian berdua tuh ya, kenapa sih gak jadian aja. Malu-malu terus”.
“Amit-amit pacaran sama orang nyebelin kayak dia,. Udah dech males ngomongin dia. Mending aku keruang osis sekarang”. Berlari meninggalkan Imel…
Aku dan Yudha memang cukup dekat, sampai-sampai orang mikir kalau kami pacaran. Sebenarnya kami tak pernah akur, karena pasti ada aja yang diributin. Tapi aku senang karena aku bisa dekat dengan Yudha. Dibalik sifat nyebelinnya banyak banget sisi baik dan perhatiannya padaku. Sampai akhirnya aku merasakan perasaan yang tak aku mengerti .Aku selalu senang di dekatnya dan dia selalu memberi perhatian yang membuatku bahagia, meskipun tak seperti lelaki yang lain. Dan dari kata-katanya yang ketus tapi tersimpan perhatian yang dia berikan. Apa aku jatuh cinta padanya???
Hari ni aku berharap Yudha kasih aku semangat, karena hari ini adalah hari terpenting bagi ku. Hari ini ada lomba karya ilmiah tingkat Jakarta yang akan aku ikuti. Aku tak tahu kenapa aku sangat berharap dukungan darinya. Tapi kulihat disekelilingku tak kudapati sosok orang yang menyebalkan itu.
“Cinta,, hari ini semua tugas OSIS biar aku yang ngerjain dan kamu gak usah pikirin semua. Serahkan semuanya padaku”.
“Tenang aja Mel, aku percaya semua tugas pasti bisa kamu kerjakan dengan baik. Mangkanya aku yakin pilih kamu wakil ketua OSIS.”
“Makacih Ta, kamu harus semangat ya dan kita semua do’ain semoga kamu menang.. S.E..M..A..N..G..A..T..”ya udah aku ke toilet dulu yach??” berjalan meninggalkan Aku.
Aku benar-benarmengaharpakan Yudha yang beri aku semangat. Tapi sampai aku berangkat untuk tanding, dia tak memperlihatkan batang hidungnya. “Ya sudahlah dia memang tak memang tak memikirkan aku.. Tapi membayangkan mukanya saja aku sudah cukup senag koq” Ucap ku dalam hati.
Aku tak menyangka kemenangan yang selama 2 Tahun berturut-turut aku menangi harus jatuh ketangan orang lain, Tapi aku cukup senang, karena aku masih bisa mewakili sekolah ku untuk lomba tingkat nasional. Hal itu dikarenakan karena skor ku berbeda tipis dengan lawan ku yang menag. Selain itu aku tak menyangka ternyata orang yang nyebelin itu masih perhatian pada ku. Dia mengirimkan secarik kertas dalam tasku.
Cinta,,aku yakin kamu bisa menang.
Sebut saja namaku pasti kamu bisa semangat..
Yudha..
Walau sedikit narsis, tapi aku sabgat senag kalau dia sudah perhatian padaku.
“Cinta….. pulang bareng aku aja yuk, soalnya aku pulang sendirian nih”.
“Eh pipit, gak usah dech entar ngeropotin lagi”.
“yach enggaklah Ta, yuk naik”.
Begitu banyak yang kau dapatkan saat lomba ini, selain ilmu tapi aku juga menemukan teman baru, dialah “pipit”. Pipit yang memenangkan lomba itu yang telah dia rebut dari tanganku, tapi aku tak kebertan karena dia orang yang sangat pintar dan dia memang pantas mendapatkannya. Aku dan pipit cerita banyak tentang sekolah kamimasing-masing dan salah satunya dia mengenal Yuda. Aku tak menyangka Yudha cukup terkenal dan bukan hanya di sekolah ku saja, tetapi dia juga terkenal di luar. Mungkin karena jabatannya menjadi kapten basket di sekolahku.
Setelah pertemuan itu, aku dan pipit semakin akrab kami jalan , makan dan pergi jalan-jalan bersama. Sampai akhirnya aku memperkenalkan Pipit dngan sahabat-sahabatku. Dan kebetulan Imel dan Ririn sedang bermain tempat Sarah, sebenarnya sarah dan Imel musuh bebuyutan Imel karena Sarah menyukai Tomi pacar Imel. Tapi karena tugas OSIS terpaksa bersama. Dan tak ketinggalan aku juga memperkenalkan Yudha pada Pipit.
Tapi aku tak menyangka ternyata kedekatan ku dan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak meyangka ternyata pertemanan ku dengan Pipit menjadi masalah baru dalam hidupku. Malam itu aku tak sengaja mendengar obrolan Sarah dan Pipit.
“Ngapain Pit kamu balik lagi kehidup kami?”
“Kok kamu bilang gitu sih Sar?”
“Bukannya kamu senang di Jerman? Terus ngapain kamu nalik ke Indonesia?”
“Sar, aku kan kangen sama kalian, kit kan masih temanan?”
“iya dulu nkita memang temanan tapi sebelum kamu nyaklitin hati teman ku yaitu “Yudha” kenapa kamu putusin dia dan lebih milih pergi ke Jerman atau kamu sengaja deketin Cinta untuk deket sama akau dan Yudha lagi?”
“Aku tahu Sar aku salah, aku minta maaf. Tapi aku tak ada niat buat manfaatin Cinta. Karena aku memang masih sayang banget sama Yudha”.
Nafasku seakan berhenti sejenak mendengar perkataan pipit, seakan berat bibirku untuk berkata-kata. Karena aku benar-benar tak menyangka kalu Pipitlah cinta pertama Yudha. Pantas saja tadi malam Yudha mesti gaya dan mendadak pergi meninggalkan nkamitanpa pesan. Ternyata Yudha bertemu dengan cinta pertamanya. “Ya tuhan ku mohon semoga Pipit hanya massa lalu Yudha, jangan sampai Yudha kembali lagi pada pipit karena ku tak sanggup menerima kenyataan ini semua”. Pintaku dalam hati.
Siang ini ada pertandingan basket di sekolah dan menjadi lawannya dari sekolah Pipit. Sudah pasti Yudha akan bertemu dengan Pipit.
“DUBRAKKKK…….”terdengar suara orang jatuh dan semua terkejut karena orang yang terjatuh itu tak lain kapten chealiders dari sekolah tunas bangsa. Iya dialah Pipit….Pipit terjatuh saat ngedance. Dan membuat ku terpaku bukan karena jatuhnya Pipit, tapi orang yang menggendong Pipit yang membuat hatiku sangat sakit. Yudha dengan sigapnya menggendong Pipit dan otomatis semua mata tertuju pada mereka. Tapi aku tak menyangka ternyata Yudha menoleh pada ku saat Pipit masih ada di peluknnya. Apa maksud Yudha menoleh ke arah ku, aku benar-benar tak mengerti. Tapi langkahnya tetap saja melaju mengantarkan Pipit ke ruang kesehatan. Karena rasa keingintahuan ku yang sangat besar, kaki ku melangkah ke ruang kesehatan yang sudah jelas ada Pipit dan Yudha di dalamnya.
Kaki ku seakan enggan berlari meninggalkan mereka, tapi hatiku sangat-sangat sakit saat kulihat kejadian ini. Yudha dengan sangat mesranya memeluk Pipit. Langit seakan runtuh dan kukira hari ini akan segera kiamat dan mengakhiri semesta ini. Aku benar-benar tak tahan lagi melihat kejadian ini. Dengan sekuat tenaga kakiku berlari meninggalkan tempat ini. Dan tak terasa bitiran-butiran air telah memenuhi pipiku. Tapi seakan ada lampu merah di hadapanku yang membuat kakiku mengerem cepat dan membuat langkah kakiku berhenti.
“Yudha..”Ucapku dalam hati, aku tak sempat lagi menghapus air mataku yangb telah memenuhi pipiku. Dan sudah pasti aku tak sanggup untuk memandangnya tajam.
“Cinta, kamu melihat aku dan pipit?” Aku tak bisa menjawab apa-apa dan aku hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan Yudha.
“Cinta percayalah itu tak seperti yang kau bayangkan” Kenapa Yudha menjelaskan semua ini, apa pentingnya aku baginya sehingga mengharuskan nya menjelaskan pada ku.
“Maaf tadi aku tak sengaja melihat kalian berdua”
“Ta, aku memang mencintai dan menyayangi Pipit. Tapi itu dulu Ta”.
“Yud, itu gak ada masalah kok sama aku” Aku terpaksa membohongi perasaan ku demi kebahagiaan mereka.
“Ta, pipit memang cinta pertamaku tapi kamu cinta terakhirku”
“Tapi…..”
Tadi aku bicara sesungguhnya dengan npipit tentan perasaan ku sama kamu, Ta aku tahu aku gak pernah baik sama kamu, aku selalu ketus di dpanmu. Tapi begitulah aku Ta. Aku tak punya keberanian untuk jujur pada mu dan mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya. (memegang kedua tanganku)
“Aku….aku…aku…” Terbata-bata
“Ta, aku cinta dan sayang sama kamu. Kamu mau kan jadi seseorang yang berarti dalam hidupku?’ Aku tak tahu harus berkata apa, tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalau aku juga mencintainya.
“Tapi….”
“Ta, aku gak akan paksa perasaan kamu”
“Aku….aku…juga sayang dan cinta banget sama kamu Yud”
“Serius Ta, kamu ngak bihong kan?”
“Aku serius”
Sejak kejadian itu, aku dan Yudha resmi npacaran dan sudah pasti aku sangat bahagia dan senang.
“Cinta, aku ntahu selama kemarin aku pergi ke Jerman pasti Yudha menemukan wanita yang terbaik untuknya dan aku sangat senang karena wanita itu sahabatku sendiri” kata-kata Pipit membuatku bertanbah yakin juka aku akan melewati hari-hariku bersana Yudha.
“Pit, maafkan aku, aku tak bermaksud merebut Yudha dari mu”
“Sudahlah Ta, Yudha massa laluku dan akamu masa depannya. Aku gak akan pernah marah padamu, bahkan aku bersyukur kalau Yudha cinta sama orang byang tepat”.
“Makakasih ya Pit”.
“Ternyata Yudha Cinta nya CINTA ya???”
2.
PERJUANGAN DI UJUNG PENA
Di bawah teduhnya pepohonan dan semilirnya angin di sore itu., Anisa merasakan adanya kedamaian di tempat itu tempat di mana dia dihanyutkan oleh buayan-buayan dan hangatanya dekapan kedua orang yang berharga dalam hidupnya derta keceriaan bersama sahabat-sahabatnya. Kadang aku berpikir untuk apa jauh-jauh merantau ke istana orang bukankah lebih baik hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang “keluh Anisa sambil memandangi langit yang tinggi setinggi cita-citanya.
Tapi demi suatu kesuksesan dan angan-anganku menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, keinginan itu kukubur dalam-dalam sedalam samudera Atlantik. Apapun akan aku lakukan bahkan berguru ke negeri Cina pun tak masalah bagi ku. Sambil tersenyum Anisa menggenggam formulir pendaftaran perguruan tinggi pilihannya.
Anisa termasuk keluarga yang berada, Ayahnya cukup terpandang di kampungnya karena keramahan dan profesinya menjadi nkepala sekolah di suatu SMA Negeri Palembang. Serta kepemimpinan Ayahnya di sekitar rumahnya. Wajar jika Anisa dan keluarganya sangat disegani di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kalau aku sudah kuliah nanti, apakah kebiasaan ku mengepang rambut dan mengendong tasw di kedua pundakku akan tetap aku lakukan seperti aku duduk di SMA dulu atau akan ku lempar sejauh-jauhnya?” keluh Anisa sambil mengerutkan dahinya.
Keinginan Anisa sudah seperti bulan yang dengan penuh memancarkan sinarnya tanpa ada awan hutan yang menutupi dan Anisa akan membuktikan keseluruh makhlik bahawa jasa seorang guru itu tak bisa di ukur dengan mistar ataupun termometer.
“Anisa, hari sudah sore, cepat pulang bukankah besok kau akan berangkat ke Jakarta?” sapa ibu yang sudah hampir ¼ abad mengisis dunia parah ini.
“Iya bu, Anisa pulang”jawab Anisa memenuhi keinginan ibunya sambil bergegas pulang dari tempatv dimana dia sering membuang kesedihannya. Besok adalah hari yang sangat berat baginya, soalnya dia akan meninggalkan keluarga, sahabat dan tempat dimana dia dibesarkan sampai dengan dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Akan cukup lama dia berada di istana orang dan lama juga dia meninggalkan istannanya kurang lebih 4 tahun.
Hari yang menentukan masa depannya pun tiba, soalnya dihari itulah da akan sejenak meninggalkan istananya dan kotanya kota yang terkenal dengan pempek kain songket dan jembatan Amperanya.
“Anisa harus bisa jaga diri ya di sana, dan jangan pernah terbuai dengan khidupan yang glamor di sana” pesan kepala rumah tangga di rumahnya.
“Iya Ayah, Anisa janji dan akan Anisa buktikan kalau Anisa akan bisa seperti Ayah yang dapat berguna bagi siapapun”.
Tanpa terasa hari pun berganti, diawal harinya di Jakarta di lalui dengan kesedihan tidak ada orang yang setia menemaninya seperti putri salju yang selalu ditemani oleh kurcaci-kurcacinya atau seperti Aladin yabng selalu ditemani dengan lampu ajaibnya. Tetapi tak terasa hari berganti waktu bergulir dan duniapun berputar. Semua rasa itu sedikit mulai hilang. Dan kehidupan di Jkarta memang sangat glamor . Mulai dari pergaulan anak metropolitan yang katanya harus gaul. Kalau kita tidak bisa mejaga diri kita pasti akan terjerumus kesumur yang paling dalam dan sulit untuk kembali ke atas apabila kita tidaj bisa berenang. Serta lingkungan yang tidak ramah, polusi dimana-mana dan yang tak kalah repotnya banjir yang dimana-mana. Semuanya karena ulanh tangan manusia yang tak sayang dengan lingkungan.
“Tetapi sudahlah, Aku harus kembali keniat pertamaku. Qku harus menjadi sarjana dan akan menyalurkan ilmu ku kepada murid-murid ku nanti, lagi pula aku cukup senang ,mempunyai teman di sini yang jauh dari hidup glamor. Bisa dibilang 11 dan 12 dariku. Niat ku disini menuntut ilmu bukan tanding fashion ataupun tanding wajah. Ingin kubuktikan pada Ayah, kalu aku isa sesabar dan setekun beliau” ujar Anisa dalam hati, sambil memandangi hasil semesterannya yang cukup baik diantara teman-temannya satu kelas.
Tanpa terasa 4 tahun pun berlalu, Anisa bangga dengan prestasi yang dia miliki di Jakarta. Di kota yang cukup asing baginya, Anisa lulusan terbaik di jurusannya dan akan mendapatkan gelar sarjana sama seperti kedua kakaknya. Bahkan Anisa tidak perlu susah payah mencari tempat menyalurkan ilmu pada siswanya soalnya dia di beri kemudahan oleh perguruan tinggi di mana tempatnya menaung selama ini. Anisa diangkat6 menjadi asistn dosen di Universitas itu. Dan seperti pepatah sambil menyelam minum air. Anisapun mendapatkan laki-laki yang sangat menyayanginya dan berniat menyuntingnya.
3.
CINTA TAK SAMPAI
Hatiku bergetar dengan kencang, kurasakan darahku mengalir dengan derasnya, entah apa yang harus kulakukan hanya menetes air mataku ketika melihatnya. Dia memeluk tubuhku dan dan disaat itu pula aku harus melepaskan dirinya untuk bersama tunangannya. Entah rasa apa yang berkecambuk di dalam hati, ingin rasanya kutahan ketika” Randi” mulai berjalan meninggalkanku.
“ Randi jangan tinggalkan aku”
“maaf Kirana” Randi terus berjalan menjauh
“Randi, jangan… aku cinta kamu..” Randi tak sedetikpun menoleh kearahku, aku hanya mempu menatap betapa jauhnya kini ia dariku.
etahub telah berlalu, namun aku masih larut dalam kesedihan, Bayang-banyanganya selalu mengahntui dalam kesendirianku. Masih ingat dalam kenangan panjang, saat pertama kali aku bertemu dengannya di acara pernikahan temanku “saskia”
Randi negitu tampan dengan lemeja putihnya, awalnya aku sama sekali tak melihat sososknya, namun setelah saskia memperkenalkan aku dan sia, Mulailah persahabatab indah diantara kami.
“Hai nama ku Randi, kamu?” begitu sapanya pada waktu itu
“Kirana”
Dia menjabat taagan ku dengan penuh kehangatan, seakan-akan melalui genggaman itu ia sampaikan isi hatinya padaku, kami habiskan waktu dengan perbincangan yang seadanya. Waktu terasa cepat sekali berlalu hingga kemi pun harus berpisah.
Aku pikir setelah perp[isahan itu akau tak akan lagi bertemu dengannya, tapi akau salah ketika kijumpai dia tetap di depan rumahku.
“kau tahu dari mana rumahku?”
“sahabatnu, saskia”
“oh…”
Tak izinkan aku masuk”
“oh ya silakan masuk”
Begitu ramah dan sopan ia berbicara padaku, kedekatan diantara kami mulai terjalin hingga hati ini mulai merasakan sesuatu yang aneh entah sejak kapan hal itu terjadi.
Hari-hariku berjalan dengan indah, aku bagai hidup dalam singgasana khayal yang memabukan setiap penghininya. Semua berjalan dengan sempurna.
Sebelum Randi mulai menjauhi hidupku, tak pernah lagi ia menemui aku. Aku terjebak dalam kebimbangan tak tahu harus beebuat apa. Hingga kutemukan ia bersama seorang wanita, dengan nudah Randi berkata padaku “aku sudah menang atas dendamli pada mu”. Aku sungguih tak mengerti maksud berkataanya, “Dendam” aku merasa tak melakukan dosa apapun kepadanya. Kata-kata membuat keadaan ku terpuruk setiap hari aku menghiasi waktuku dengan butiran kesedihan.
Awalnya aku muak mendengar namanya, namun mendengar penjelasan saskia mengertilah aku sekarang.
“Kirana denngarkan aku, ini jujur dari perkataan Randi”
“Sudahlah aku muak mendengar namanya”
“Dengar kau harus diam, Randi terpaksa melakukan ininpadamu”
“Kau dan dia dari ayah yang sama, sekalipun ibu yang berbeda, ia juga terpaksa mengalah pada nasib dan ia sangat mencintaimu kirana”
“Kau bohong”
“Tidak, aku ingatkan kamu harus lupakan dia paham?”
Aku tak berkata apa-apa hingga saskia pergi. Kini setahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Namun aku belum dapat melupakan Randi. Terbaring aku di lantai lamarku setelah ku reguk obat tidur agar aku dapat melupakannya selamanya. Dan untuk sahabatku Saskia kutinggalkan secarik pesan.
Maafkan aku Sas, aku tak mau lagi kalah dari takdir seytelah ibu dan ayahku diramapas dan kini cintakupun dirampas, aku tak mampu melip[akannya. Tapi untukmu sahabatku dengan cara pa pun kupenuhi janjiku padamu, akau akan segera melipakannua dalam tidur panjangku.
4.
SEGUMPAL KENANGAN
Diantara tingginya pohon-pohon pinus yang berdaun rucing seperti pahatan kayu yang siap mengukir semua bentuk ukiran yang beraneka ragam. Satu persatu daun-daun itu lepas dari rantingnya di bawa oleh lembutnya henbusan angin yang perlahan membawanya jatuk ke bumi. Lina, seorang gadis manis yang berlesung pipi kananya, dan didagu runcingnya terdapat tahi lalat yang bertengker di sana. Lina duduk termenung di atas akar-akar pohon pinus yang tersebar dianatara rerumputan hijau dan dikelilingi oleh daun-daun kering yang berwarba keciklatan, seakana menandakan sudah cukup lama daun-daun itu terdampar di sana.
Suasana di siang itu tidak terlalu sejuk, angin seakan enggan memberikan kesejukannya. Tetapi semuanya seakan terhapuskan dengan merdunya lantunan suara jangkrik yang seolah-olah menyihir semua orang yang mendengarnya, termasuk Lina yang seakan membawa ke masa silam. Masa dimana dia masih menjalin kasih dengan tambatan hatinya. Nayu, pria alumni fakultas kedokteran salah satu Universitas terkemuka di kota Palembang yang berhasil merebut hatinya. Bayu merupakan kakak tingkat Lina di perguruan tinggi yang sama. Mereka memadu kasih sejak SMA bak Gakih dan Ratna yang tak dapat terpisahkan dalam situasi apapun.
“Lina…tunggu..”
Jerit Bayu yang sambil berlari-lari mengejar Lina sesekali disambung suara napas Bayu yang terengah-engah, bagaikan kijang emas yang baru saja siincar oleh predatornya.
“ada apa mas Bayu?kok sepetinya EMERGENCY banget” Tanya Lina heran melihat tungakah romeo nya.
“Pulang kamu kuliah nanti kita ketemuan di tempat biasa ya, soalnya mas Bayu ada kejutan buat Lina” hujuk Bayu dengan muka yang sedikit memelas dengan tetap nerpenami;lan rapi dengan seragam mputihnya dan tak plipa stetoskop yang melingkat di lehernya.
“memangnya kejutan apa sih mas Nyu, nuat LINA PENASARAN AJA?” SAMBUNG Lina sambil mengerutkan keningnya.
“pokoknya Lina tunggu mad Bayu, ya?” jangan kemana-mana sampai mas Bayu datang menemui Lina. OK sayang!” tanpa menghiraukan orang lain di sekelilingnya, Bayu mendaratkan kecupan mesranya di kening Lina. Wajah Lina sontak berubah warna kemerajhan bak bunglon yang bisa berubak warna dimanapun tempatnya berlindung. Tanpa merasa berdosa, Bayu tersenyum dan langsung pergi menunggalkan Lina.
Detik demi detik Lina menunggu Bayu di tempat mereka berdua pertama kali bertemu dan berkomimen untuk menjalin kasih. Tapi penantian Lina berjam-jam di hutan wisata it sia-sia dan berubah pahit. Bayu pergi meninggalkan Lina intuk selamanya dan meninggalkan satu persatu kejutan yang tak sempat dia berikan kepada Lina. Hati Lina bagaikan diambil paksa oleh malaikat pencabut nyawa yang tanpa nernegosiasi dan berkompromi dulu kepada Lina, bak POL PP yang menangkap sekimpilan PSK yang sedang asyik nerjualan. Tapi kenyataan itu harus Lina telan, bila malaikat pencabut nyawa mengamnil mas Bayu dari pelikannya dan tepat di hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun.
“Lin, cari makan yuk?kaper nih” ujar Ani yang membuyarkan lamunan panjang Lina.
“kalian berdua saja, aku masih mau di sini” jawab lina lembut dengan tatapan kosong dan seolah enggan nmeninggalkan tempat duduknya seraya cinderela yang menunggu kedatangan kereta labunya.
“kau pasti ngelamunin Bayu kan?” Tanya ana yang mencoba memastikan. Sembari mengangukan kepalanya, tak sadar butiran-butiran aur jatuh dari bola mata indah Lina. Lina serasa mengingat sesuatu yang seharusnya dia lupkan.
“Lin, mengkanya kami ragu waktu kau mengajak kami ke sini. Karena pasti luka lama yang memang sulit untuk disembuhkan akan kembali menganga”. Ucap Ana pelan sambil membelai rambut halus Lina yang dibiarkan terjurai panjang, seakan menutupi kesedihannya yang bergelayut disanubari.
“udah dong sedihnya, kita pulang aja yuk?”
Kalau kita disini terus entar bisa banjir loh, entar binatang-binatang di sini mau ngungsi kemana?” ujar saudara kembar Ana yang mebcoba menghibur sahabatnya.
“iya Lin, kita pulang aja ya?aku tak sanggup nila harus melihat lau termenung dan menangis disini” bujuk Ana yang menambakan ucapan Ani.
Kini segala kebahaiaan itu luluh lantah si sapu oleh kejamnya dinia, hanya mengisahkan segumpal kenangan yang bersarang bdi hati Lina. Dan hanya di tempat itu Lina bisa merasakan dan menatap senyuman Nayu.
“Mas Nayu, sampai kapanpun Lina akan selalu sayang sama mas Bayu dan akan selalu menunggu mas Bayu di sini. Karena Lina masih menunggu kejutan yang ingin mas Bayu berikan”.
Hati Lina menagis bila harus kembali ketempat itu. Karena kenangan itu masih tetap terpetri dan terlihat jelas di mata batin Lina.
5.
TUGASMU, DERITAKU
Hari ini genap 2 bulan sudah Angga tak melayangkan kabarnya kepada ku entah apa yang ada di pikirannya, hingga selama itu dia tak ada kabar./ Begitu banyak rasa Tanya yang menggelayut si otakku. Marah, sedih dan gelisah mungkin rasa itu yang dominan bertengker di sanubariku.
“Tuhan, jika ini akhir dari hubungan kami. Kenapa kau harus pertemukan ku dengannya. Kenapa rasa sakit ini melebihi sakit yang kurasakan senelimnya?” tanyaku dalam hati. Dan tanpa sadar butiran-butiran air berjatuhan dari bola mataku dan memakdaku kembali mengingatnya.
Mungkin hanya tabngisan yang bisa membuat hati ini sedikit tenang, karena aku tak tahu kagi karus berbuat apa untuk mengembalikan kebahagiaan ku seperti dulu. “dia datang tiba-tiba dan dia pergipun tiba-tiba, apa sebenarnya hikmah dibalik ibi sema tuhan?” keluh ku untuk tak eadilan yang ku alami.
Memang awalnya aku sangat mengerti tentang profesinya sebagai pengaman Negara ini, tapi semakin rasa curigadan cemburu mengalahkan semuanya. Aku bingung apa yang harus kulakukan untuk membunuh rasa itu, karena aku tahu profesinya memang mengharuskan kami tidak bisa berkomunikasi dengan bebas. Hari demi hari, mnggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui tanpa kabarnya lagi.
Kadang aku berpikir kenapa aku harus curiga dan cemburu., karena senua orang tahu sebagai pengaman Negara begitu banyak aturan-aturan yang harus dia patuhi dan salah satunya tidak diperkenankan berkomunikasi dengan siapapun selama bertugas. Tapi begiku ini tetap tak adil, kenapa profesinya harus mengahalangi perasaan orang untuk memetik kebahagiaan dan bukankah mereka juga perlu merasakan manisnya kebersamaan dengan orang-orang dicintai.
“Nad, kita udah sampai nih ngelamun terus sih?” jeritan Ayu sontak mengejutkan dan memaksaku untuk kembali kedunia sekarang ini yang setelah kurang lebih 2 jam pikiranku melanglang buana entah kemana.
“ohhhh…. Iya…iya….tungguin aku dong!!!” jawabku linglung dan setelah kudasari semua penumpang bis jurusan Cirebon-Majalengka yang kami naiki memandangi ku bterpaku.
“ ehh kenapa sihh semua penumpang tadi lihatin aku semua?”
“ya jelaslah lihatin lho soalnya udah hampir 10 kali kita manggilin lho untuk turun tapi lhonya diem aja malah bengong kayak ayam sakit” jawab Ayu menjelaskan semuanya.
“Maunya sih gitu Vir, tapi tetep aja gak bisa dibalik kebencuianku denganya. Tetapi aku masih menyimpan keyakinan kalau suatu saat nanti dia akan datang dan menepati janjinya” jawanku yakin.
“tapi waktu itu kapan nadia tak ada kabar darinya kamu juga gak tau yang dia lakukan disana iyakan???ycapa Ayu sembari merangkul ku untuk duduk di bawah pondok kayu yang mungkin sudah lama tak berpengaruhi yang letaknya tepat dipinggir jalan dan mempernudah kami memilih tukang ojek untuk mengantarkan kami kerumah Vira.
“Jadi aku harus gimana, apa aku harus menunggunya atau aku harus melipakannya?”
“Nad, kita tau kamu mencintainya dan kita sebagai sahabat hanya mengharapkan yang terbaik untuk mu. Jadi apapun yang kau lakukan pasti kami dukung”,
“apa yang dikatakan Ayu itu benar Nad, kalau jodoh gak akan kemana kok. Pergaya dech!!!” tambah Sela meyakinkanku.
Untung saja masih ada teman-teman ku yang selalu siap siaga menemaniku melewati haari-hari tersulit dalam hidupku ini. Mereka selalu dan minimal mengurangi rasa sakit yang kurasakan.
Kepergian kami liburan kampong halaman Vira, cukup menghibur dan sedikit membuang rasa sakit yang selama ini kurasakan. Bagiku kebersamaan bersama sahabat-sahabat merupakan obat yang ampuh dan tal bisa dineli di apotek manapun. Serta yang lebih penting harganya sangat mahal melebihi harga sepatu yang dipajang di etalase-etaase butik ternama.
Sejak obrolan panjangku dengan sahabat-sahabat ku itu, aku memutuskan untuk menuggu Angga sampai batas yang dia katakana kepadaku, Selebihnya jika dia tak ada kabat, aku akan berusaha untuk menghapus namanya di hatiku dan mungkin untuk selamanya. Mungkin askan sulit tapi aku aharus mencobanya. DEngan kejadioan ini menjadi dan kekuatan bagiku untul sabar dalanm menghadapi semua masalah yang datang membuatku lebih dewasa untuk memilah mana arjuna yang benar-benar mencintaiku nanti.
PUISI DESSI HERLINA
1.
MAMA
Seperti beningnya air,
Menghapus sedihku yang mengalir.
Seperti tiang tonggak yang utuh,
Menopang ketika ku terjatuh.
Seperti rangkaian kata,
Menambah kelengkapan hidupku hingga bermakna.
Seperti kelopak bunga,
Memberi warna hingga melukis indah.
Seperti tiap-tiap denyut jantungku,
Menemani dan selalu ada untukku.
Dan aku pun harus bisa…,
Seperti setiap helaan nafasmu, mama….
2.
AKU KECEWA
Aku salah satu rakyat kecil
Tapi, aku punya hak untuk ikut
Bicara tentangmu
Aku kecewa
Aku sangat kecewa
Tak malukah kau wahai pejabat
Negaramu?
Sungguh aku sendiri malu
Bagaimana dengan pandangan
Orang lain dengan ini itu
Terhadapmu???
AKU INGIN NEGARAKU DAMAI
AKU INGIN NEGARAKU DEWASA DAN BERSAHAJA
AKU TAK MENGHENDAKI KEHANCURAN ITU
BERI CONTOH YANG BAIK ITU YANG KU MAU
3.
AYAH
Betapa berat beban hidup
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan
Hidup bersama keluargamu
Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
Nafkah anakmu
Semenjak ayah terbaring
Ditempat pembaringan terakhir
Bagaimanakah ibu?
Anak-anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk
Keluargamu?
4.
TERLALU PAGI
Coba kita renungkan
Coba kita pikirkan
Siapa yang bersalah
Diantara semua ini
Apakah orang tua
Atau kita berdua
Sehingga kita tak bahagia
Seirng berulng kali berbuat kesalahan
Yang menyakitkan hati
Mengapa ku harus begini
Kemana mestu harus pergi tak mungkin ku kembali lagi
Pada orng tuaku yng telah membenuki
Dari bercinta dulu terllu pgi untuk berpisah
5.
BUNDA
Betapa berat beban hidupku
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan hidup bersama keluargamu
Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
nafkah kepada anakmu
Semenjak ayah terbaring
di tempat pembaringan terakhir
bagaimanakah ibu ?
Anak- anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk keluargamu
MAMA
Seperti beningnya air,
Menghapus sedihku yang mengalir.
Seperti tiang tonggak yang utuh,
Menopang ketika ku terjatuh.
Seperti rangkaian kata,
Menambah kelengkapan hidupku hingga bermakna.
Seperti kelopak bunga,
Memberi warna hingga melukis indah.
Seperti tiap-tiap denyut jantungku,
Menemani dan selalu ada untukku.
Dan aku pun harus bisa…,
Seperti setiap helaan nafasmu, mama….
2.
AKU KECEWA
Aku salah satu rakyat kecil
Tapi, aku punya hak untuk ikut
Bicara tentangmu
Aku kecewa
Aku sangat kecewa
Tak malukah kau wahai pejabat
Negaramu?
Sungguh aku sendiri malu
Bagaimana dengan pandangan
Orang lain dengan ini itu
Terhadapmu???
AKU INGIN NEGARAKU DAMAI
AKU INGIN NEGARAKU DEWASA DAN BERSAHAJA
AKU TAK MENGHENDAKI KEHANCURAN ITU
BERI CONTOH YANG BAIK ITU YANG KU MAU
3.
AYAH
Betapa berat beban hidup
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan
Hidup bersama keluargamu
Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
Nafkah anakmu
Semenjak ayah terbaring
Ditempat pembaringan terakhir
Bagaimanakah ibu?
Anak-anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk
Keluargamu?
4.
TERLALU PAGI
Coba kita renungkan
Coba kita pikirkan
Siapa yang bersalah
Diantara semua ini
Apakah orang tua
Atau kita berdua
Sehingga kita tak bahagia
Seirng berulng kali berbuat kesalahan
Yang menyakitkan hati
Mengapa ku harus begini
Kemana mestu harus pergi tak mungkin ku kembali lagi
Pada orng tuaku yng telah membenuki
Dari bercinta dulu terllu pgi untuk berpisah
5.
BUNDA
Betapa berat beban hidupku
Yang kau tanggung
Dalam menjalankan hidup bersama keluargamu
Dan engkaulah ibu
Yang bisa memberikan
nafkah kepada anakmu
Semenjak ayah terbaring
di tempat pembaringan terakhir
bagaimanakah ibu ?
Anak- anakmu membalas budimu
Yang selama ini untuk keluargamu
PUISI R. A. DINA OKTARIA MAYZA
1.
AKU TAK PERDULI
Aku tak perduli
Meski esok hariku akan berakhir pasti
Aku tak mau tahu
Meski esok tak ku tapaki lagi bumi ini
Aku hanya ingin hiasi pelangi senyuman
Disisa hidup meski bibir ini keluh
Lepas terbang bagai burung
Yang menjajahi langit biru
Aku tak perduli
Meski esok aku akan mati
Aku hanya mau
Kuhiasi cinta disetiap sudut hati
Meski aku akan mati
Aku tak perduli
Biarlah kaki ini berjalan
Hingga letih menahan sakit
Biarlah aku masih ingin
Nikmati hidup yang pendek ini
Hingga takdirku menjemput nanti
2.
DEKAPAN TUHAN
Aku tak tahu harus apa
Semua terasa asing tuk kulakaukan
Semua jadi tak menentu
Semua terasa salah
Begitu bimbang aku tuk melangkah
Apa yang hars kupercayai
Semua pilihan mmubuatku
Terperangkap dalam ragu
Aku hanya menanti dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi sepanjang malam
Membungkam ku dalam keterpurukan
Entah hidup seperi apa yang aku jalani
Semua sudut terhenti dititiik ini
Titik penyesalan atas segala dosa
Hingga ku renugkan tetap tak ku temui jawaban
Setelah ku jelejahi jalan tuhan
Hidupku kembali dalam balutan ketenangan
Inilah pilihan, aku kembali pulang
Dalam dekapan tuhan
3.
POTRET BURAM ANAK JALANAN
Syair-syair anak jalanan
Melantun bak melodi tragis
Sayup- sayup ditengah bising kota
Lalu tenggelam bersama asa
Cucuran keringat membasahi tubuh
Menyatu bersama jerit tangis anak –anak kecil
Terselubung disepanjang jalan metropolitan
Inikah ptotretmu wahai bangsaku hilirmudik barisan kurcaci
Mengejar deru mengejar mimpi
Dengan lantunan lagu dan melodi
Mengais-ngais rasa iba orang berdasi
Dimana –dimana
Wahai ibu pertiwi
Disaat meereka iniginkau rangkul
Disaat mereka ingin kau lindungi
Kau hanya menatap dengan wajah yang pasi
4.
KETIKA HATI DISAPA RINDU
Bergetar hatiku darah ini mengalir deras
Pesona bayangmu menghantui hari-hariku
Sehinga membuat mtaku enggan terpejam
Dikala hati disapa rundu
Entah rasa apa yang bergolak
Memecah rasa tenang dan rasa duka
Yang ada hanya ada rasa bimbang
Dikala hati disapa rindu.
5.
NADA-NADA CINTA
Nada-nada cinta melantun dengan indah
Mengalun dengan lembut berirama dengan udara
Berarak bersama tawa dan canda
Menyatu dalam lembutnya jiwa
Sang pencinta
Nada-nada cinta
Begitu indah ia merasuk kedalam sukma
Menghancurkn tiap bait kesendirian
Menenangkan jiwa yang kesunyian
Nada-nada cinta
Pertanda rasa anak manusia
AKU TAK PERDULI
Aku tak perduli
Meski esok hariku akan berakhir pasti
Aku tak mau tahu
Meski esok tak ku tapaki lagi bumi ini
Aku hanya ingin hiasi pelangi senyuman
Disisa hidup meski bibir ini keluh
Lepas terbang bagai burung
Yang menjajahi langit biru
Aku tak perduli
Meski esok aku akan mati
Aku hanya mau
Kuhiasi cinta disetiap sudut hati
Meski aku akan mati
Aku tak perduli
Biarlah kaki ini berjalan
Hingga letih menahan sakit
Biarlah aku masih ingin
Nikmati hidup yang pendek ini
Hingga takdirku menjemput nanti
2.
DEKAPAN TUHAN
Aku tak tahu harus apa
Semua terasa asing tuk kulakaukan
Semua jadi tak menentu
Semua terasa salah
Begitu bimbang aku tuk melangkah
Apa yang hars kupercayai
Semua pilihan mmubuatku
Terperangkap dalam ragu
Aku hanya menanti dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi dalam kebungkaman
Kurasakan bermimpi sepanjang malam
Membungkam ku dalam keterpurukan
Entah hidup seperi apa yang aku jalani
Semua sudut terhenti dititiik ini
Titik penyesalan atas segala dosa
Hingga ku renugkan tetap tak ku temui jawaban
Setelah ku jelejahi jalan tuhan
Hidupku kembali dalam balutan ketenangan
Inilah pilihan, aku kembali pulang
Dalam dekapan tuhan
3.
POTRET BURAM ANAK JALANAN
Syair-syair anak jalanan
Melantun bak melodi tragis
Sayup- sayup ditengah bising kota
Lalu tenggelam bersama asa
Cucuran keringat membasahi tubuh
Menyatu bersama jerit tangis anak –anak kecil
Terselubung disepanjang jalan metropolitan
Inikah ptotretmu wahai bangsaku hilirmudik barisan kurcaci
Mengejar deru mengejar mimpi
Dengan lantunan lagu dan melodi
Mengais-ngais rasa iba orang berdasi
Dimana –dimana
Wahai ibu pertiwi
Disaat meereka iniginkau rangkul
Disaat mereka ingin kau lindungi
Kau hanya menatap dengan wajah yang pasi
4.
KETIKA HATI DISAPA RINDU
Bergetar hatiku darah ini mengalir deras
Pesona bayangmu menghantui hari-hariku
Sehinga membuat mtaku enggan terpejam
Dikala hati disapa rundu
Entah rasa apa yang bergolak
Memecah rasa tenang dan rasa duka
Yang ada hanya ada rasa bimbang
Dikala hati disapa rindu.
5.
NADA-NADA CINTA
Nada-nada cinta melantun dengan indah
Mengalun dengan lembut berirama dengan udara
Berarak bersama tawa dan canda
Menyatu dalam lembutnya jiwa
Sang pencinta
Nada-nada cinta
Begitu indah ia merasuk kedalam sukma
Menghancurkn tiap bait kesendirian
Menenangkan jiwa yang kesunyian
Nada-nada cinta
Pertanda rasa anak manusia
NASKAH DRAMA R. A. DINA OKTARIA MAYZA
1.
Ini adalah kisah perjalanan hudup manusia yang harus berjuang terus untuk berjuang terus makan dengan menjadi seorang TKW, Jauh dicinta ulangpun tak dapat harap-harap pulang membawa uang yang didapat deritalah yang didapat deritalah yang ia terima bukan pekerjaaan yang didapat ia dijual oleh gembong sahwat laknat.
Tolong…….tolong kami
Kami ingin bebas
Augg………sakit..
Jangan sakiti kami.
Kami hanya ingin hidup
Kami manusiabukan…
Bukan barang untuk diperdagangkan.
Disebuah rumah reot dengan dinding yang hendak roboh, sebuah lampu templok ditengah meja yang menjadi saksi pertengkaran anak dan ibunya.
Aisyah : Bu aku mau kerja kengeri sebrang,
Ubu : Apa, modal apa yang kau punya ilmu saja kau tak punya hanya lulusan SD
Aisyah : Ibu terlalu merendah aku, aku mau kerja
Ibu : sudahlah tinggalkan mimpi aneh mu itu, gila kau jangan mengharapkan sesuatu emas di negeri edan ini
Aisyah : Lalu aku harus apa aku harus mati dalam diam, atau aku harus menjual tubuhku membiarkan selangkanganku mengeluarkan cairan berwarnah merah yang amis itu.
Ibu ; tak perlulah kau hanya akan membuat kemiskinanmu menjadi barang hinaan jangan lah kau persulit matimu dengan ocehan manusia
Aisyah : Kalau begitu biarkan aku bekerja
Ibu ; sudahlah lupakan saja, kenapa kau tak terima saja permintaan tuan jabillah lagi pula sekali membayar hutang membesarkanmu kaupun bisa hidup dengan mewah tanpa perlu bersusah payah.
Aisyah : Jangan harap, aku tak akan pernah menjadi gundik manusia hiana itu. Mana mungkin aku mau jadi anjing yang jinak pada taunku. Jangan pernah berharap bu biar aku mati pun bangkaikupun tak akan pernah ku serahkan padaku.
Ibu : aisah jangan macam –macam kau
Aisyah ; (berjalan menjauhi ibunya) piirkan ibu picik
Ibu : Aisayah terkutuk kau
Sett II:
Di halaman rumah tua datang rentenir yang hendak menangih hutang pada ibu Aisayah
Jababi ; Hai wanita tua dimana kau !
Ibu : Aku disini tuan
Jababi ; Bagaimana sudah ada uang untukmembayar hutangmu tau sudah kau pertimbangkan semua
Ibu : Anu…………….tuan
Jababi ; Apa ………………………..aku tahu kau tak punya uang iyakan
Ibu ; anu ………………….
Jabani : Sudahlah kau nikahkan saja aku dengan anakmu, hidupmu akan ku jamin
Ibu : (menunduk )
Tak lama Aisayah keluar dari rumah
Aisyah : Apa, kau binatang jangan pernah berharap ( meludah kearah JAbabilah), aku akan membayar semua hutang ibuku
Jababi : Mulut besar pembual aku akan lihat bagaimana kau akan mebayar jika tidak bersiaplah aku akan melucuti pakaianmu dan mengajakmu bercinta dikasurku yang hangat
Aisyah : Jangan harap pergi kau ?
Ibu : Aisyah tutup mulutmu,masuk kau, tuan jngan pergi tuan aku akan mebujuknya
JAbabilah terus berjalan menjauh rumah dibelakangnya ibunya mengejar
Sett III:
Disebuah pelayanan tenaga kerja, terdapat beberapa meja kosong tempat pendaftaran dan kursi tempat oarng menunggu.
Aisayah : biarlah ibu tak izinkan aku aku akan tetap pergi.
Defri : Adik mau ikut kerja sama seperti yang lainnya, uang keberangkatannya dipotong dari gajimu setiap bulan, bagaimana?
Aisyah : aku mau ?kapan keberangkatan aku kesana?
Defri : satu minggu lagi kamu bisa kembali kesini, bawalah semua keperluanmu.paham.
Aisayh : paham.
Defri : bawa semua sertifikat yang kamu perlukan, KTP, jangansamapi lupa dan beli pel KB
Aisyah : Buat apa …………
Defri : nanti kau akan tahu apa gunanya.
Sett Iv
Aisay berjalan menatap kosong negeri yang baru ia datangi,sebuah mobil membawanya menuju sebuah bangunan megah yang ia tak tahu.ditatapnya wanita dan laki-laki sedang duduk berdua dia memandang jijik daerah itu.
Aisyah: tempat apa ini, kenapa aku dibawa disini aku kan mau bekerja
Defri : ini tempat kerjamu, kau tunggulah disini
Aisyah : Baiklah
Ia menunggu dengan cemas, wajahnya yang cantuk mulai padam karena takut.
Pak zai :“ hai cantik (menyentuh tubuh aisyah)
Aisyah :“ mau apa kau jngan macam –macam pergi
Pak Zai ;“ sombong kau, akan ku pstikan aku akan menjadi orang petama pelangganmu(pura-pura mencium )
Aisyah ;“ pergi “
Defri ;“ Aisayah kemari “
Aisyah ;‘ syukurlah, “
Defri ;“ mulai sekarang kamu diterima bekerja ditempat ini”
Aisyah ;“ kerja apa”
Defri ;“ kau cukup bersihkan kamar-kamar, kerjamu tak terlalu berat tapi gajimu besar’
Aisyah ;“ Apa benar”
Defri ;“ ya…… aku pulang tugasku telah selesai selanjutnya selamat bekerja”
Sett V:
Bos : kau, mulai hari ini bekerja disini mala mini kamu bersihkan kamar 309 paham?
Aisyah ; ya pak
Bos : kau istirahatlah, sebelum kau membersihkan kamar jangan lupa bersihkan tubuhmu aku takut pelangganku mencium nau mu, ini pakaian yang harus kau kenakan
Aisyah : ini terlalu pendek bos
Bos ; sudahlah jangan banyak bicara pakai saja dengar layani pelangganmu yang pertama dengan baik
Aisyah ; Apa maksudnya bos
Bos : sudahlah, keluar dan istirahatlah.
Aisyah ; baik
Sett vI :
Sebuah kamar istirahat yang cukup besar, biasanya penghuninya kalangan orang berduit.didalamnya terdapat tempat tidur yang mewah, sofa , tipi dan kulkas serta dilengkapi dengan AC.
Ausyah : mewahnya………………..coba ini kamar tidurku, capek juga kalai membersihkan kamar sebesar ini.
Pak zai : (Mengunci pintu) hai cantik kau cantik dengan pakaian seksi itu (meremas tangannya)
Aisyah : kurang ajar kau ( menampar wajah ) lepaskan aku
Pak zai ; Ayolah sayang, aku sudah tak tahan.
Aisyah : (Menarik gagang pintu) buka pintu ini aku bukan pelacur
Pak Zai ; wanita yang nekekerja disini adalah pe-la-cur, kaupun sama karena aku telah mengeluarkan uang banyak untuk menikmati keperawananmu.
Aisyah ; tidak akan pernah lebih baik aku mati.
Pak Zai ; menarik dan mendorong tubuh aisyah ) bersiaplah kau
Aisyah ; tidak……………………………(.mendorong tubuh lalu meloncat dari kegung lantai 4)
Jenazah Aisyah pulang ke kampong halaman ,
(merangkul tubuh anaknya) anakku malangnya nasibmu seandainya kau tak keras seperti nafsumu mungkin taka akan pernah begini”
Jangan pernah terbujuk rayu pad aiming-iming gaji yang besar, teliti, cermati sebelum menerima tawaran pekerjaan, jangan sampai anda salah memilih.
2.
AKU ANAKMU IBU
INILAH PERJALAN HIDUP MANUSIA, ANAK YANG TERLAHIR DALAMKEADAN CACAT FISIKNYA MEMBUATNYA HARUS BERSEDIH KARENA HIDUP BAGAIKAN DIPERASINGAN DALAM KELUARGA BESARNYA.
Sett pembuka:
Disebuah sekolah SMA Ibu pertiwi berdiri di depan gerbang seorang anak bernama As-syfa, Hari itu hujan mulai turun rintik-rintik
As-sifa ; Aduh mau hujan lagi
Ia terus saja berjalan hingga sampai dirumah ia berhenti dirumah mewah dengan kendaraan yang lengkap. dengan keadaan basah kuyup, hingga membuat orang dirumahnya menjadi marah.
Ad-siya : ibu aku pulang
Ibu : siapa yang izinkan kamu masuk, anak cacat selalu buat masalah keluar kamu atau mau ibu pukul
As-syfa : ( menggigil kedinginan ), tapi bu aku dingin,
Ibu : (mengambil kemoceng, lalu memukulkan ketububuh As-syfa) rasakan kamu anak sial
As-syfa ; Aug………ampun bu………..ampun bu.
Mbok ; Sudah nona maaf kan lah non syfa kasihan dia
Ibu : tak perlu, anak ini harus diberi pelajaran agar tidak besar kepala
Mbok ; sudah nona nanti bisa mati
Ibu ; (melemparkan kemocengnya ) urusi dia mbok
Mbok : Baik nyonya, mari non
Syfa ; (tersedak –sedak ), ibu kejam nggak sayang sama aku ,dirumah ini nggak ada yang sayang sama aku gara- gara aku cacat.
Mbo ; non nggak baik marah pada tuhan, ka ada mbok yang sayang pada non”
Dyfa : ( memeluk tubuh mbok ) Aku sayang mbok
Sett II:
Dirumah dyfa sedang berlangsung acara, Suara yang ramai membangunkan syfa dari tidur panjangnya, hingga ia lupa jika orang tuanya melarangnnya keluar jika ada orang dirumahnya.
Orang I; siapa itu bu, aku baru pertama melihatnya anakmu!
Ibu : oh, bukan itu anak mbok asih yang baru datang dari desa, aku minta ia membersihkan kamar !
Orang II ; Aku sangka anakmu. Habis cantik juga tapi sayang ………………….ha…..ha………..?
Ibu : mana mungkinlah anak cacat..ha…”( merah padam wajahnya), sebentar aku ada urusan diatas.
Orang I dan II : silakan
Ibu : ( mendorong pintu kamar diya) puas kamu mempermalukan ibu ha anak sialan kamu ( menjambak rambut )
Syfa ; ( ampun bu aku tak tahu ada orang dirumah. ( menagis) aku tak tahu kenapa ibu melakukan ini padaku aku selalu saja dipersalahkan atas apa yang tidak punya alas an ,
Ibu : menampar wajah syfa) kamu jangan keterlaluan
Syfa ; kenapa karena aku cacat aku juga tak mau lahir dalam keadaan ini apa salahku ibu ( menjerit ) ibu ingat hari ini ulang tahunku tidak akan pernah aku rasa…………………………………
Mendengar ribut dikamar Syfa mbok datang
Mbok : Ada apa nyoya.
Ibu : ( membanting pintu , keluar menjauh)
Dyfa : (menganis ) kenapa mbok aku selalu mejadi masalah dalam keluarga ini, aku muak aku ingin mati kenapa tuhan tak mencabut nyawaku saja mbok
Mbok ; jangan bicara seperti itu non, tuhan itusayang sama non makanya tuhan memberikan ujian sama non.
Sifa ; tapi aku tak kuat mbok…………………………….
Mbok : sabar non ……………………………..semua akan indah pada waktunya.
Sett III
Keluarga Syfa berlibur ke sebuah desa Sukomoro, hamparan ladang yang dipenuhi dengan padi menguning, para petani yang sibuk bekerja mereka terhenti disebuah pondok sederhana dipenuhi dengan tanaman bunga yang indah.
Syfa : Nenek ………………………fa datang aku kangen banget sama nenek
Dila : jauh kamu (mendorong tubuh sifa) kau itu bukan cucu nenek mana ada nenek punya cucu cacat kayak kamu.
Nenek : dila jangan pernah berkata seperti itu….nenek akan marah
Ibu ; sudahlah ibu jangan dibela terus nanti melunjak dia.
Nenek ; nak, jangan kamu berkata seperti itu, ibu takut suatu sat kau akan menyesal berlakulah layakn ya seorang ibu.
Ibu : sudahlah ibu ini semua gara-gara kamu fa.anak sial pembawa masalah.
Syfa menundukkan kepalanya)
Nenek ; sudahlah sifa jangan masukan kedalam hati acuhkan saja ibumu mari sini nenek peluk nenek sudah kangen sama cucu nenek.
Sett IV:
Di pertokoan, mobil lalu lalang dijalanan ibu, syfa dan dila berjalan meyusuri jalan.
Ibu ; jangan dekat ibu kamu dengar , kamu akan membuat ibu malu saja.
Dila ; dengar tu anak cacat.
Syfa ; ya bu aku dengar.
Ibu ; ne bawa belanjaan ibu capek ibu.
Pelayan tokoh :mau cari apa
Ibu : cari pakaian mbak.?
Pelayan tokoh : itu anaknya ya bu?
Ibu ; mana mungkin itu anak saya mbak, itu anak pembantu saya,
Pelayan toka: maaf bu
Ibu ; taka pa.
Sett V
Ketika mereka hendak pulang sebuah mobil berjalan dengan kencangnya , ibu dan adiknya yang berjalan kerahnya tidak melihat mobil melintas kearah mereka.
Syfa : Awas…………………………………………bu…………….
Mereka tak tahu . syfa berlari dan mendorong tubuh ibunya…………..tapi yang terjadi ialah yang tertabrak mobil.tubuhnya jauh
Ibu : syfa…………………………………, tolong anakkku……..
Dilla ; kakak………..
Sifa meninggal ditempat jenazanya dimakamkan didesa sikomoro dan ibunya mengalami gangguan jiwa karena penyesalan hingga ia terpaksa masuk kerumah sakit jiwa
Ini adalah kisah perjalanan hudup manusia yang harus berjuang terus untuk berjuang terus makan dengan menjadi seorang TKW, Jauh dicinta ulangpun tak dapat harap-harap pulang membawa uang yang didapat deritalah yang didapat deritalah yang ia terima bukan pekerjaaan yang didapat ia dijual oleh gembong sahwat laknat.
Tolong…….tolong kami
Kami ingin bebas
Augg………sakit..
Jangan sakiti kami.
Kami hanya ingin hidup
Kami manusiabukan…
Bukan barang untuk diperdagangkan.
Disebuah rumah reot dengan dinding yang hendak roboh, sebuah lampu templok ditengah meja yang menjadi saksi pertengkaran anak dan ibunya.
Aisyah : Bu aku mau kerja kengeri sebrang,
Ubu : Apa, modal apa yang kau punya ilmu saja kau tak punya hanya lulusan SD
Aisyah : Ibu terlalu merendah aku, aku mau kerja
Ibu : sudahlah tinggalkan mimpi aneh mu itu, gila kau jangan mengharapkan sesuatu emas di negeri edan ini
Aisyah : Lalu aku harus apa aku harus mati dalam diam, atau aku harus menjual tubuhku membiarkan selangkanganku mengeluarkan cairan berwarnah merah yang amis itu.
Ibu ; tak perlulah kau hanya akan membuat kemiskinanmu menjadi barang hinaan jangan lah kau persulit matimu dengan ocehan manusia
Aisyah : Kalau begitu biarkan aku bekerja
Ibu ; sudahlah lupakan saja, kenapa kau tak terima saja permintaan tuan jabillah lagi pula sekali membayar hutang membesarkanmu kaupun bisa hidup dengan mewah tanpa perlu bersusah payah.
Aisyah : Jangan harap, aku tak akan pernah menjadi gundik manusia hiana itu. Mana mungkin aku mau jadi anjing yang jinak pada taunku. Jangan pernah berharap bu biar aku mati pun bangkaikupun tak akan pernah ku serahkan padaku.
Ibu : aisah jangan macam –macam kau
Aisyah ; (berjalan menjauhi ibunya) piirkan ibu picik
Ibu : Aisayah terkutuk kau
Sett II:
Di halaman rumah tua datang rentenir yang hendak menangih hutang pada ibu Aisayah
Jababi ; Hai wanita tua dimana kau !
Ibu : Aku disini tuan
Jababi ; Bagaimana sudah ada uang untukmembayar hutangmu tau sudah kau pertimbangkan semua
Ibu : Anu…………….tuan
Jababi ; Apa ………………………..aku tahu kau tak punya uang iyakan
Ibu ; anu ………………….
Jabani : Sudahlah kau nikahkan saja aku dengan anakmu, hidupmu akan ku jamin
Ibu : (menunduk )
Tak lama Aisayah keluar dari rumah
Aisyah : Apa, kau binatang jangan pernah berharap ( meludah kearah JAbabilah), aku akan membayar semua hutang ibuku
Jababi : Mulut besar pembual aku akan lihat bagaimana kau akan mebayar jika tidak bersiaplah aku akan melucuti pakaianmu dan mengajakmu bercinta dikasurku yang hangat
Aisyah : Jangan harap pergi kau ?
Ibu : Aisyah tutup mulutmu,masuk kau, tuan jngan pergi tuan aku akan mebujuknya
JAbabilah terus berjalan menjauh rumah dibelakangnya ibunya mengejar
Sett III:
Disebuah pelayanan tenaga kerja, terdapat beberapa meja kosong tempat pendaftaran dan kursi tempat oarng menunggu.
Aisayah : biarlah ibu tak izinkan aku aku akan tetap pergi.
Defri : Adik mau ikut kerja sama seperti yang lainnya, uang keberangkatannya dipotong dari gajimu setiap bulan, bagaimana?
Aisyah : aku mau ?kapan keberangkatan aku kesana?
Defri : satu minggu lagi kamu bisa kembali kesini, bawalah semua keperluanmu.paham.
Aisayh : paham.
Defri : bawa semua sertifikat yang kamu perlukan, KTP, jangansamapi lupa dan beli pel KB
Aisyah : Buat apa …………
Defri : nanti kau akan tahu apa gunanya.
Sett Iv
Aisay berjalan menatap kosong negeri yang baru ia datangi,sebuah mobil membawanya menuju sebuah bangunan megah yang ia tak tahu.ditatapnya wanita dan laki-laki sedang duduk berdua dia memandang jijik daerah itu.
Aisyah: tempat apa ini, kenapa aku dibawa disini aku kan mau bekerja
Defri : ini tempat kerjamu, kau tunggulah disini
Aisyah : Baiklah
Ia menunggu dengan cemas, wajahnya yang cantuk mulai padam karena takut.
Pak zai :“ hai cantik (menyentuh tubuh aisyah)
Aisyah :“ mau apa kau jngan macam –macam pergi
Pak Zai ;“ sombong kau, akan ku pstikan aku akan menjadi orang petama pelangganmu(pura-pura mencium )
Aisyah ;“ pergi “
Defri ;“ Aisayah kemari “
Aisyah ;‘ syukurlah, “
Defri ;“ mulai sekarang kamu diterima bekerja ditempat ini”
Aisyah ;“ kerja apa”
Defri ;“ kau cukup bersihkan kamar-kamar, kerjamu tak terlalu berat tapi gajimu besar’
Aisyah ;“ Apa benar”
Defri ;“ ya…… aku pulang tugasku telah selesai selanjutnya selamat bekerja”
Sett V:
Bos : kau, mulai hari ini bekerja disini mala mini kamu bersihkan kamar 309 paham?
Aisyah ; ya pak
Bos : kau istirahatlah, sebelum kau membersihkan kamar jangan lupa bersihkan tubuhmu aku takut pelangganku mencium nau mu, ini pakaian yang harus kau kenakan
Aisyah : ini terlalu pendek bos
Bos ; sudahlah jangan banyak bicara pakai saja dengar layani pelangganmu yang pertama dengan baik
Aisyah ; Apa maksudnya bos
Bos : sudahlah, keluar dan istirahatlah.
Aisyah ; baik
Sett vI :
Sebuah kamar istirahat yang cukup besar, biasanya penghuninya kalangan orang berduit.didalamnya terdapat tempat tidur yang mewah, sofa , tipi dan kulkas serta dilengkapi dengan AC.
Ausyah : mewahnya………………..coba ini kamar tidurku, capek juga kalai membersihkan kamar sebesar ini.
Pak zai : (Mengunci pintu) hai cantik kau cantik dengan pakaian seksi itu (meremas tangannya)
Aisyah : kurang ajar kau ( menampar wajah ) lepaskan aku
Pak zai ; Ayolah sayang, aku sudah tak tahan.
Aisyah : (Menarik gagang pintu) buka pintu ini aku bukan pelacur
Pak Zai ; wanita yang nekekerja disini adalah pe-la-cur, kaupun sama karena aku telah mengeluarkan uang banyak untuk menikmati keperawananmu.
Aisyah ; tidak akan pernah lebih baik aku mati.
Pak Zai ; menarik dan mendorong tubuh aisyah ) bersiaplah kau
Aisyah ; tidak……………………………(.mendorong tubuh lalu meloncat dari kegung lantai 4)
Jenazah Aisyah pulang ke kampong halaman ,
(merangkul tubuh anaknya) anakku malangnya nasibmu seandainya kau tak keras seperti nafsumu mungkin taka akan pernah begini”
Jangan pernah terbujuk rayu pad aiming-iming gaji yang besar, teliti, cermati sebelum menerima tawaran pekerjaan, jangan sampai anda salah memilih.
2.
AKU ANAKMU IBU
INILAH PERJALAN HIDUP MANUSIA, ANAK YANG TERLAHIR DALAMKEADAN CACAT FISIKNYA MEMBUATNYA HARUS BERSEDIH KARENA HIDUP BAGAIKAN DIPERASINGAN DALAM KELUARGA BESARNYA.
Sett pembuka:
Disebuah sekolah SMA Ibu pertiwi berdiri di depan gerbang seorang anak bernama As-syfa, Hari itu hujan mulai turun rintik-rintik
As-sifa ; Aduh mau hujan lagi
Ia terus saja berjalan hingga sampai dirumah ia berhenti dirumah mewah dengan kendaraan yang lengkap. dengan keadaan basah kuyup, hingga membuat orang dirumahnya menjadi marah.
Ad-siya : ibu aku pulang
Ibu : siapa yang izinkan kamu masuk, anak cacat selalu buat masalah keluar kamu atau mau ibu pukul
As-syfa : ( menggigil kedinginan ), tapi bu aku dingin,
Ibu : (mengambil kemoceng, lalu memukulkan ketububuh As-syfa) rasakan kamu anak sial
As-syfa ; Aug………ampun bu………..ampun bu.
Mbok ; Sudah nona maaf kan lah non syfa kasihan dia
Ibu : tak perlu, anak ini harus diberi pelajaran agar tidak besar kepala
Mbok ; sudah nona nanti bisa mati
Ibu ; (melemparkan kemocengnya ) urusi dia mbok
Mbok : Baik nyonya, mari non
Syfa ; (tersedak –sedak ), ibu kejam nggak sayang sama aku ,dirumah ini nggak ada yang sayang sama aku gara- gara aku cacat.
Mbo ; non nggak baik marah pada tuhan, ka ada mbok yang sayang pada non”
Dyfa : ( memeluk tubuh mbok ) Aku sayang mbok
Sett II:
Dirumah dyfa sedang berlangsung acara, Suara yang ramai membangunkan syfa dari tidur panjangnya, hingga ia lupa jika orang tuanya melarangnnya keluar jika ada orang dirumahnya.
Orang I; siapa itu bu, aku baru pertama melihatnya anakmu!
Ibu : oh, bukan itu anak mbok asih yang baru datang dari desa, aku minta ia membersihkan kamar !
Orang II ; Aku sangka anakmu. Habis cantik juga tapi sayang ………………….ha…..ha………..?
Ibu : mana mungkinlah anak cacat..ha…”( merah padam wajahnya), sebentar aku ada urusan diatas.
Orang I dan II : silakan
Ibu : ( mendorong pintu kamar diya) puas kamu mempermalukan ibu ha anak sialan kamu ( menjambak rambut )
Syfa ; ( ampun bu aku tak tahu ada orang dirumah. ( menagis) aku tak tahu kenapa ibu melakukan ini padaku aku selalu saja dipersalahkan atas apa yang tidak punya alas an ,
Ibu : menampar wajah syfa) kamu jangan keterlaluan
Syfa ; kenapa karena aku cacat aku juga tak mau lahir dalam keadaan ini apa salahku ibu ( menjerit ) ibu ingat hari ini ulang tahunku tidak akan pernah aku rasa…………………………………
Mendengar ribut dikamar Syfa mbok datang
Mbok : Ada apa nyoya.
Ibu : ( membanting pintu , keluar menjauh)
Dyfa : (menganis ) kenapa mbok aku selalu mejadi masalah dalam keluarga ini, aku muak aku ingin mati kenapa tuhan tak mencabut nyawaku saja mbok
Mbok ; jangan bicara seperti itu non, tuhan itusayang sama non makanya tuhan memberikan ujian sama non.
Sifa ; tapi aku tak kuat mbok…………………………….
Mbok : sabar non ……………………………..semua akan indah pada waktunya.
Sett III
Keluarga Syfa berlibur ke sebuah desa Sukomoro, hamparan ladang yang dipenuhi dengan padi menguning, para petani yang sibuk bekerja mereka terhenti disebuah pondok sederhana dipenuhi dengan tanaman bunga yang indah.
Syfa : Nenek ………………………fa datang aku kangen banget sama nenek
Dila : jauh kamu (mendorong tubuh sifa) kau itu bukan cucu nenek mana ada nenek punya cucu cacat kayak kamu.
Nenek : dila jangan pernah berkata seperti itu….nenek akan marah
Ibu ; sudahlah ibu jangan dibela terus nanti melunjak dia.
Nenek ; nak, jangan kamu berkata seperti itu, ibu takut suatu sat kau akan menyesal berlakulah layakn ya seorang ibu.
Ibu : sudahlah ibu ini semua gara-gara kamu fa.anak sial pembawa masalah.
Syfa menundukkan kepalanya)
Nenek ; sudahlah sifa jangan masukan kedalam hati acuhkan saja ibumu mari sini nenek peluk nenek sudah kangen sama cucu nenek.
Sett IV:
Di pertokoan, mobil lalu lalang dijalanan ibu, syfa dan dila berjalan meyusuri jalan.
Ibu ; jangan dekat ibu kamu dengar , kamu akan membuat ibu malu saja.
Dila ; dengar tu anak cacat.
Syfa ; ya bu aku dengar.
Ibu ; ne bawa belanjaan ibu capek ibu.
Pelayan tokoh :mau cari apa
Ibu : cari pakaian mbak.?
Pelayan tokoh : itu anaknya ya bu?
Ibu ; mana mungkin itu anak saya mbak, itu anak pembantu saya,
Pelayan toka: maaf bu
Ibu ; taka pa.
Sett V
Ketika mereka hendak pulang sebuah mobil berjalan dengan kencangnya , ibu dan adiknya yang berjalan kerahnya tidak melihat mobil melintas kearah mereka.
Syfa : Awas…………………………………………bu…………….
Mereka tak tahu . syfa berlari dan mendorong tubuh ibunya…………..tapi yang terjadi ialah yang tertabrak mobil.tubuhnya jauh
Ibu : syfa…………………………………, tolong anakkku……..
Dilla ; kakak………..
Sifa meninggal ditempat jenazanya dimakamkan didesa sikomoro dan ibunya mengalami gangguan jiwa karena penyesalan hingga ia terpaksa masuk kerumah sakit jiwa
CERPEN R. A. DINA OKTARIA MAYZA
1.
MELODI CINTA
Hari ini sudah tiga bulan aku mengajar disebuah kelompok belajar, aku sangat menyukai semangat dan kecerian yang selalu muncul dari anak-anak. Melihat tawa dan canda mereka aku teringat semua masa kecilku saat aku sedang melamun dimejaku,”ibu, lagi mikirin apa ya bu’Teriak Bimo salah satu muridku “ibu, ibu Nampak cantik jika melamun aku jatuh cinta bu”teriak Andika, Aku hanya tersenyum mendengarkan ucapananak-anak”. Ibu menara Effelitu berada dimana”Tanya putri kepadaku”,effel kata ini akan selalu membawaku pada kekasihku Rahmadi yang sedang meneruskan kuliahnya disana, tap aku tak tahu kapan ia akan pulang “. Ibu, kok melamun lagi “. maaf, menara effel da di paris sayang”. Rasanya aku enggan untuk pulang karena karena keceriaan ini akan hilang saat aku pulang kerumah.
Saat aku hendak pulang, Bimo kecil murid terbawelku nam,pak belum pulang “Bimo kok belum pulang sayang, lagi tunggu jemputan ya, ibu temanin boleh”. Bimo kecil tak menjawab dengan kata –kata tapi ia hanya mengangguk dan tersenyum senang dan aku tahu dia mau. Tak lama datang seorang laki-laki yang menghampiri kami,”Bimo yuk pulang”. Laki-laki itu memperhatikanku dengan tajam”Nova, kamu Nova kan”. Tanpa kusadari Bimo keponakan choiri sahabat SMA ku”maaf, aku lupa kamu berubah sih tambah ganteng aja”. Kamu bisa saja, kamu nggak berubah masih tetap manis, hari ini ada kegiatan”. Kenapa, Ri kebetulan enggak “. Kita minum teh sambil reunion mau”. “Boleh”. Bimo kecil hanya bingung mendengar kami berdua, dia masih terlalu naïf untuk tahu kegiatan orang dewasa.
Aku dam bimo kecil berjalan berdampingan dengan petunjuk yang choiri berikan dimana kami akan berhenti, tepat di sebuah restoran ia menuntunku dan Bimo kecil masuk kedalam. Bangku yang terdekat dengan tamanyang kami singgahi. “Om, kenal cama ibu guru ya, bu guru kenal cama om Bimo ya “. “ya sayang ibu guru dan omnya Bimo teman satu sekolah”. ”ya jagoan ibu guru itu temnnya om’’’’’’’oh…….., aku biasanya ketemu terus dong sama ibu” dengan wajah lugunya Bimo tersenyum senang. “nggak nyangka kita ketemu lagi, udah lama ya, oh ya …. Apa kabar kiranya.
“aku juga kurang tahu gimana keadaannya, aku dan dia udah lama enggak berhubungan, karena sifatnya yang egois, udahlah jangan dibahas soal itu karena aku sudah terlalu sakit.
“sakit”.Bisik hatiku, padahal jika harus berkata jujur mungkinakulah yang paling sakit, Kirana adalah sahabat yang aku percayai dibandingkan dengan sahabatku yang lain tap ia yang paling kejam, sebenarnya itu juga bukan salahnya seratus persen tapi itu juga adil kesalahanku sudah sering sekali sahabatku yang lain mengingatkanku tap iaku tak mau mendengar. Dan Karin telah tahu jika aku dan choiri adalah kekasih, ia seolah tak memperdulikan itu, bahkan ia menjadi selingkuhan dan terang-terangan bermesraan didepanku seolah-olah ingin mengejek dan menghancurkan hatiku, tapi sudahlah itu masa laluku. Tapi, rasaku terhadapnya masih ada karma ia cinta pertamaku “. Bagaiman sekarang kamu, masih sendiri “, suara itu memekik diotakku memecahkan lamunanku “ap, kamu tadi bilang apa “,” kamu melamun ya, kamu nggak berubah ya masih suka memendam kebiasaan buruk, aku tadi bilang apa kamu masih sendiri, tapi itu enggak mungkin kamu pasti udah punya teman maksudku pendamping”. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya akupun tak menjawab tidak ataupun mengiyakan karma biarlah terjadi rahasiaku”kenap kau tersenyum” “tidak. Oh ya Ri, sebenarnya aku masih mau berbincang-bincang tapi aku masih harus mengajar anak lain”. “Nggak apa-apatapi thanksya udah menyempatkan waktunya, see you next time”. “bay……,ibu pulang ya jagoan kecil”. “Ya bu guru hati-hati ya “. Aku melihat keduanya melambaikan tangannya dan aku terus berjalan menjahui keduanya “om, om aku cuka cam bu guru om pacaran aja cama bu guru”. Eh anak kecil nggak boleh bilang pacaran, ntar nggak gede-gede mau”. ” nggak om”. ‘Ya udah pulang yuk, mama udah tunggu kamu”. “yuk om”.
Aku semakin sering melihat choiri menjemput Bimo kecil, jika perhatikan keduanya sama persis, aku dan choiri pun makin sering berjalan berdua, ada-ada saja akal busuknya untuk mengajakku hanya sekedar berbincang-bincang entah apa yang ia pikirkan dan anehnya aku tak menolak sedikit pun karma aku menyukai ajakkannya dengan senang hati, buka hanya teh n restoran itu yang membuatku betah bersama mereka berdua tetapi juga karena melihat pola tingkah Bimokecil yang bercanda dengan omnya yang seperti anak-anak. Aku mulai menyukainya kembali,hatiku bergetar kembali terdengar melodi-melodi cinta dihatiku. Entah apa yang aku pikirkan tapi ini salah tapi ini juga betulapa yang aku rasakan benar-benar cinta dan bukan suatu kesalahan, tapi dilain sisi aku mengkhianati seseorang inilah yang salah, tapi aku tak bisa menyangkal kalau aku jatuh cinta pada dirinya. Tapi rasa itu segera ku hapus dari hatiku.
Hari sebenarnya sudah lama aku menantikannya karena Ramadi akan pulang dari Perancis, rasa seang itu Nampak pada hari ini semuayanampak bahagia.
Tapi pada kenyataannya Ramadi pulang dengan membawa luka dihatiku, saat datang kerumahku ia membawa seorang wanita, entah apa maksudnya karena dia hanya diam membisu saat kutanya kenapa ia tak menjawab aku belum mengenal wanita yang ia bawa karena wanita itu masih diduk diteras”ada apa “Ramadi masih saja diam tingkahnya semakin membuat pikiranku kalut ”kenapa,jawab jangan hanya diam”,lagi-lagi tak menjawab betapa aku terkejut saat ia menyerahkan undangan pernikahan disana tertulis Adi, aku mematung diam tanpa kata-kata “va kamu kenapa, jangan diam kebisuan kamu akan membuat hatiku hancur, aku akan senang jika kamu marah dan memukuli aku, aku masih terlalu cinta kamu va, bahkan cintaku hanya untukmu seorang “. “apa dia orangnya, lalu kenapa kamu lakukan ini “tanyaku lirih”ya, dia yang membuatku terjebak pada apa yang tidak pernah aku lakukan”. “berarti dia hamil”, aku keluar maksudingin mencari orang yang telah merebut cintaku, tapi alangkah terkejutnya aku saat kulihat wajah wanita itu tak lain dia Kirana”kamu lagi, apa kamu ingin lihat aku mati baru kamu akan puas, belum cukupkah semua apa lagi yang kau ingunkan ha jawab”.”Maafkan aku Va, aku tak pernah bermaksud”. ”stop, aku tak butuh penjelasan kalian, tinggalkan rumah ini ?. “aku menjadi semakin terluka, lagi-lagi cintaku direnggut oleh Kirana.
“Kirana sialan, aku benci dia”. Pekikku marah aku ingin sekali membunuhnya tapi aku tak berdaya.
Ternyata Choiri telah lebih dahulu tahu masalah pernikahan itu, dia juga sok ketika tahu calon mempelai laki-laki adalah tunanganku. “aku tahu pasti kamu disini, jangan patah semangat dong wajahmu jelek kalau begitu”. “tahu dari mana kamu aku disini”. “aku masih ingat semua tentang kamu, ayo dong tunjukin pada mereka siapa Nova sebenarnya, buktikan tanpa dia pun kamu setegar dan sekokoh pohon cinta itu”Choiri menunjuk kearah sebatang pohon, semua orang yang datang kesana adalah sepasang kekasih. Oleh sebab itu, pohon itu ditanami pohon cinta, dahulupun aku dan dia pernah datang kemari”. Kamu benar aku harus semangat, makasih ya, “ aku memeluk tubuhnya hingga ia terkejut” sahabat Nova ‘’’’’’’’sahabat’.
Aku tahu yang akan terjadi pada Kirana dan Ramadi mereka akan menikah besok, dan aku akan datang tapi untuk hubunganku dan Choiri biarlah waktu yang akan member jawaban.
2.
MAKAM TAK BERNAMA
Denyut- denyut jantung berdetak diselasar gang- gang sempit, keringat yang jatuh mebasahi tembok – tembok liang lahat, menyatu bersama takbir menyumpat rasa bingung dalam hati, tak ada titik kesedihan yang bercucuran, yang ada hanya cabikan sepenggal luka bersama bungkamnya jenaah dalam keranda.
“ Bunda aku lapar sekali …”
“Sabar ya sayang nanti ibu cari ya adik jangan kemana-mana ya sayang”
“ ya bunda tapi bunda pulang bawa makan buat adik kan”
Bunda hanya menitihkan air mata ketika melihat anaknya yang menangis kelaparan, dipelukknya erat sang anak
“ ibu keluar ya, adik ingat pesan ibu jangan kemana-mana”
“ ya bunda”
“Assalamualaikum”
“Kum calam”
Ibunya berjalan menyusuri selasar gang-gang dengan berharap memperoleh sedikit rezeki untuk sang buah hatinya.
Jauh sudah ia berjalan, hujanpun mulai turun membasahi bumi, wanita tua it uterus berlari dalam kebasahan tangisan buah hatinya selalu terngiang dalam pelupukmatanya. Hingga dingin memaksanya berhenti diteras rumah waraga, terdengar dari dalamrumahnya orang yang meneriakinya
“hai gembel pergi kamu dari sinikamu bisa membuat rumahku menjadi kotor”
“maaf pak saya hanya numpang berteduh”
“Saya bilang pergi kamu dari sini “sambil melempar botol
Botol yang dilempar tepat mengenai kepala wanita tua itusehingga keluar darah segar dari atas kepalanya
“Maaf tuan”
“Pergi”
“Tunggulah sayang ibu akan segera pulang”bisik hatinya
Wanita tua itu terus saja berlari , ia tak tahu lagiharus berteduh dimana,makanan untuk anaknya belum juga didapatkannya ditepisnya rasa dingin dalam tubuhnya.
Satu persatu tong sampah setiap rumah dikais-kaisnya namun tak adasatupun yang dapat dimakan yang ada hanya tulan belulang ikan ataupun ayam itupun sudah bercampur dengan belatung tak tega ia memberikan makanan itu kepada anaknya.
Merasa tak kuasa ia berlari kesebuah halaman rumah rumah penduduk tubuhnya mengigil nampaklah olehnya seorang wanita yang hendakmebuang makanan
“mau dibuang bu”
“ya bu, nasi ini sudah basi, tidak bisa dimakan lagi”jawab wanita itu
“boleh saya memintanya, anakku belum makan dua hari ii “
“tapi ini basi”
“tidak apa bu, masih bisa dikeringkan lalu kumasak lagi, boleh bu”
“ silakan ini”(menumpahkan makanan kedalam baju wanita tua itu yang sudah diangkatnya)
“terimaksih bu”tersenyum terkenang wajah anaknya yang akan senang.
Wanitatua itu pulang dengan hati yang bahagia, wajah sumringahnya membawanya melewati gang-gang menuju rumahnya.
“Sayang, ibu pulang”
Dilihatnya sang bauah hati sedang tertidur lelep diatas lapisan Koran, dikecup keningnya
“ Tidurlah sayang, bermimpilah capailah yang tak kau capai jka kau terbangun nanti, lalu ceritakan pada dunia mimpi indah mu itu”
Segera ia berdiri , ketika ia teringat nasi yang dibawanya, dicucinya nasi basi yang berbau itu lalu diletakkannya ditampan agar bsok mudah menjemurnya.
Ia baringkan lagi tubuh tuanya, disebelah buah hatinya jauh pikirannya melayang hingga lupa ia akan luka diatas kepalanya
“seandainya suamiku tidak meninggal,lalu jika ia tak diusir dari kontrakan dinas, jika ia tak dipecat oleh pabrik jika rumahnya peninggalan otrag tuanya meskipun tak layak huni tidak terbakar, mungkin hiduku tak akan sesulit ini,gubuk kardus dibantaran kali ciliwung”pikirnya
Udara malam yang dingin memaksa mata wanita untuk tertidur
****
Udara pagi menghangatkan udara malam yang memikat mata
“uagh…em….bun…dimana”
“bunda disini sayang, sedang masak makanan “
“asyik..cepat ya bu aku sudah apar………”
“ ya….ini buburnya sudah masak …ayo sini”
Melihat anaknya makan dengan lahap, sudah membuatnya kenyang.
“setelah kau makan ibu akan pergi, mencari uang ibu mau mencari pekerjaan agar kau dapat makan”
“ehm…..ya bu”
“kamu jangan kemana-mana dengar nanti susah mencarimu”
“ya bu aku janji”
“sini ibu ciu keningmu ibu rindu sama anak ibu “memandang wajah anaknya
“bunda”
“ya sudah ibu pergi ingat janjimu’
Dengan semangat wanita tua itu menyusuri rumah ke rumah mencari pekerjaan , setiaprumah diketuknya nmun belum juga didapatnya.
Malang nasib wanita tua itu dijalan ketika ia hendak akan pulang ia tertabrak mobil hingga tubuhnyajauh terjatuh, kepala, wajahnya, terbentur jalan aspal hingga tulang keringnya Nampak dan banyak mengeluarkan darah.
Entah bernyawa atau tidak ia dibawa kerumah sakit oleh orang yang kasihan padanya.
Sudah duahari, anaknya menanti kedatangan sang bunda air matanya mengalir
“ikhsan tinggal dirumah bibi saja, ibumu belum tahu kapan pulangnya”
“tidak bi aku sudah janji pada ibuku aku tidak akan meninggalkna rumah, nantio ibu pulang”
“ ya sudahlah tidurlah ini sudah malam”
“baik Bi”
Ikhsan tidur dengan linangan air mata dan berharap saat terbangun esok disampingnya melihat ibunya.
Semua hancur disaat angansang malaikat kecil harus musnah tersapu banjir akibat luapan kali ditambah hujan yang tak kunjung berhenti hingga membawa tubuhnya.mungilnya diatas makan yang tk bernamadiatas makan sang bunda yang dinanti tak ada satupun yang tahu nama wanita tua itu yangmeninggal dalam kecelakan . Makam tak bernama begitu banyak begitu banyak menyimpanrahasia, di sebelah makamitupun ikhsan dimakamkan tanpa nama.
Semoga ketika ia terbngun dari tidur panjangnya ia bertemu bundanya di surga.
3. HIJAB CINTA
Waktu bergulir menganti hari-hari dari waktu ke waktu mengganti hari menjadi minggu dan seterusnya hinga menjdai tahun.
Kini aku telah tumbuh menjadi wanita muslimah yang berbeda dari gais remaja biasanya, Ku gantungkan hidupku dijalan tuhan aku bahkan dipandang aneh oleh beberapa remaja bisanya.
Pakaianku yang jauh dari modis, diatas kepala ku kenakan khimar yang jauh menutupi menyelubung tubuhku.
Sekalipun orang emmandangku aneh tapi inilah pilihanku
Aku adalah aku yang sekalipun aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh remaja pada umumnya yang masih memiliki hati dan dapat menyukai lawan jenis.
Fathur nama laki-laki itu, begitu indah akhlaknya yang kulihat dari kesederhanaanya kata-katanya, perbuatannya hngga menjemakku dalam perangkap cinta, terlebih pesona wajahnya yang rupawan dan tubuhnya yang tegap bagai bidadara dari surge.
Bagai aliran darah ia mengalir dalam hatiku, tanpa kusadari mata ini liar memandang kearahnya
‘ Astafirullah….Ampunkan aku ya Allah”
“ Kamu memendangnya, hati-hati Aisyah tak baik “Sapa temanku Nabila
“ Ya aku akan lebih berhati-hati’
Setiap kli menatapnya, hatiku bergolak entah apa yang aku rasakan hinga ku tak mampu membendung rasa ini, namun aku taka akan pernah mampu mengakaui rasa ini hingga kujadikan rasa ini sebagai kebutuhan nurani.
Suatu kali ayah member tahuku jika aku, telah dijodohkan pada seorang laki-lakki yang tak pernah aku kenal benama Akbar, secara nurani aku ingin menolak batin ini merintih karena hatiku telah memilih Fathur, tapi sebgai anak aku punya kewajiban untuk membahagiakan orang tuaku maka harus aku penuhi kewajibanku sebgai anak.
Aku mulai menutup hati dan cintaku dari Fathur jauh namun belum dapat aku lakukan.
Perkenalanku dengan Akbar bermulai dibalik hijab hanya suaranya yng melantun indah sejenak suara itu taka sing ditelingaku.
“ Suara Fathur” bisikku dalam hati.
Dengan hati yang lapang ku buka hati untuk Akbar, perkenalanku hanya sebatas mimpi bagiku
“ bagaimana bisa aku akan menikah dengan orangyang pernah aku tahu”
Dengan hati yang lapang ku uka hati untuk Akbar, perkenalanku hana sebatas mimpi bagiku.
Satu bulan setelah masa tasawufku, ia melamarku aku menangis entah apa ini, siapkah aku menjadi layaknya Siti Khadijah bagi suamiku tapi hidupku ku jatuhkan pada pilihan tuhanku”
“ Fathur, semoga kita berjodoh kelak di surga’
Ku dengar orang ramai-ramai dirumah mengumandangkan takbir
“Alhamdulillah’
Kini aku tahu, lamaran itu diterima oleh Ayahku talk lama ku dengar ibu memanggilku
“ Aisyah, keluarlah nak, calon suamimu ingin melihat dirimu”
“ Baik bu’
Sempat butiran-butiran muncul dari mataku
“ Kau kenapa, kau tak ikhlas atas perjodohan ini”
“ tidak bu,aku menangis karena bunsa dan ayah menukahkan aku dengan ahli surge”
Ibuku memeluk tubuh ku” ibu bangga padami, ayolah kita lihat bidadara surgamu”
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan, ku tundukan kepala tak kuasa membendung air mata melepaskan hatiu dari Fathur
Alangkah terkejutnya ketika laki-laki yang dihadapanku adalah Fathur, ia tersenyum memandangku.
Nabila membisikkan sesuatu ditelingaku.
“ Ternyata ia menyukaimu, ia nertanya padaku maka ku katakana yang sebenarnya padanya.”
Aku tersenyum entah perasaan apa tapi inlah bahagia, Fathur berjalan mendekatiku
“ Fahtur Akbari, calon suamimu kini ku jadikan kau halal bagiku’ Senyumnya padaku.
4.
PERGILAH NAHKODA CINTAKU
Mentari menaburkan kehangatan dikala perahu- perahu kecil brlayar menyebrang hamparan samudra luas, ombak menari dalam gulungan samudra membuat ku semakin larut dalam dasar rindu.
Aku berdiri diselasar tembok- tembok penompang jembtan Ampera yang berdiri kokoh dalam balutan keprkasaannya.
Tanpa henti kunanti hari itu, masih ku ingat dengan tajan ketika kepergiaannya hari itu, senja dipelabuhan. Wajahnya kupandang dengan cemas, air mataku mengalir denganlembut dipipiku, hangat begiu yang kurasakan
“ kenapa wajahmu berlinangan dengan buiran mutiara yang brharga., janganlah khawatir kepergiaanku kali inipun akan sama seperti kepulangannku, ayolah tersenyum untukku”
Entah kata-katanya tak dapat membuat batinku merasa tenang, rasa ini membungkamku dalam kebisuan, aku tak dapat mengatakan apapun padanya.
“ Ayolah, Andika berjanji akan segera pulang untuk menemui putri hatiku ayolah tersenumlah”
“ Baiklah, aku akan selalu mengingat janjimu, jangan pernah kau khianati cinta yang kumiliki, karena hatiku inikecil dan mudah terluka”
“ tenanglah, aku tak akan pernah mengkhianati cinta kita’
Aku hanya menatap bersama berlayarnya sang nahkoda cintaku, Aku berdiri ditembok penantian sampai hari in pun aku masih berdiri ditembok penantian ini dengan penuh pengharapan ia akan segera pulang”
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun pun kini telah berganti namun janjnya tak kunjung datang kini aku tahu harapan hanya tinggallah harapan janjinya semakin membuat keadanku terpuruki dalam kebimbangan, hingga datang sepucuk surat yang kunantikan tak utemukan kata –kata yag indah penghapus rasa lelah yang selama ini ku nantikan, menitih air mataku perih mulai menyayat hatiku ketika amplop putih brpitakan merah ku baca. Bukan bahagia yang kuterima tapi sayatan – sayatan luka yang ia bingkai dalam sepucuk surat bersama undangan dan foto pernikahannya engan seorang wanita, yang lebih menyakitkan perasaanku, wanita itu tak asing bagiku ya ia Miranda, adi perempuanku.
Kesedihan membuat aku terpuruk kedalam kesendiian, aku ak tahu harus bebuat apa, semua semakin memuat sakit ktika ku tahu hari pernikahanku yang tak pernah aku ketahui dan setujui akan segera berlangsung. Semua ulah ibu tiriku dengan seenak hainya ia memutuskan sesuatu yang tak pernah aku setujui dan aku inginkan. Keputusannya menjodohkan aku merupakan satu pukulan yng menbuat aku semakin larut dalam kehampaan, hanya karena alasan yang tak masuk akal karena ketakutannya aku akan merebut kembali suami anaknya.dan ayahku tak ammpu berkata apapun untuk menolong anaknya ia hanya duduk dan ikut menyudutkan aku seolah –olah aku hanyalah anak yang membawa masalah. Tapi semua tak mampu terelakkan hingga aku harus pasrah dalam keterpaksaan.
Hari pernikahanku dengan laki-laki yang tak ku kenal ku hiasai dengan cucuran air mata, butiran –butiran luka itu tak mampu ku tampung hingga menetes dengan derasnya. Resmilah sudah aku menjadi istri seorang duda beranak satu dalam balutan pernikahan yang sederhana.
Mas Erwin begitu ku panggil ia dalam keseharian, kini hidupku dipenuhi dengan cinta drinya tapi tetap kehampaan yang aku rasakan, namun hidupku sedikit berwarna dengan tawa dan senyum dari “ Keila “ anak tiriku yang kini menjadi belahan jiwa dalam hidupku.
Setahun telah berlalu kini aku mulai hidup kembali dari kehampaan, namun kebahagian itu terkoyak semenjak kedatangan Andika kembali dalam pelukkan mas Erwin, ternyata kepahitan terus berpihak padaku Andika adalah adik bungsu mas erwin.
Masih kutemukan tatapan cinta untukku dari matanya dan panggilan sayangnya kepadaku aku tak mampu berdusta jika peasaan itupun masih aku miliki untuknya.
“ oh, tuhan apa ini, kenapa kau buat aku jdi begini “ bisik hatiku
“ Apa kabar bun, baik saja”
Mas Erwin sedikitpun tak merasakan kecurigaan kepada kami berdua, hingga ia pergi brsama keila meninggalkan aku dan Andika.
“ Cin, aku tahu marah padaku dan masih memendam cintaku untuknya”
“ Tak perlu kau tahu”
“ Aku tahu…” ( memeluk tubuhku)
“ Lepas………. Kau tak tahu sopan, aku istri kakakmu jadi berlakulah dengan baik”
“kau masih cinta padku, aku tahu kini, aku sangat mencintaimu…..sangat dan sangat mencintaimu”
“Tatap mataku, aku ingin tahu “
“ untukku apa tak perlu lagi”
“ kau takut,( menarik tubuhku )
Aku tak mapu menutupi perasaanku, saat mata indahnya menatapa mataku dengan cinta.
Sekejap hidupku kembali berwarna, cintaku kembali setelah aku merasakan kejenuhan, aku kini bisa bersamanya menatap kembali wajahnya, senyumnya,menghirup setiap hembusan nafasnya. . Merasakan hangatnya cinta yang dahulu pernah hilang kini ku mampu melepasa kesedihan dahulu yang pernah aku rasakan.
5.
KALUNG KEMATIAN
Cahaya sang penguasa malam berpancar menembus kaca-kaca yang berdiri kokoh, bintang-bintang berkerlip menghiasi langit, krlipnya bintang temani gelapnya malam menjadi kekasih setia bagi dunia impian hingga datangnyapangeran fajar, udara malam mencekik rapuhkan sendi-sendi dan tulang-belulang, tabuhan suara si panggu semakin membuat langit malam hitam semakin kelam.
Aku hanya diam duduk mematung bertemankan kesunyian di penjara ini, aku tak mampu lagi memandang malam bertabur bintang-bintang derajatku tak memberikan hak untuk itu, karena tubuhku terkukung dibalik jeruji-jeruji besi bertahta kalung kematian. Dingin dan kotor dinding yang berdebu penghias penjara ini bagaikan teman sejatiku, orang-orang akan merasa jijik melihat sekitarku tapi tidak lagi untukku ini bagaikan istana untukku.
Sejak kecil hingga sekarang orang-orang memandangku dengan sebelah mata, aku terlahir bagai anak tiri dunia selalu menjadi korban dan terlupa, tak satupun yang dapat aku jadilan tempat pelipur lara berbagi suka dan duka jika itu terjadi maka para orang tua akan mengutuk anaknya. Masa kecilku berlalu tanpa makna bahkan aku lupa apa aku pernah merasakan indahnya menjadi seorang balita. Mereka tak pernah memberikan setiap hak yang aku punya yang aku miliki hanya cemooh serta cacian yang terus saja dating dan pergi silih berganti dalam hidupku hanya karena aku terlahir dari rahim seorang wanita tunasusila.
“Itulah dunia pikirku penuh dengan ketidak adilan. Kesalahan dan dosa hanyalah milik kami benar-benar kejam,oh…tuhan masih adakah keadilan untukku tak layakkah aku nikmati hidup layanya orang- orang biasa “pikirku keluh
Tak ada sosok ayah dalam hidupku namun aku mengenal sosok ayah dari ibuku, semua kebutuhan ibu yang menanggung namun tubuh ibuku kini telah lemah, wajah cantiknya kini dipenuhi dengan gari- garis keriput. Kecantikan dan usianya ikut larut termakan zaman, para pengerat itupun tak tertarik lagi pada ibu, hingga tak pernah kudengar lagi rintihan-rintihan perih dari ibuku dikala para pengerat itu menikmati setiaplekuk tubuh ibuku yang dahulu amat sering berdendang, terpaksa ibu membanting harga pasarannya agar aku bisa tetap makan.
Beberapa kali pengerat itu mengunjungi tempat tingalku entah dengan maksud apa aku tak tahuketika pulang sekolah aku melihat ibu kelelahan layaknyahabis olahraga. Beberapa kali pula pengerat itu mencoba memeluk dan merangkul tubuhku ibuku hanya tersenyumdan memintaku segera masuk menjauh tiap kali tangan jalang it menyentuh kultku, bibirku keluh ukaku pucat itu yang selau aku rasakan. Tampakolehku mata liar mereka seakan mencium aroma harumdaging muda, mereka kini mengincarku.
Tapi mengapa tak ada yang salah akupun tak ingin memilih kehidupan ini hanya saja tuhan telah memilihkan yang terbaik untuk kaumnya.Akupun tak pernah menimpakan semua kesalahan pada ibuku. Kemiskinan ulah serakah para penguasa yang tamak itu membuat adik-adik ibuku menjerit tangis kelaparan mengiang ditelinga yang memaksanya memutar haluan hidupnya. Bukan kesalahn ibu melahirkan aku semua ini ulah para pengerat-pengerat itu yang mengasah pisau- pisau fitnah dan mereka hunuskan dosa-dosa kedalam tulang-tulang rusukku lalu mereka pula yag menghinakan atas dosa-dosa yang mereka perbuat.
“ mau kemana kau anak manis, sini duduk dipangkuan paman nanti paman ajarkan kenikmatan padamu. Hei Mir berapa tarif yag kau berikan agar aku dapat menyantap daging muda itu” tanya seorang pelanggan ibu.
“ ah tuan bisa saja biar saya saja yang menggantikannya “ jawab ibuku lembut. Matanya mengisyarat aku untuk segera aku masuk dan menjauh. Aku menuruti perintah ibuku.
“ Aku bosan …..aku mau daging muda itu, sini kau manis “ tangannya menarik tubuhku hingga jatuh di pangkuannya. Ia merangkulku dengan kuat sekalipun aku merontah berkali-kali tapi aku tak juga dapat membebaskan diri.
“ kasihan dia tuan, mohon anda lepaskan”
Pengerat itupun tak jua membenaskan aku, ia mendorong ibuu hingga teratuh
“Hai, lepaskan dia, annaku bukanlah aku jangan kau sentuh dia atau kau akan merasakan akibatnya”teriak ibuku lantan.
Pengeat itu melemparkan sejumlah uang kemuka ibu
“ ambil ………….wanita hina’ bentaknya.
“ kami miskin tapi tidak sehina kau, sungguh kau manusia laknat hatimu telah mati bersama ketamakan dan kesombongan dalam dosamu, jangn kau kira kau bisa membeli setiap keinginanmu. “
Pengerat itu melepaskan rangkulannya dariku lalu menjambak rambut ibuku, aku mendorongnya hingga terjatuh aku tak menyangka ia akan mencekiku hingga aku sulit bernafas ibuku makin tesulut emosinya
‘lepaskan anakku kami memang pelayan tetapi bukan budak nafsu, tak pantas kalian dikrarkan sebagai raja, kalian tak lebih dari skeda sampah”
Cekikkan itu terlepas dari leherku namun beralih pada ibuku, melihat ibuku memekik kesakitan aku berlari kedapur tanpa ragu aku meraih sebuah pisau dengan yakin kutancapkan kedada pengerat itu sekalipun hukuman akan aku peroleh., teriakkan kesakitan dari mulut pengerat iu mengundang orang-orang untuk datang. Dari tangnku mengalir darah kotor yang mungkin mengisi tubuhku dengan wajah bisu senyum simpul mengembang dipipiku sengaja atau tidak aku merasa puas.
Gang- gang sempit serta rumah yang berdempetan membuat kabar berhembus dengan mudah, penghuni rumah sususn lainnya brlari pontang-panting melihat kejadian mereka dan beberapa lainnya bertepuk tangan tanpa arti. Rumahku diujung gang terasa sesak padat oleh manusia. Seorang penghuninya menghubungi poisi agar segera datang menyelidiki kasusku ini
“Lari…nak lari….biar ibu yang menggantikan mu hidupmu masih panjang “
Ku dengar teiakkan ibuku tapi tak tahu kenapa kakiku terasa beku “ mau lari kemana percuma”bisik hatiku.
Tak lama berselang berdengug di telingaku aungan mobil-mobil polisi, tak perlu waktu yang panjang mereka menyidukku dengan darah masih berlumuran ditanganku, aku tahu sorot mata itu seakan akan ingin menghakimiku bulat-bulat.
“ya………akulah pelakunya” tanpa ketakukan aku berkata menatap pada pria berseragam karena aku merasa tak bersalah sepenuhnya.
“ Anda kami tahan “ mereka menyeretku seakanmenemukan emas dalam harta karun membawaku kedalam jeruji besi.
Aku tahu hukuman apa yang akan ku terima sekalipun ibu menyewa pangeran berubah hitam dalam pengadilan, hukum kini tak berarti apa- apa bagi tikus miliyoner mereka hanya mendapat denda atau kurungan semata namun bagi atau sekedar ayam kampung mati babak belur atau mati membusuk dalam penjara. Apalagi dengan kasusku ini yang korbannya adalah orang yang berduit yang dapat membeli segalanya denan mudah, tak perlu tawar menawar bagi mereka.
Kurasakan mati dalam kehidupan. Tubuhku keluh, otot-otot sendi serta tulangku telah membeku bersama dinginnya tembok- tembok penjara ini hanya menunggu ketukan plu hakim aku harus rasakan nikmatnya sejuta tanya serta tatapan penghinaan yang tak kunjung berhenti bahkan tak jarang legam membekas di tubuhku.
Hingga persidangan iupun terjadi tapi keajaiban keadilan yng kuharapkan tak kunjung datang, persidangan tak butuh waktu lama hingga hakim mengetuk palunya dan menjatuhkan aku dalamkalung kematian
“ aku hanya berdiri diambang kau dan kematianmu, aku malu tak dapat membelamu hingga kau terlepas dari jerat kalung kematian, maafkan aku…………”
“ Aku tak kecewa , tak usah kau hibur aku karena aku tak takut mati, biarlah aku mati dengan kebanggaan dari pada hidup dalam kenistaan dan penghinaan dengan begitu aku akan menghadap tuhan dengan wajah yang menengadah bukan tertunduk karena malu, hanya saja aku bingung pada nasib ibuku yang telah tua”
“ Sungguh kau telanjangi aku dengan keberanianmu, tenanglah ibumu akan aku masukkan dalam panti jompo sebagai tanda maafku tenanglah kau” balas pangeran berjubah hitam.
Aku mengucapkan terimakasih pada isarat mataku karena seorang petugas membawaku dalam istana gelap.
Dibalik jeruji besi dingin aku duduk termenung menghitung hari kedatangan raksasa hitam bertubuh besar akan memakaikan kalung kematian kedalam leherku atau menanti keajaiban datang hanya cahaya sang penguasa malam dan bintang harapan menemaniku dalam kehampaan .
MELODI CINTA
Hari ini sudah tiga bulan aku mengajar disebuah kelompok belajar, aku sangat menyukai semangat dan kecerian yang selalu muncul dari anak-anak. Melihat tawa dan canda mereka aku teringat semua masa kecilku saat aku sedang melamun dimejaku,”ibu, lagi mikirin apa ya bu’Teriak Bimo salah satu muridku “ibu, ibu Nampak cantik jika melamun aku jatuh cinta bu”teriak Andika, Aku hanya tersenyum mendengarkan ucapananak-anak”. Ibu menara Effelitu berada dimana”Tanya putri kepadaku”,effel kata ini akan selalu membawaku pada kekasihku Rahmadi yang sedang meneruskan kuliahnya disana, tap aku tak tahu kapan ia akan pulang “. Ibu, kok melamun lagi “. maaf, menara effel da di paris sayang”. Rasanya aku enggan untuk pulang karena karena keceriaan ini akan hilang saat aku pulang kerumah.
Saat aku hendak pulang, Bimo kecil murid terbawelku nam,pak belum pulang “Bimo kok belum pulang sayang, lagi tunggu jemputan ya, ibu temanin boleh”. Bimo kecil tak menjawab dengan kata –kata tapi ia hanya mengangguk dan tersenyum senang dan aku tahu dia mau. Tak lama datang seorang laki-laki yang menghampiri kami,”Bimo yuk pulang”. Laki-laki itu memperhatikanku dengan tajam”Nova, kamu Nova kan”. Tanpa kusadari Bimo keponakan choiri sahabat SMA ku”maaf, aku lupa kamu berubah sih tambah ganteng aja”. Kamu bisa saja, kamu nggak berubah masih tetap manis, hari ini ada kegiatan”. Kenapa, Ri kebetulan enggak “. Kita minum teh sambil reunion mau”. “Boleh”. Bimo kecil hanya bingung mendengar kami berdua, dia masih terlalu naïf untuk tahu kegiatan orang dewasa.
Aku dam bimo kecil berjalan berdampingan dengan petunjuk yang choiri berikan dimana kami akan berhenti, tepat di sebuah restoran ia menuntunku dan Bimo kecil masuk kedalam. Bangku yang terdekat dengan tamanyang kami singgahi. “Om, kenal cama ibu guru ya, bu guru kenal cama om Bimo ya “. “ya sayang ibu guru dan omnya Bimo teman satu sekolah”. ”ya jagoan ibu guru itu temnnya om’’’’’’’oh…….., aku biasanya ketemu terus dong sama ibu” dengan wajah lugunya Bimo tersenyum senang. “nggak nyangka kita ketemu lagi, udah lama ya, oh ya …. Apa kabar kiranya.
“aku juga kurang tahu gimana keadaannya, aku dan dia udah lama enggak berhubungan, karena sifatnya yang egois, udahlah jangan dibahas soal itu karena aku sudah terlalu sakit.
“sakit”.Bisik hatiku, padahal jika harus berkata jujur mungkinakulah yang paling sakit, Kirana adalah sahabat yang aku percayai dibandingkan dengan sahabatku yang lain tap ia yang paling kejam, sebenarnya itu juga bukan salahnya seratus persen tapi itu juga adil kesalahanku sudah sering sekali sahabatku yang lain mengingatkanku tap iaku tak mau mendengar. Dan Karin telah tahu jika aku dan choiri adalah kekasih, ia seolah tak memperdulikan itu, bahkan ia menjadi selingkuhan dan terang-terangan bermesraan didepanku seolah-olah ingin mengejek dan menghancurkan hatiku, tapi sudahlah itu masa laluku. Tapi, rasaku terhadapnya masih ada karma ia cinta pertamaku “. Bagaiman sekarang kamu, masih sendiri “, suara itu memekik diotakku memecahkan lamunanku “ap, kamu tadi bilang apa “,” kamu melamun ya, kamu nggak berubah ya masih suka memendam kebiasaan buruk, aku tadi bilang apa kamu masih sendiri, tapi itu enggak mungkin kamu pasti udah punya teman maksudku pendamping”. Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya akupun tak menjawab tidak ataupun mengiyakan karma biarlah terjadi rahasiaku”kenap kau tersenyum” “tidak. Oh ya Ri, sebenarnya aku masih mau berbincang-bincang tapi aku masih harus mengajar anak lain”. “Nggak apa-apatapi thanksya udah menyempatkan waktunya, see you next time”. “bay……,ibu pulang ya jagoan kecil”. “Ya bu guru hati-hati ya “. Aku melihat keduanya melambaikan tangannya dan aku terus berjalan menjahui keduanya “om, om aku cuka cam bu guru om pacaran aja cama bu guru”. Eh anak kecil nggak boleh bilang pacaran, ntar nggak gede-gede mau”. ” nggak om”. ‘Ya udah pulang yuk, mama udah tunggu kamu”. “yuk om”.
Aku semakin sering melihat choiri menjemput Bimo kecil, jika perhatikan keduanya sama persis, aku dan choiri pun makin sering berjalan berdua, ada-ada saja akal busuknya untuk mengajakku hanya sekedar berbincang-bincang entah apa yang ia pikirkan dan anehnya aku tak menolak sedikit pun karma aku menyukai ajakkannya dengan senang hati, buka hanya teh n restoran itu yang membuatku betah bersama mereka berdua tetapi juga karena melihat pola tingkah Bimokecil yang bercanda dengan omnya yang seperti anak-anak. Aku mulai menyukainya kembali,hatiku bergetar kembali terdengar melodi-melodi cinta dihatiku. Entah apa yang aku pikirkan tapi ini salah tapi ini juga betulapa yang aku rasakan benar-benar cinta dan bukan suatu kesalahan, tapi dilain sisi aku mengkhianati seseorang inilah yang salah, tapi aku tak bisa menyangkal kalau aku jatuh cinta pada dirinya. Tapi rasa itu segera ku hapus dari hatiku.
Hari sebenarnya sudah lama aku menantikannya karena Ramadi akan pulang dari Perancis, rasa seang itu Nampak pada hari ini semuayanampak bahagia.
Tapi pada kenyataannya Ramadi pulang dengan membawa luka dihatiku, saat datang kerumahku ia membawa seorang wanita, entah apa maksudnya karena dia hanya diam membisu saat kutanya kenapa ia tak menjawab aku belum mengenal wanita yang ia bawa karena wanita itu masih diduk diteras”ada apa “Ramadi masih saja diam tingkahnya semakin membuat pikiranku kalut ”kenapa,jawab jangan hanya diam”,lagi-lagi tak menjawab betapa aku terkejut saat ia menyerahkan undangan pernikahan disana tertulis Adi, aku mematung diam tanpa kata-kata “va kamu kenapa, jangan diam kebisuan kamu akan membuat hatiku hancur, aku akan senang jika kamu marah dan memukuli aku, aku masih terlalu cinta kamu va, bahkan cintaku hanya untukmu seorang “. “apa dia orangnya, lalu kenapa kamu lakukan ini “tanyaku lirih”ya, dia yang membuatku terjebak pada apa yang tidak pernah aku lakukan”. “berarti dia hamil”, aku keluar maksudingin mencari orang yang telah merebut cintaku, tapi alangkah terkejutnya aku saat kulihat wajah wanita itu tak lain dia Kirana”kamu lagi, apa kamu ingin lihat aku mati baru kamu akan puas, belum cukupkah semua apa lagi yang kau ingunkan ha jawab”.”Maafkan aku Va, aku tak pernah bermaksud”. ”stop, aku tak butuh penjelasan kalian, tinggalkan rumah ini ?. “aku menjadi semakin terluka, lagi-lagi cintaku direnggut oleh Kirana.
“Kirana sialan, aku benci dia”. Pekikku marah aku ingin sekali membunuhnya tapi aku tak berdaya.
Ternyata Choiri telah lebih dahulu tahu masalah pernikahan itu, dia juga sok ketika tahu calon mempelai laki-laki adalah tunanganku. “aku tahu pasti kamu disini, jangan patah semangat dong wajahmu jelek kalau begitu”. “tahu dari mana kamu aku disini”. “aku masih ingat semua tentang kamu, ayo dong tunjukin pada mereka siapa Nova sebenarnya, buktikan tanpa dia pun kamu setegar dan sekokoh pohon cinta itu”Choiri menunjuk kearah sebatang pohon, semua orang yang datang kesana adalah sepasang kekasih. Oleh sebab itu, pohon itu ditanami pohon cinta, dahulupun aku dan dia pernah datang kemari”. Kamu benar aku harus semangat, makasih ya, “ aku memeluk tubuhnya hingga ia terkejut” sahabat Nova ‘’’’’’’’sahabat’.
Aku tahu yang akan terjadi pada Kirana dan Ramadi mereka akan menikah besok, dan aku akan datang tapi untuk hubunganku dan Choiri biarlah waktu yang akan member jawaban.
2.
MAKAM TAK BERNAMA
Denyut- denyut jantung berdetak diselasar gang- gang sempit, keringat yang jatuh mebasahi tembok – tembok liang lahat, menyatu bersama takbir menyumpat rasa bingung dalam hati, tak ada titik kesedihan yang bercucuran, yang ada hanya cabikan sepenggal luka bersama bungkamnya jenaah dalam keranda.
“ Bunda aku lapar sekali …”
“Sabar ya sayang nanti ibu cari ya adik jangan kemana-mana ya sayang”
“ ya bunda tapi bunda pulang bawa makan buat adik kan”
Bunda hanya menitihkan air mata ketika melihat anaknya yang menangis kelaparan, dipelukknya erat sang anak
“ ibu keluar ya, adik ingat pesan ibu jangan kemana-mana”
“ ya bunda”
“Assalamualaikum”
“Kum calam”
Ibunya berjalan menyusuri selasar gang-gang dengan berharap memperoleh sedikit rezeki untuk sang buah hatinya.
Jauh sudah ia berjalan, hujanpun mulai turun membasahi bumi, wanita tua it uterus berlari dalam kebasahan tangisan buah hatinya selalu terngiang dalam pelupukmatanya. Hingga dingin memaksanya berhenti diteras rumah waraga, terdengar dari dalamrumahnya orang yang meneriakinya
“hai gembel pergi kamu dari sinikamu bisa membuat rumahku menjadi kotor”
“maaf pak saya hanya numpang berteduh”
“Saya bilang pergi kamu dari sini “sambil melempar botol
Botol yang dilempar tepat mengenai kepala wanita tua itusehingga keluar darah segar dari atas kepalanya
“Maaf tuan”
“Pergi”
“Tunggulah sayang ibu akan segera pulang”bisik hatinya
Wanita tua itu terus saja berlari , ia tak tahu lagiharus berteduh dimana,makanan untuk anaknya belum juga didapatkannya ditepisnya rasa dingin dalam tubuhnya.
Satu persatu tong sampah setiap rumah dikais-kaisnya namun tak adasatupun yang dapat dimakan yang ada hanya tulan belulang ikan ataupun ayam itupun sudah bercampur dengan belatung tak tega ia memberikan makanan itu kepada anaknya.
Merasa tak kuasa ia berlari kesebuah halaman rumah rumah penduduk tubuhnya mengigil nampaklah olehnya seorang wanita yang hendakmebuang makanan
“mau dibuang bu”
“ya bu, nasi ini sudah basi, tidak bisa dimakan lagi”jawab wanita itu
“boleh saya memintanya, anakku belum makan dua hari ii “
“tapi ini basi”
“tidak apa bu, masih bisa dikeringkan lalu kumasak lagi, boleh bu”
“ silakan ini”(menumpahkan makanan kedalam baju wanita tua itu yang sudah diangkatnya)
“terimaksih bu”tersenyum terkenang wajah anaknya yang akan senang.
Wanitatua itu pulang dengan hati yang bahagia, wajah sumringahnya membawanya melewati gang-gang menuju rumahnya.
“Sayang, ibu pulang”
Dilihatnya sang bauah hati sedang tertidur lelep diatas lapisan Koran, dikecup keningnya
“ Tidurlah sayang, bermimpilah capailah yang tak kau capai jka kau terbangun nanti, lalu ceritakan pada dunia mimpi indah mu itu”
Segera ia berdiri , ketika ia teringat nasi yang dibawanya, dicucinya nasi basi yang berbau itu lalu diletakkannya ditampan agar bsok mudah menjemurnya.
Ia baringkan lagi tubuh tuanya, disebelah buah hatinya jauh pikirannya melayang hingga lupa ia akan luka diatas kepalanya
“seandainya suamiku tidak meninggal,lalu jika ia tak diusir dari kontrakan dinas, jika ia tak dipecat oleh pabrik jika rumahnya peninggalan otrag tuanya meskipun tak layak huni tidak terbakar, mungkin hiduku tak akan sesulit ini,gubuk kardus dibantaran kali ciliwung”pikirnya
Udara malam yang dingin memaksa mata wanita untuk tertidur
****
Udara pagi menghangatkan udara malam yang memikat mata
“uagh…em….bun…dimana”
“bunda disini sayang, sedang masak makanan “
“asyik..cepat ya bu aku sudah apar………”
“ ya….ini buburnya sudah masak …ayo sini”
Melihat anaknya makan dengan lahap, sudah membuatnya kenyang.
“setelah kau makan ibu akan pergi, mencari uang ibu mau mencari pekerjaan agar kau dapat makan”
“ehm…..ya bu”
“kamu jangan kemana-mana dengar nanti susah mencarimu”
“ya bu aku janji”
“sini ibu ciu keningmu ibu rindu sama anak ibu “memandang wajah anaknya
“bunda”
“ya sudah ibu pergi ingat janjimu’
Dengan semangat wanita tua itu menyusuri rumah ke rumah mencari pekerjaan , setiaprumah diketuknya nmun belum juga didapatnya.
Malang nasib wanita tua itu dijalan ketika ia hendak akan pulang ia tertabrak mobil hingga tubuhnyajauh terjatuh, kepala, wajahnya, terbentur jalan aspal hingga tulang keringnya Nampak dan banyak mengeluarkan darah.
Entah bernyawa atau tidak ia dibawa kerumah sakit oleh orang yang kasihan padanya.
Sudah duahari, anaknya menanti kedatangan sang bunda air matanya mengalir
“ikhsan tinggal dirumah bibi saja, ibumu belum tahu kapan pulangnya”
“tidak bi aku sudah janji pada ibuku aku tidak akan meninggalkna rumah, nantio ibu pulang”
“ ya sudahlah tidurlah ini sudah malam”
“baik Bi”
Ikhsan tidur dengan linangan air mata dan berharap saat terbangun esok disampingnya melihat ibunya.
Semua hancur disaat angansang malaikat kecil harus musnah tersapu banjir akibat luapan kali ditambah hujan yang tak kunjung berhenti hingga membawa tubuhnya.mungilnya diatas makan yang tk bernamadiatas makan sang bunda yang dinanti tak ada satupun yang tahu nama wanita tua itu yangmeninggal dalam kecelakan . Makam tak bernama begitu banyak begitu banyak menyimpanrahasia, di sebelah makamitupun ikhsan dimakamkan tanpa nama.
Semoga ketika ia terbngun dari tidur panjangnya ia bertemu bundanya di surga.
3. HIJAB CINTA
Waktu bergulir menganti hari-hari dari waktu ke waktu mengganti hari menjadi minggu dan seterusnya hinga menjdai tahun.
Kini aku telah tumbuh menjadi wanita muslimah yang berbeda dari gais remaja biasanya, Ku gantungkan hidupku dijalan tuhan aku bahkan dipandang aneh oleh beberapa remaja bisanya.
Pakaianku yang jauh dari modis, diatas kepala ku kenakan khimar yang jauh menutupi menyelubung tubuhku.
Sekalipun orang emmandangku aneh tapi inilah pilihanku
Aku adalah aku yang sekalipun aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh remaja pada umumnya yang masih memiliki hati dan dapat menyukai lawan jenis.
Fathur nama laki-laki itu, begitu indah akhlaknya yang kulihat dari kesederhanaanya kata-katanya, perbuatannya hngga menjemakku dalam perangkap cinta, terlebih pesona wajahnya yang rupawan dan tubuhnya yang tegap bagai bidadara dari surge.
Bagai aliran darah ia mengalir dalam hatiku, tanpa kusadari mata ini liar memandang kearahnya
‘ Astafirullah….Ampunkan aku ya Allah”
“ Kamu memendangnya, hati-hati Aisyah tak baik “Sapa temanku Nabila
“ Ya aku akan lebih berhati-hati’
Setiap kli menatapnya, hatiku bergolak entah apa yang aku rasakan hinga ku tak mampu membendung rasa ini, namun aku taka akan pernah mampu mengakaui rasa ini hingga kujadikan rasa ini sebagai kebutuhan nurani.
Suatu kali ayah member tahuku jika aku, telah dijodohkan pada seorang laki-lakki yang tak pernah aku kenal benama Akbar, secara nurani aku ingin menolak batin ini merintih karena hatiku telah memilih Fathur, tapi sebgai anak aku punya kewajiban untuk membahagiakan orang tuaku maka harus aku penuhi kewajibanku sebgai anak.
Aku mulai menutup hati dan cintaku dari Fathur jauh namun belum dapat aku lakukan.
Perkenalanku dengan Akbar bermulai dibalik hijab hanya suaranya yng melantun indah sejenak suara itu taka sing ditelingaku.
“ Suara Fathur” bisikku dalam hati.
Dengan hati yang lapang ku buka hati untuk Akbar, perkenalanku hanya sebatas mimpi bagiku
“ bagaimana bisa aku akan menikah dengan orangyang pernah aku tahu”
Dengan hati yang lapang ku uka hati untuk Akbar, perkenalanku hana sebatas mimpi bagiku.
Satu bulan setelah masa tasawufku, ia melamarku aku menangis entah apa ini, siapkah aku menjadi layaknya Siti Khadijah bagi suamiku tapi hidupku ku jatuhkan pada pilihan tuhanku”
“ Fathur, semoga kita berjodoh kelak di surga’
Ku dengar orang ramai-ramai dirumah mengumandangkan takbir
“Alhamdulillah’
Kini aku tahu, lamaran itu diterima oleh Ayahku talk lama ku dengar ibu memanggilku
“ Aisyah, keluarlah nak, calon suamimu ingin melihat dirimu”
“ Baik bu’
Sempat butiran-butiran muncul dari mataku
“ Kau kenapa, kau tak ikhlas atas perjodohan ini”
“ tidak bu,aku menangis karena bunsa dan ayah menukahkan aku dengan ahli surge”
Ibuku memeluk tubuh ku” ibu bangga padami, ayolah kita lihat bidadara surgamu”
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan, ku tundukan kepala tak kuasa membendung air mata melepaskan hatiu dari Fathur
Alangkah terkejutnya ketika laki-laki yang dihadapanku adalah Fathur, ia tersenyum memandangku.
Nabila membisikkan sesuatu ditelingaku.
“ Ternyata ia menyukaimu, ia nertanya padaku maka ku katakana yang sebenarnya padanya.”
Aku tersenyum entah perasaan apa tapi inlah bahagia, Fathur berjalan mendekatiku
“ Fahtur Akbari, calon suamimu kini ku jadikan kau halal bagiku’ Senyumnya padaku.
4.
PERGILAH NAHKODA CINTAKU
Mentari menaburkan kehangatan dikala perahu- perahu kecil brlayar menyebrang hamparan samudra luas, ombak menari dalam gulungan samudra membuat ku semakin larut dalam dasar rindu.
Aku berdiri diselasar tembok- tembok penompang jembtan Ampera yang berdiri kokoh dalam balutan keprkasaannya.
Tanpa henti kunanti hari itu, masih ku ingat dengan tajan ketika kepergiaannya hari itu, senja dipelabuhan. Wajahnya kupandang dengan cemas, air mataku mengalir denganlembut dipipiku, hangat begiu yang kurasakan
“ kenapa wajahmu berlinangan dengan buiran mutiara yang brharga., janganlah khawatir kepergiaanku kali inipun akan sama seperti kepulangannku, ayolah tersenyum untukku”
Entah kata-katanya tak dapat membuat batinku merasa tenang, rasa ini membungkamku dalam kebisuan, aku tak dapat mengatakan apapun padanya.
“ Ayolah, Andika berjanji akan segera pulang untuk menemui putri hatiku ayolah tersenumlah”
“ Baiklah, aku akan selalu mengingat janjimu, jangan pernah kau khianati cinta yang kumiliki, karena hatiku inikecil dan mudah terluka”
“ tenanglah, aku tak akan pernah mengkhianati cinta kita’
Aku hanya menatap bersama berlayarnya sang nahkoda cintaku, Aku berdiri ditembok penantian sampai hari in pun aku masih berdiri ditembok penantian ini dengan penuh pengharapan ia akan segera pulang”
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun pun kini telah berganti namun janjnya tak kunjung datang kini aku tahu harapan hanya tinggallah harapan janjinya semakin membuat keadanku terpuruki dalam kebimbangan, hingga datang sepucuk surat yang kunantikan tak utemukan kata –kata yag indah penghapus rasa lelah yang selama ini ku nantikan, menitih air mataku perih mulai menyayat hatiku ketika amplop putih brpitakan merah ku baca. Bukan bahagia yang kuterima tapi sayatan – sayatan luka yang ia bingkai dalam sepucuk surat bersama undangan dan foto pernikahannya engan seorang wanita, yang lebih menyakitkan perasaanku, wanita itu tak asing bagiku ya ia Miranda, adi perempuanku.
Kesedihan membuat aku terpuruk kedalam kesendiian, aku ak tahu harus bebuat apa, semua semakin memuat sakit ktika ku tahu hari pernikahanku yang tak pernah aku ketahui dan setujui akan segera berlangsung. Semua ulah ibu tiriku dengan seenak hainya ia memutuskan sesuatu yang tak pernah aku setujui dan aku inginkan. Keputusannya menjodohkan aku merupakan satu pukulan yng menbuat aku semakin larut dalam kehampaan, hanya karena alasan yang tak masuk akal karena ketakutannya aku akan merebut kembali suami anaknya.dan ayahku tak ammpu berkata apapun untuk menolong anaknya ia hanya duduk dan ikut menyudutkan aku seolah –olah aku hanyalah anak yang membawa masalah. Tapi semua tak mampu terelakkan hingga aku harus pasrah dalam keterpaksaan.
Hari pernikahanku dengan laki-laki yang tak ku kenal ku hiasai dengan cucuran air mata, butiran –butiran luka itu tak mampu ku tampung hingga menetes dengan derasnya. Resmilah sudah aku menjadi istri seorang duda beranak satu dalam balutan pernikahan yang sederhana.
Mas Erwin begitu ku panggil ia dalam keseharian, kini hidupku dipenuhi dengan cinta drinya tapi tetap kehampaan yang aku rasakan, namun hidupku sedikit berwarna dengan tawa dan senyum dari “ Keila “ anak tiriku yang kini menjadi belahan jiwa dalam hidupku.
Setahun telah berlalu kini aku mulai hidup kembali dari kehampaan, namun kebahagian itu terkoyak semenjak kedatangan Andika kembali dalam pelukkan mas Erwin, ternyata kepahitan terus berpihak padaku Andika adalah adik bungsu mas erwin.
Masih kutemukan tatapan cinta untukku dari matanya dan panggilan sayangnya kepadaku aku tak mampu berdusta jika peasaan itupun masih aku miliki untuknya.
“ oh, tuhan apa ini, kenapa kau buat aku jdi begini “ bisik hatiku
“ Apa kabar bun, baik saja”
Mas Erwin sedikitpun tak merasakan kecurigaan kepada kami berdua, hingga ia pergi brsama keila meninggalkan aku dan Andika.
“ Cin, aku tahu marah padaku dan masih memendam cintaku untuknya”
“ Tak perlu kau tahu”
“ Aku tahu…” ( memeluk tubuhku)
“ Lepas………. Kau tak tahu sopan, aku istri kakakmu jadi berlakulah dengan baik”
“kau masih cinta padku, aku tahu kini, aku sangat mencintaimu…..sangat dan sangat mencintaimu”
“Tatap mataku, aku ingin tahu “
“ untukku apa tak perlu lagi”
“ kau takut,( menarik tubuhku )
Aku tak mapu menutupi perasaanku, saat mata indahnya menatapa mataku dengan cinta.
Sekejap hidupku kembali berwarna, cintaku kembali setelah aku merasakan kejenuhan, aku kini bisa bersamanya menatap kembali wajahnya, senyumnya,menghirup setiap hembusan nafasnya. . Merasakan hangatnya cinta yang dahulu pernah hilang kini ku mampu melepasa kesedihan dahulu yang pernah aku rasakan.
5.
KALUNG KEMATIAN
Cahaya sang penguasa malam berpancar menembus kaca-kaca yang berdiri kokoh, bintang-bintang berkerlip menghiasi langit, krlipnya bintang temani gelapnya malam menjadi kekasih setia bagi dunia impian hingga datangnyapangeran fajar, udara malam mencekik rapuhkan sendi-sendi dan tulang-belulang, tabuhan suara si panggu semakin membuat langit malam hitam semakin kelam.
Aku hanya diam duduk mematung bertemankan kesunyian di penjara ini, aku tak mampu lagi memandang malam bertabur bintang-bintang derajatku tak memberikan hak untuk itu, karena tubuhku terkukung dibalik jeruji-jeruji besi bertahta kalung kematian. Dingin dan kotor dinding yang berdebu penghias penjara ini bagaikan teman sejatiku, orang-orang akan merasa jijik melihat sekitarku tapi tidak lagi untukku ini bagaikan istana untukku.
Sejak kecil hingga sekarang orang-orang memandangku dengan sebelah mata, aku terlahir bagai anak tiri dunia selalu menjadi korban dan terlupa, tak satupun yang dapat aku jadilan tempat pelipur lara berbagi suka dan duka jika itu terjadi maka para orang tua akan mengutuk anaknya. Masa kecilku berlalu tanpa makna bahkan aku lupa apa aku pernah merasakan indahnya menjadi seorang balita. Mereka tak pernah memberikan setiap hak yang aku punya yang aku miliki hanya cemooh serta cacian yang terus saja dating dan pergi silih berganti dalam hidupku hanya karena aku terlahir dari rahim seorang wanita tunasusila.
“Itulah dunia pikirku penuh dengan ketidak adilan. Kesalahan dan dosa hanyalah milik kami benar-benar kejam,oh…tuhan masih adakah keadilan untukku tak layakkah aku nikmati hidup layanya orang- orang biasa “pikirku keluh
Tak ada sosok ayah dalam hidupku namun aku mengenal sosok ayah dari ibuku, semua kebutuhan ibu yang menanggung namun tubuh ibuku kini telah lemah, wajah cantiknya kini dipenuhi dengan gari- garis keriput. Kecantikan dan usianya ikut larut termakan zaman, para pengerat itupun tak tertarik lagi pada ibu, hingga tak pernah kudengar lagi rintihan-rintihan perih dari ibuku dikala para pengerat itu menikmati setiaplekuk tubuh ibuku yang dahulu amat sering berdendang, terpaksa ibu membanting harga pasarannya agar aku bisa tetap makan.
Beberapa kali pengerat itu mengunjungi tempat tingalku entah dengan maksud apa aku tak tahuketika pulang sekolah aku melihat ibu kelelahan layaknyahabis olahraga. Beberapa kali pula pengerat itu mencoba memeluk dan merangkul tubuhku ibuku hanya tersenyumdan memintaku segera masuk menjauh tiap kali tangan jalang it menyentuh kultku, bibirku keluh ukaku pucat itu yang selau aku rasakan. Tampakolehku mata liar mereka seakan mencium aroma harumdaging muda, mereka kini mengincarku.
Tapi mengapa tak ada yang salah akupun tak ingin memilih kehidupan ini hanya saja tuhan telah memilihkan yang terbaik untuk kaumnya.Akupun tak pernah menimpakan semua kesalahan pada ibuku. Kemiskinan ulah serakah para penguasa yang tamak itu membuat adik-adik ibuku menjerit tangis kelaparan mengiang ditelinga yang memaksanya memutar haluan hidupnya. Bukan kesalahn ibu melahirkan aku semua ini ulah para pengerat-pengerat itu yang mengasah pisau- pisau fitnah dan mereka hunuskan dosa-dosa kedalam tulang-tulang rusukku lalu mereka pula yag menghinakan atas dosa-dosa yang mereka perbuat.
“ mau kemana kau anak manis, sini duduk dipangkuan paman nanti paman ajarkan kenikmatan padamu. Hei Mir berapa tarif yag kau berikan agar aku dapat menyantap daging muda itu” tanya seorang pelanggan ibu.
“ ah tuan bisa saja biar saya saja yang menggantikannya “ jawab ibuku lembut. Matanya mengisyarat aku untuk segera aku masuk dan menjauh. Aku menuruti perintah ibuku.
“ Aku bosan …..aku mau daging muda itu, sini kau manis “ tangannya menarik tubuhku hingga jatuh di pangkuannya. Ia merangkulku dengan kuat sekalipun aku merontah berkali-kali tapi aku tak juga dapat membebaskan diri.
“ kasihan dia tuan, mohon anda lepaskan”
Pengerat itupun tak jua membenaskan aku, ia mendorong ibuu hingga teratuh
“Hai, lepaskan dia, annaku bukanlah aku jangan kau sentuh dia atau kau akan merasakan akibatnya”teriak ibuku lantan.
Pengeat itu melemparkan sejumlah uang kemuka ibu
“ ambil ………….wanita hina’ bentaknya.
“ kami miskin tapi tidak sehina kau, sungguh kau manusia laknat hatimu telah mati bersama ketamakan dan kesombongan dalam dosamu, jangn kau kira kau bisa membeli setiap keinginanmu. “
Pengerat itu melepaskan rangkulannya dariku lalu menjambak rambut ibuku, aku mendorongnya hingga terjatuh aku tak menyangka ia akan mencekiku hingga aku sulit bernafas ibuku makin tesulut emosinya
‘lepaskan anakku kami memang pelayan tetapi bukan budak nafsu, tak pantas kalian dikrarkan sebagai raja, kalian tak lebih dari skeda sampah”
Cekikkan itu terlepas dari leherku namun beralih pada ibuku, melihat ibuku memekik kesakitan aku berlari kedapur tanpa ragu aku meraih sebuah pisau dengan yakin kutancapkan kedada pengerat itu sekalipun hukuman akan aku peroleh., teriakkan kesakitan dari mulut pengerat iu mengundang orang-orang untuk datang. Dari tangnku mengalir darah kotor yang mungkin mengisi tubuhku dengan wajah bisu senyum simpul mengembang dipipiku sengaja atau tidak aku merasa puas.
Gang- gang sempit serta rumah yang berdempetan membuat kabar berhembus dengan mudah, penghuni rumah sususn lainnya brlari pontang-panting melihat kejadian mereka dan beberapa lainnya bertepuk tangan tanpa arti. Rumahku diujung gang terasa sesak padat oleh manusia. Seorang penghuninya menghubungi poisi agar segera datang menyelidiki kasusku ini
“Lari…nak lari….biar ibu yang menggantikan mu hidupmu masih panjang “
Ku dengar teiakkan ibuku tapi tak tahu kenapa kakiku terasa beku “ mau lari kemana percuma”bisik hatiku.
Tak lama berselang berdengug di telingaku aungan mobil-mobil polisi, tak perlu waktu yang panjang mereka menyidukku dengan darah masih berlumuran ditanganku, aku tahu sorot mata itu seakan akan ingin menghakimiku bulat-bulat.
“ya………akulah pelakunya” tanpa ketakukan aku berkata menatap pada pria berseragam karena aku merasa tak bersalah sepenuhnya.
“ Anda kami tahan “ mereka menyeretku seakanmenemukan emas dalam harta karun membawaku kedalam jeruji besi.
Aku tahu hukuman apa yang akan ku terima sekalipun ibu menyewa pangeran berubah hitam dalam pengadilan, hukum kini tak berarti apa- apa bagi tikus miliyoner mereka hanya mendapat denda atau kurungan semata namun bagi atau sekedar ayam kampung mati babak belur atau mati membusuk dalam penjara. Apalagi dengan kasusku ini yang korbannya adalah orang yang berduit yang dapat membeli segalanya denan mudah, tak perlu tawar menawar bagi mereka.
Kurasakan mati dalam kehidupan. Tubuhku keluh, otot-otot sendi serta tulangku telah membeku bersama dinginnya tembok- tembok penjara ini hanya menunggu ketukan plu hakim aku harus rasakan nikmatnya sejuta tanya serta tatapan penghinaan yang tak kunjung berhenti bahkan tak jarang legam membekas di tubuhku.
Hingga persidangan iupun terjadi tapi keajaiban keadilan yng kuharapkan tak kunjung datang, persidangan tak butuh waktu lama hingga hakim mengetuk palunya dan menjatuhkan aku dalamkalung kematian
“ aku hanya berdiri diambang kau dan kematianmu, aku malu tak dapat membelamu hingga kau terlepas dari jerat kalung kematian, maafkan aku…………”
“ Aku tak kecewa , tak usah kau hibur aku karena aku tak takut mati, biarlah aku mati dengan kebanggaan dari pada hidup dalam kenistaan dan penghinaan dengan begitu aku akan menghadap tuhan dengan wajah yang menengadah bukan tertunduk karena malu, hanya saja aku bingung pada nasib ibuku yang telah tua”
“ Sungguh kau telanjangi aku dengan keberanianmu, tenanglah ibumu akan aku masukkan dalam panti jompo sebagai tanda maafku tenanglah kau” balas pangeran berjubah hitam.
Aku mengucapkan terimakasih pada isarat mataku karena seorang petugas membawaku dalam istana gelap.
Dibalik jeruji besi dingin aku duduk termenung menghitung hari kedatangan raksasa hitam bertubuh besar akan memakaikan kalung kematian kedalam leherku atau menanti keajaiban datang hanya cahaya sang penguasa malam dan bintang harapan menemaniku dalam kehampaan .
Langganan:
Postingan (Atom)